Hadapi Pasar Bebas, Pertanian Indonesia Butuh Efisiensi Usaha Tani

Selasa, 16 Januari 2018 - 22:48 WIB
Hadapi Pasar Bebas,...
Hadapi Pasar Bebas, Pertanian Indonesia Butuh Efisiensi Usaha Tani
A A A
JAKARTA - Seiring berlakunya pasar bebas atau globalisasi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA), arus barang termasuk produk pertanian seperti bahan pangan pokok akan semakin bebas dan mudah memasuki wilayah Indonesia. Hal itu bisa menjadi ancaman bagi petani lokal dan berpotensi menimbulkan ketergantungan pangan kepada asing.

Ketua Umun Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Jenderal TNI (Purn) Moeldoko mengatakan, kunci menghadapi globalisasi tersebut adalah efisiensi usaha tani. Potensi ancaman tersebut dapat dihadapi dengan langkah-langkah yang bersifat mikro.

Di antaranya, meningkatkan jumlah produksi sehingga tercapai kecukupan pangan nasional dan meningkatkan efisiensi biaya produksi sehingga produk pertanian memiliki daya saing harga. "Selain itu, meningkatkan kualitas sehingga produk pertanian memiliki daya saing kompetitif serta mengupayakan kontinuitas suplai pangan," ujar Moeldoko dalam keterangan resminya di Jakarta, Selasa (16/1/2017).

Diterangkan lebih lanjut secara makro, misalnya, perlunya regulasi sektor pertanian dan perlindungan yang lebih baik kepada petani termasuk perlindungan dari berbagai bencana alam. Serta pengembangan sarana dan prasarana pertanian termasuk pengembangan industri alsintan dalam negeri.

Menurut Moeldoko, kebijakan pemerintah yang mengutamakan keberpihakan kepada petani telah berdampak positif. Yakni, menggeser kegiatan usaha pertanian dari sistem tradisional menuju pertanian yang modern.

"Salah satunya dengan meningkatkan fasilitasi bantuan alat mesin pertanian (alsintan) secara signifikan. Modernisasi pertanian dapat dilihat pada penggunaan metode budidaya yang lebih baik dan efektif," terang mantan Panglima TNI ini.

Ia menambahkan, modernisasi juga harus melingkupi aspek pascapanen. Misalnya, sistem panen, pengolahan hasil dan pembuatan kemasan modern dan aman, tata niaga yang efisien, serta terus menerus menyempurnakan kebijakan pemerintah yang kondusif bagi kegiatan usaha pertanian.

"Modernisasi pertanian juga mesti mampu menjamin ketersediaan suplai berdasarkan penataan masa panen dan teknik pengemasan hasil yang baik. Modernisasi pertanian juga termasuk skim pembiayaan pada petani dan sistem penjaminan usaha tani melalui asuransi, sehingga petani mampu berproduksi dengan optimal," tutur Moeldoko.

Sebagai informasi, Kementerian Pertanian (Kementan) melihat pentingnya penerapan alsintan modern agar petani lebih berdaya saing menghadapi pasar bebas. Pada 2010-2014, jumlah bantuan alsintan yang dibagikan hanya kurang dari 50 ribu unit. Namun, pada 2015–2017, jumlah bantuan alsintan berbagai jenis yang dibagikan pemerintah kepada petani berjumlah lebih dari 321 ribu unit atau naik lebih dari 600%.

Adapun batuan yang diberikan alsintan dari berbagai jenis. Misalnya, traktor roda dua dan empat, transplanter, combine harvester, pompa air, dryer, power thresher, dan corn sheller.

Menurut data Kementan, produksi GKG pada 2015 mencapai 75,55 juta ton. Setelah petani menggalakkan penggunaan alsintan, produksi meningkat 4,66% dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 70,85 juta ton. Pada 2016 lalu, produksi GKG mencapai 79 juta ton. Pada 2017 ini, produksi GKG sebesar 85,5 juta ton atau setara 55,5 juta ton beras.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Prabowo Subianto Jadi...
Prabowo Subianto Jadi Ketua Dewan Pembina Pemuda Tani Indonesia
HKTI Jabar: Produksi...
HKTI Jabar: Produksi Pertanian Meningkat, Kesejahteraan Petani Jalan di Tempat
KTNA Sebut Struktur...
KTNA Sebut Struktur Penyuluhan Pertanian Tidak Optimal
Gerakan Penciptaan 10...
Gerakan Penciptaan 10 Juta Petani Digital Dideklarasikan
Revitalisasi Organisasi,...
Revitalisasi Organisasi, Langkah HKTI Diharapkan Lebih Akseleratif
Kepemimpinan Moeldoko...
Kepemimpinan Moeldoko di HKTI Dinilai Berikan Banyak Kemajuan
Berita Terkini
IHSG Pagi Ini Dibuka...
IHSG Pagi Ini Dibuka Hijau Sesaat, Lalu Ambruk Lebih dari 1%
25 menit yang lalu
Dirut BRI Hery Gunardi:...
Dirut BRI Hery Gunardi: Adopsi AI Jadi Kunci Perbankan Pertahankan Nasabah
49 menit yang lalu
Kebijakan Tambang RI...
Kebijakan Tambang RI Berubah-ubah, Investor China Mulai Alihkan Investasi Nikel ke Afrika
1 jam yang lalu
Saatnya Bayar Tagihan...
Saatnya Bayar Tagihan PBB-P2, Ada Diskon 7,5% hingga 31 Juli 2026
2 jam yang lalu
Barat Remehkan Blokade...
Barat Remehkan Blokade Selat Hormuz, Pasokan Minyak Dunia di Titik Kritis
2 jam yang lalu
MDLA Luncurkan Armada...
MDLA Luncurkan Armada Mobil Listrik, Dorong Transformasi Distribusi Rendah Emisi
5 jam yang lalu
Infografis
Sniper Udara Paling...
'Sniper Udara' Paling Ditakuti Dunia Perkuat Pertahanan Udara Indonesia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved