PGN Diuntungkan dengan Akuisisi 51% Saham Pertagas

Rabu, 04 Juli 2018 - 17:01 WIB
PGN Diuntungkan dengan Akuisisi 51% Saham Pertagas
PGN Diuntungkan dengan Akuisisi 51% Saham Pertagas
A A A
JAKARTA - PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) diuntungkan dengan mengakuisisi 51% saham PT Pertamina Gas (Pertagas) senilai Rp16,6 triliun. Kekhawatiran investor terkait harga akuisisi yang dinilai terlalu mahal disebabkan karena pelaku pasar tidak memperoleh informasi yang lengkap.

Analis Senior PT Samuel Sekuritas Indonesia Arandi Ariantara menjelaskan bahwa akuisisi Pertagas oleh PGN telah melalui Kantor Jasa Penilai Publik (KJPP) dengan menggunakan dua pendekatan dalam menghitung harga saham Pertagas yang dibeli PGN.

"Mereka pakai valuasi Discounted Cash Flow dan membandingkan harga saham dengan industri sejenis di luar negeri. Selain itu juga dihitung Futured Cash Flow atau potensi pendapatan Pertagas dalam 10-20 tahun ke depan. Itu semua digabungkan sebagai harga Pertagas," kata Arandi, di Jakarta, Rabu (4/7/2018).

Menurutnya, valuasi harga yang dibuat KJPP tersebut merupakan harga yang wajar. Menurutnya, harga valuasi memang seharusnya berada di atas harga buku karena menghitung potensi pendapatan suatu perusahaan di masa mendatang.

"Wajar kalau KJPP memberikan penilaian harga untuk Pertagas lebih mahal. Karena dalam future cash flow yang dihitung, ada asumsi EBITDA perusahaan tersebut dalam 10 sampai 20 tahun ke depan. Jangan hanya melihat book value dari nilai aset dan ekuitas Pertagas yang ada di laporan keuangan terdahulu saja, karena tidak merepresentasikan harga saat ini," jelasnya.

Disamping itu, lanjutnya, keputusan manajemen PGN untuk mengakuisisi 51% saham Pertagas sudah tepat. Meskipun angka tersebut tidak sesuai dengan ekspektasi pelaku pasar yang berharap jumlah saham yang diakuisisi mencapai 100%.

Menurutnya harga saham PGN memang sempat anjlok, karena pasar menilai harganya terlalu mahal. Padahal kalau dilihat lebih jauh, akuisisi tersebut hanya dilakukan untuk saham Pertagas sendiri dan Pertagas Niaga yang memang memiliki kontribusi terbesar dalam konsolidasian pendapatan Pertagas. Tidak termasuk anak usaha lain yang kontribusinya kecil.

Dalam aksi korporasi kemarin, imbuhnya, Manajemen PGN memang tidak membeli anak usaha Pertagas yang memiliki bisnis inti berbeda dengan perusahaan yaitu PT Perta Arun Gas, PT Perta Daya Gas, PT Perta Samtan Gas dan PT Perta Kalimantan Gas.

"Yang dibeli itu memang yang kontribusinya terbesar dan sesuai dengan bisnis inti PGN yaitu Pertagas sendiri dan Pertagas Niaga. Kalau dibilang kemahalan, mungkin karena investor berpikir anak usaha Pertagas yang lain ini berkontribusi banyak, padahal tidak," jelasnya.

Menurut Arandi, dalam paparan direksi PGN terus merundingkan skema pembelian sisa 49% saham Pertagas dari Pertamina. Salah satu opsi yang dikemukakan adalah share swap saham PGN pada anak usahanya di bidang hulu Saka Energi Indonesia dengan sisa saham Pertagas.

"Tidak semua ekuitas PGN digunakan kalau yang dibeli hanya 51% saham Pertagas. Artinya dia masih punya kas untuk meneruskan kegiatan investasi. Selain itu kas penting buat modal kerja sehingga masih ada alokasi untuk hal lain," tandas dia.
(fjo)
Copyright ©2024 SINDOnews.com
All Rights Reserved
berita/ rendering in 0.4285 seconds (0.1#10.140)