IHSG Dibuka Anjlok ke Zona Merah, Bursa Asia Tergelincir
Selasa, 03 April 2018 - 09:46 WIB
IHSG Dibuka Anjlok ke Zona Merah, Bursa Asia Tergelincir
A
A
A
JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan hari ini, Selasa (3/4/2018) dibuka anjlok ke zona merah setelah kemarin sempat memberikan sinyal membaik. IHSG sesi pagi turun 37,18 poin atau setara dengan 0,60% ke level 6.203,39.
Pada perdagangan kemarin, bursa saham Tanah Air berakhir bertambah 51,58 poin atau setara dengan 0,83% menjadi 6.240,57. Sepanjang perdagangan awal pekan, bursa saham Tanah Air sukses menjaga cacatan positif.
Sektor saham dalam negeri pada sesi pagi hari ini hampir secara keseluruhan ambruk di zona merah dipimpin aneka industri yang kehilangan hingga 0,75%. Selanjutnya industri dasar dan infrastruktur masing-masing anjlok 0,61% dan 0,54%.
Adapun nilai transaksi bursa Indonesia pada sesi pembukaan hari ini tercatat Rp24 miliar dengan 12 juta saham diperdagangkan pada sesi pagi dan transaksi bersih asing mencapai minus Rp2,49 miliar dengan aksi jual asing sebesar Rp11,50 miliar dan aksi beli asing mencapai Rp9,0 miliar. Tercatat 0 saham naik, 35 turun dan 9 stagnan.
Beberapa saham yang menguat di antaranya PT Jaya Trishindo Tbk (HELI) bertambah Rp98 menjadi Rp490, PT Perdana Karya Perkasa Tbk. (PKPK) meningkat Rp32 ke posisi Rp238 dan PT Tempo Scan Pacific Tbk. (TSPC) naik Rp15 menjadi Rp1.635.
Selain itu saham yang melemah yakni PT Gudang Garam Tbk. (GGRM) menyusut Rp400 ke level Rp73.000, PT Matahari Department Store Tbk. (LPPF) berkurang Rp175 menjadi Rp10.400 serta PT Pelat Timah Nusantara Tbk. (NIKL) turun Rp90 menjadi Rp4.000.
Di sisi lain pasar saham Asia tergelincir seperti dilansir CNBC hari ini, indeks Nikkei Jepang memimpin kerugian paling dalam di kawasan ketika investor mencerna aksi jual yang terlihat di tengah penurunan saham teknologi dan kekhawatiran terkait perdagangan. Nikkei tercatat turun 0,79% ketika indeks Topix juga menyusut 0,49% terseret kinerja buruk sektor migas.
Saham teknologi turut diperdagangkan lebih rendah, di antara seperti Tokyo Electron dan Advantest yang masing-masing turun 1,41% serta 3,17%. Sedangkan indeks Kospi di Korea Selatan lebih rendah 0,82% saat saham teknologi membebani indeks yang lebih luas, seperti Samsung Electronics terpuruk 2,02%.
Raihan negatif juga terjadi pada bursa saham daratan China, saat indeks Hang Seng lebih rendagh 0,45% karena saham pengembang properti dan teknologi berada di bawah tekanan. Selanjutnya komposit Shanghai tergelincir 0,78% dan komposit Shenzhen berkurang 0,86%.
Pada perdagangan kemarin, bursa saham Tanah Air berakhir bertambah 51,58 poin atau setara dengan 0,83% menjadi 6.240,57. Sepanjang perdagangan awal pekan, bursa saham Tanah Air sukses menjaga cacatan positif.
Sektor saham dalam negeri pada sesi pagi hari ini hampir secara keseluruhan ambruk di zona merah dipimpin aneka industri yang kehilangan hingga 0,75%. Selanjutnya industri dasar dan infrastruktur masing-masing anjlok 0,61% dan 0,54%.
Adapun nilai transaksi bursa Indonesia pada sesi pembukaan hari ini tercatat Rp24 miliar dengan 12 juta saham diperdagangkan pada sesi pagi dan transaksi bersih asing mencapai minus Rp2,49 miliar dengan aksi jual asing sebesar Rp11,50 miliar dan aksi beli asing mencapai Rp9,0 miliar. Tercatat 0 saham naik, 35 turun dan 9 stagnan.
Beberapa saham yang menguat di antaranya PT Jaya Trishindo Tbk (HELI) bertambah Rp98 menjadi Rp490, PT Perdana Karya Perkasa Tbk. (PKPK) meningkat Rp32 ke posisi Rp238 dan PT Tempo Scan Pacific Tbk. (TSPC) naik Rp15 menjadi Rp1.635.
Selain itu saham yang melemah yakni PT Gudang Garam Tbk. (GGRM) menyusut Rp400 ke level Rp73.000, PT Matahari Department Store Tbk. (LPPF) berkurang Rp175 menjadi Rp10.400 serta PT Pelat Timah Nusantara Tbk. (NIKL) turun Rp90 menjadi Rp4.000.
Di sisi lain pasar saham Asia tergelincir seperti dilansir CNBC hari ini, indeks Nikkei Jepang memimpin kerugian paling dalam di kawasan ketika investor mencerna aksi jual yang terlihat di tengah penurunan saham teknologi dan kekhawatiran terkait perdagangan. Nikkei tercatat turun 0,79% ketika indeks Topix juga menyusut 0,49% terseret kinerja buruk sektor migas.
Saham teknologi turut diperdagangkan lebih rendah, di antara seperti Tokyo Electron dan Advantest yang masing-masing turun 1,41% serta 3,17%. Sedangkan indeks Kospi di Korea Selatan lebih rendah 0,82% saat saham teknologi membebani indeks yang lebih luas, seperti Samsung Electronics terpuruk 2,02%.
Raihan negatif juga terjadi pada bursa saham daratan China, saat indeks Hang Seng lebih rendagh 0,45% karena saham pengembang properti dan teknologi berada di bawah tekanan. Selanjutnya komposit Shanghai tergelincir 0,78% dan komposit Shenzhen berkurang 0,86%.
(akr)
Lihat Juga :