Empat Jurus Sri Mulyani Bawa RI Keluar dari Middle Income Trap

Sabtu, 03 Februari 2018 - 22:09 WIB
Empat Jurus Sri Mulyani...
Empat Jurus Sri Mulyani Bawa RI Keluar dari Middle Income Trap
A A A
DEPOK - Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani mengatakan, sejak 1985 Indonesia telah masuk dalam kelompok negara berpendatan menengah (middle income trap). Untuk terbebas dari kondisi ini, Indonesia hanya memiliki waktu hingga 2027 untuk mencapai pendapatan per kapita di atas USD12.476.

Untuk mencapai hal tersebut, pertumbuhan per kapita Indonesia harus mencapai rata-rata 5,42% per tahun. Menurutnya, sejak krisis ekonomi pada 1998, pertumbuhan per kapita Indonesia belum mencapai setinggi 5,42%.

"Bila pertumbuhan pendapatan per kapita rata-rata Indonesia hanya 3,5% per tahun, maka Indonesia diperkirakan akan keluar dari perangkap pendapatan menengah pada 2035. Ini berarti visi 100 tahun Indonesia merdeka sulit diraih," katanya saat orasi ilmiahnya di hadapan wisudawan Universitas Indonesia (UI) semester gasal 2018/2019 di Balairung, Sabtu (3/2/2018).

Menurutnya, ada empat faktor yang memberikan peluang bagi Indonesia untuk keluar dari perangkap pendapatan menengah. Pertama, bonus demografi, di mana terdapat koridor waktu 30 tahun ketika rasio ketergantungan mencapai tingkat minumum.

Pada 2013-2020, populasi angkatan kerja diperkirakan bertambah 14,8 juta orang. Jumlahnya akan mencapai 189 juta orang pada 2020. "Manusia adalah aset utama sebuah bangsa. Peningkatan jumlah angkatan kerja yang berpendidikan dan mahir teknologi informasi merupakan aset potensial untuk memacu peningkatan produktivitas," jelasnya.

Kedua, kata Sri adalah urbanisasi. Pertumbuhan populasi perkotaan Indonesia termasuk yang tercepat di dunia, yaitu 4% per tahun. Diperkirakan sebanyak 68% (perkiraan Bank Dunia) atau 60% (perkiraan BPS) penduduk Indonesia akan menghuni wilayah perkotaan pada 2025.

Pertumbuhan penduduk perkotaan yang tinggi ini akan meningkatkan permintaan akan perumahan, konsumsi serta mendorong peningkatan investasi dan produktivitas. "Sehingga, diperlukan infrastruktur yang tepat, efektif dan efisien untuk mengakomodasi urbanisasi ini," imbuhnya.

Faktor peluang ketiga, harga komoditi global yang melemah yang memberikan kesempatan bagi Indonesia untuk memacu diversifikasi ekonomi. Harga komoditi yang tinggi pada beberapa dasawarsa lalu mengakibatkan nilai ekspor komoditi mencapai 65% dari total eskpor sehingga nilai ekspor komoditi berada di atas nilai ekspor industri pengolahan.

"Dengan kebijakan yang tepat, terutama dalam mengatasi kendala investasi di sektor industri pengolagan, anjloknya harga komoditi merupakan suatu berkah tersembunyi," katanya.

Keempat, perubahan ekonomi RRT yang mendorong kenaikan upah buruh di China yang menciptakan peluang berkembangnya investasi pada sektor padat karya. Karena itu, diperlukan kebijakan tepat untuk meningkatkan kualitas dan keahlian tenaga kerja serta kebijakan meningkatkan kualitas dan relevansi lulusan sekolah kejuruan maupun lulusan universitas.

"Untuk menghindari middle income trap, Indonesia harus mencapai pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan inklusi dengan faktor kunci adalah produktivitas sumber daya manusia, infrastruktur andal, jaring pengaman sosial yang kuat untuk melindungi mereka yang rentan dan miskin, dan institusi publik yang efisian dan bersih serta sektor swasta yang tumbuh secara sehat dan kompetitif," jelas dia.
(izz)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Hitung-hitungan Sri...
Hitung-hitungan Sri Mulyani: Ekonomi RI 2020 Minus 1,7%
Geber Vaksinasi, Sri...
Geber Vaksinasi, Sri Mulyani Pede Ekonomi Meroket 5,3%
Proyeksi Pertumbuhan...
Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi RI 2020 Dipangkas, Menkeu: Lebih Baik dari Malaysia
Nilai Ekonomi Digital...
Nilai Ekonomi Digital RI Ditargetkan Capai Rp1.831 Triliun di 2025
Sri Mulyani: Ekonomi...
Sri Mulyani: Ekonomi Indonesia Terus Menunjukkan Resiliensi
Sri Mulyani Wanti-wanti...
Sri Mulyani Wanti-wanti Kinerja Impresif Ekonomi RI Dihantui Pelemahan Global
Berita Terkini
Respons Purbaya soal...
Respons Purbaya soal Tren Sell Indonesia: Kita Tak Sedang Menuju Seperti 1998 Lagi
5 jam yang lalu
MNC Sekuritas & KSPM...
MNC Sekuritas & KSPM GI Universitas Pelita Bangsa Gelar Seminar Pasar Modal
5 jam yang lalu
Ukir Sejarah, BPS-PT...
Ukir Sejarah, BPS-PT Pos Indonesia Luncurkan Sampul Peringatan Edisi Khusus Sensus Ekonomi 2026
6 jam yang lalu
K-SIGN KKP di Rote Ndao...
K-SIGN KKP di Rote Ndao NTT, RI Bersiap Swasembada Garam Industri
8 jam yang lalu
Diserbu 3.800 Pengunjung,...
Diserbu 3.800 Pengunjung, PINDEX 2026 Disambut Antusias
8 jam yang lalu
Purbaya Desak Seluruh...
Purbaya Desak Seluruh Transaksi di Pelabuhan Pakai Rupiah: Kalau Ada Dolar, Saya Hajar!
8 jam yang lalu
Infografis
Bocoran 4 Calon Menkeu...
Bocoran 4 Calon Menkeu Pilihan Prabowo untuk Gantikan Sri Mulyani
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved