Teknologi RAS Mulai Dimanfaatkan

Rabu, 21 Februari 2018 - 11:09 WIB
Teknologi RAS Mulai...
Teknologi RAS Mulai Dimanfaatkan
A A A
YOGYAKARTA - Inovasi teknologi dirintis Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dalam pembenihan ikan skala rakyat.

Metode baru ini diharapkan bisa meningkatkan produktivitas di tengah peningkatan tantangan global yakni perubahan iklim dan lingkungan. Intervensi melalui penerapan inovasi teknologi yang adaptif ini mulai ditularkan secara masif ke masyarakat.

Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti mengungkapkan, pemerintah berusaha menggenjot produksi benih ikan dengan cara memberikan dukungan berupa pembangunan ke Unit Pembenihan Rakyat (UPR) berupa teknologi pembenihan intensif sistem Recirculating Aquaculture System (RAS).

”Dukungan pembangunan UPR sistem RAS diharapkan akan mampu naikan produktivitas secara signifikan. Saya minta dukungan ini dimanfaatkan sebaik-baiknya,” katanya saat melakukan kunjungan kerja (kunker) ke UPR di Desa Bokasen, Cangkringan, Sleman, DIY, kemarin.

RAS merupakan sistem budi daya ikan secara intensif dengan menggunakan infrastruktur yang memungkinkan pemanfaatan air secara terus-menerus (resirkulasi air) seperti fisika filter, biologi filter, ultraviolet (UV), oksigen generator untuk mengontrol dan menstabilkan kondisi lingkungan ikan, mengurangi jumlah penggunaan air, dan meningkatkan tingkat kelulushidupan ikan.

Prinsip dasar RAS ya itu memanfaatkan air media pemeliharaan secara berulang-ulang dengan mengendalikan beberapa indikator kualitas air agar tetap pada kondisi prima.

Susi mengapresiasi keberhasilan pengembangan kawasan perikanan budidaya, khususnya peran pemberdayaan masyarakat yang dilakukan kelompok pembudidaya ikan di Cangkringan. Kawasan di lereng Gunung Merapi ini dinilai layak untuk menjadi percontohan pengembangan ekonomi lokal bagi daerah lain.

”Kawasan Mina Ngremboko ini menjadi potret keberhasilan pemberdayaan ekonomi kerakyatan berbasis perikanan budi daya,” ujarnya. Dia menambahkan, saat ini kebutuhan ikan akan terus naik seiring tingkat konsumsi ikan masyarakat yang memperlihatkan tren kenaikan dari tahun ke tahun, yakni dari 36 kg/kapita/tahun menjadi 43 kg/kapita/tahun pada 2017.

Direktur Jenderal Perikanan Budi Daya di KKP Slamet Soebjakto menjelaskan, keunggulan sistem RAS jika di bandingkan dengan sistem konvensional yakni mampu menghasilkan produktivitas yang jauh lebih tinggi.

Padat tebar nila mampu di genjot hingga 5.000 ekor/m3, sedangkan padat tebar pada sistem konvensional hanya mencapai 50 ekor/m2. Dengan penerapan sistem RAS ini, produktvitas bisa digenjot hingga 100 kali lipat dibanding sistem konvensional. (Inda Susanti/ Priyo Setyawan)
(nfl)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
KKP Segel Lahan Proyek...
KKP Segel Lahan Proyek Reklamasi di Batam
Menteri KKP Kasih Bocoran...
Menteri KKP Kasih Bocoran 3 Potensi Investasi ke Pelaku Usaha
KKP Workshop Penyuluh...
KKP Workshop Penyuluh Perikanan untuk Kembangkan Informasi
Disrupsi Data Perikanan
Disrupsi Data Perikanan
Kementerian Kelautan...
Kementerian Kelautan dan Perikanan Berhentikan Dirjen Perikanan Tangkap
KKP Pertegas Komitmen...
KKP Pertegas Komitmen Perkuat Pengawasan pada Momentum Hari Internasional Anti IUU Fishing
Berita Terkini
BPDP Dukung Jakarta...
BPDP Dukung Jakarta Fiscal Forum 2026, Perkuat Kolaborasi untuk Pembangunan Berkelanjutan
27 menit yang lalu
Pertamina Siap Turunkan...
Pertamina Siap Turunkan Harga BBM secara Bertahap Mulai Awal Juli
57 menit yang lalu
Bukan Utang, Purbaya...
Bukan Utang, Purbaya Tegaskan Pendanaan AIIB Rp303 Triliun Murni Investasi
1 jam yang lalu
Rumah BUMN SIG di Rembang...
Rumah BUMN SIG di Rembang Catat Transaksi Rp6,9 Miliar
1 jam yang lalu
MSIN Putuskan Tak Bagi...
MSIN Putuskan Tak Bagi Dividen, Fokus Perkuat Platform Digital
1 jam yang lalu
UATAS dan AFPI Ajak...
UATAS dan AFPI Ajak Mahasiswa Bijak Kelola Keuangan
1 jam yang lalu
Infografis
Gandeng Huawei dan Xiaomi,...
Gandeng Huawei dan Xiaomi, Toyota Menyerah pada Raksasa Teknologi China?
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved