Rupiah Masih Akan Terbebani Laju Kenaikan USD
Selasa, 24 April 2018 - 09:26 WIB
Rupiah Masih Akan Terbebani Laju Kenaikan USD
A
A
A
JAKARTA - Pelemahan yang kembali terjadi pada rupiah cenderung diakibatkan adanya imbas dari pergerakan mata uang USD seiring efek psikologis yang ditimbulkan. Peluang pelemahan pun masih dimungkinkan terjadi seiring meningkatnya laju USD.
"Tetap cermati dan waspada terhadap sentimen yang membuat laju rupiah kembali tertahan kenaikannya," ujar Analis Senior Binaartha Sekuritas Reza Priyambada di Jakarta, Selasa (24/4/2018).
Rupiah diestimasikan Reza akan bergerak dengan kisaran di level support Rp13.896/USD dan resisten Rp13.878/USD. Sementara, masih adanya imbas kenaikan laju USD seiring kenaikan imbal hasil obligasi AS memberikan sentimen negatif pada pergerakan rupiah yang kembali berada di zona merah.
Efek psikologis dari para pelaku pasar terhadap meningkatnya inflasi AS seiring kenaikan harga minyak mentah dan sejumlah komoditas lainnya diperkirakan akan memicu The Fed menaikan suku bunganya sehingga berimbas pada terapresiasinya USD.
"Sementara itu, dari dalam negeri BI (Bank Indonesia) telah melakukan sejumlah intervensi untuk menjaga rupiah sehingga tidak mendekati level Rp14.000/USD. Meski demikian, sejumlah faktor eksternal masih lebih mendominasi," pungkasnya.
"Tetap cermati dan waspada terhadap sentimen yang membuat laju rupiah kembali tertahan kenaikannya," ujar Analis Senior Binaartha Sekuritas Reza Priyambada di Jakarta, Selasa (24/4/2018).
Rupiah diestimasikan Reza akan bergerak dengan kisaran di level support Rp13.896/USD dan resisten Rp13.878/USD. Sementara, masih adanya imbas kenaikan laju USD seiring kenaikan imbal hasil obligasi AS memberikan sentimen negatif pada pergerakan rupiah yang kembali berada di zona merah.
Efek psikologis dari para pelaku pasar terhadap meningkatnya inflasi AS seiring kenaikan harga minyak mentah dan sejumlah komoditas lainnya diperkirakan akan memicu The Fed menaikan suku bunganya sehingga berimbas pada terapresiasinya USD.
"Sementara itu, dari dalam negeri BI (Bank Indonesia) telah melakukan sejumlah intervensi untuk menjaga rupiah sehingga tidak mendekati level Rp14.000/USD. Meski demikian, sejumlah faktor eksternal masih lebih mendominasi," pungkasnya.
(akr)