Pemerintah Jamin APBN Sehat dan Tersalurkan Secara Baik
Kamis, 26 Juli 2018 - 08:35 WIB
Pemerintah Jamin APBN Sehat dan Tersalurkan Secara Baik
A
A
A
JAKARTA - Pemerintah menjamin Anggaran Pembiayaan dan Belanja Negara (APBN) dalam kondisi sehat berkat strategi perencanaan yang baik. Pemerintah juga memastikan penyaluran keuangan negara secara konsisten ditujukan untuk mencapai tujuan pembangunan ekonomi Indonesia, yakni masyarakat yang adil dan makmur.
Untuk meningkatkan pemahaman APBN dan tujuan pembangunan ekonomi Indonesia pada generasi muda, khususnya mahasiswa sebagai agen perubahan di masyarakat, Program Magister Sains dan Doktor Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (UGM) awal pekan ini menggelar Kuliah Umum bertema "Membangun APBN yang Kuat dan Generasi Muda yang Cerdas APBN".
Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Luky Alfirman yang menjadi pembicara dalam kuliah umum tersebut berharap dengan memahami APBN, mahasiswa memahami bahwa pemerintah secara konsisten mewujudkan cita-cita mengentaskan kemiskinan, mengurangi ketimpangan dan meningkatkan produktivitas dan daya saing.
Luky juga memaparkan optimisme Indonesia di masa mendatang berkat pencapaian sebagai salah satu negara dengan perekonomian terbesar dengan pertumbuhan tertinggi. Hingga kuartal I/2018, pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) Indonesia mencapai 5,06% atau lebih tinggi dibandingkan kuartal I/2017 yang menandakan membaiknya aktivitas produksi.
"Terjadi peningkatan kontribusi ekonomi domestik yang berasal dari investasi yang artinya ekonomi dalam negeri yang lebih produktif. Hal ini didukung kontribusi investasi yang meningkat sangat signifikan seiring pembangunan infrastruktur fisik yang tetap berjalan dan pertumbuhan barang modal yang terus membaik," papar Dirjen Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Luky Alfirman dalam keterangan tertulis, Kamis (26/7/2018).
Kondisi ini menurutnya membuat berbagai institusi dunia memproyeksikan pertumbuhan Indonesia akan meningkat pada 2018. Faktor pendorong tersebut antara lain konsumsi yang masih terjaga, inflasi yang terkendali, investasi yang tumbuh stabil, dukungan akselerasi infrastruktur, perbaikan iklim usaha dan paket-paket kebijakan, ekspor dan impor yang terus membaik didorong peningkatan permintaan dan harga komoditas
"Tidak diabaikan adanya dorongan dari beberapa kegiatan penting berskala besar antara lain Asian Games 2018 di Jakarta dan Palembang, Pilkada Serentak, dan IMF-World Bank Annual Meeting di Bali," imbuhnya.
Meski demikian, lanjut dia, tetap ada tantangan seperti ketidakpastian perekonomian global, moderasi China dan kerentanan pasar keuangan, normalisasi kebijakan moneter negara maju, geopolitik dan perubahan iklim. Selain itu, terdapat tantangan pembangunan infrastruktur Indonesia yang masih di bawah rata-rata negara yang setara, kualitas SDM hingga riset dan teknologi yang masih tertinggal dibanding negara lain.
"Untuk itu pemerintah merancang APBN sebagai instrumen untuk menciptakan pertumbuhan, kesejahteraan dan pemerataan yang mendorong investasi SDM dan infrastruktur yang merupakan hal vital di era industri 4.0," jelasnya.
Penguasaan tentang struktur ekonomi menurutnya sangat penting karena bisa menjadi dasar dalam menentukan kebijakan. Dengan itu, kata dia, mahasiswa bisa memahami kebijakan ekonomi yang diambil, tak terkecuali kebijakan utang yang akhir-akhir ini banyak menuai kritik.
Luky menjelaskan, utang dilakukan pemerintah untuk dapat menjalankan fungsi penting dan mendesak dengan lebih cepat tanpa penundaan. Utang, tegas dia, dapat meningkatkam pertumbuhan ekonomi karena dalam kondisi perekonomian melamban, stimulus fiskal melalui utang dapat mendorong pertumbuhan.
"Pertumbuhan itu dapat mendorong peningkatan penerimaan pajak di masa mendatang, untuk dapat kembali membayar utang tersebut. Utang juga untuk investasi sebagai pemerataan tanggung jawab antargenerasi dalam penyediaan aset," paparnya.
Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis UGM Yogyakarta Eko Suwardi mengatakan, mahasiswa sebagai kaum muda intelektual harus memiliki pemahaman yang cukup mengenai APBN, terkait dengan pengelolaan maupun sumber anggarannya. Itu penting agar pada saat terjun ke lapangan, baik ketika kelak sebagai pengusaha yang menjadi rekanan pemerintah atau sebagai pelaksana di pemerintahan, mereka dapat memanfaatkan APBN sebaik-baiknya.
"Karena dengan cerdas APBN, pasti akan memanfaatkan APBN dengan sebaik-baiknya, ketika sudah terjun ke lapangan baik di pemerintahan maupun swasta," tandasnya.
Untuk meningkatkan pemahaman APBN dan tujuan pembangunan ekonomi Indonesia pada generasi muda, khususnya mahasiswa sebagai agen perubahan di masyarakat, Program Magister Sains dan Doktor Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (UGM) awal pekan ini menggelar Kuliah Umum bertema "Membangun APBN yang Kuat dan Generasi Muda yang Cerdas APBN".
Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Luky Alfirman yang menjadi pembicara dalam kuliah umum tersebut berharap dengan memahami APBN, mahasiswa memahami bahwa pemerintah secara konsisten mewujudkan cita-cita mengentaskan kemiskinan, mengurangi ketimpangan dan meningkatkan produktivitas dan daya saing.
Luky juga memaparkan optimisme Indonesia di masa mendatang berkat pencapaian sebagai salah satu negara dengan perekonomian terbesar dengan pertumbuhan tertinggi. Hingga kuartal I/2018, pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) Indonesia mencapai 5,06% atau lebih tinggi dibandingkan kuartal I/2017 yang menandakan membaiknya aktivitas produksi.
"Terjadi peningkatan kontribusi ekonomi domestik yang berasal dari investasi yang artinya ekonomi dalam negeri yang lebih produktif. Hal ini didukung kontribusi investasi yang meningkat sangat signifikan seiring pembangunan infrastruktur fisik yang tetap berjalan dan pertumbuhan barang modal yang terus membaik," papar Dirjen Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Luky Alfirman dalam keterangan tertulis, Kamis (26/7/2018).
Kondisi ini menurutnya membuat berbagai institusi dunia memproyeksikan pertumbuhan Indonesia akan meningkat pada 2018. Faktor pendorong tersebut antara lain konsumsi yang masih terjaga, inflasi yang terkendali, investasi yang tumbuh stabil, dukungan akselerasi infrastruktur, perbaikan iklim usaha dan paket-paket kebijakan, ekspor dan impor yang terus membaik didorong peningkatan permintaan dan harga komoditas
"Tidak diabaikan adanya dorongan dari beberapa kegiatan penting berskala besar antara lain Asian Games 2018 di Jakarta dan Palembang, Pilkada Serentak, dan IMF-World Bank Annual Meeting di Bali," imbuhnya.
Meski demikian, lanjut dia, tetap ada tantangan seperti ketidakpastian perekonomian global, moderasi China dan kerentanan pasar keuangan, normalisasi kebijakan moneter negara maju, geopolitik dan perubahan iklim. Selain itu, terdapat tantangan pembangunan infrastruktur Indonesia yang masih di bawah rata-rata negara yang setara, kualitas SDM hingga riset dan teknologi yang masih tertinggal dibanding negara lain.
"Untuk itu pemerintah merancang APBN sebagai instrumen untuk menciptakan pertumbuhan, kesejahteraan dan pemerataan yang mendorong investasi SDM dan infrastruktur yang merupakan hal vital di era industri 4.0," jelasnya.
Penguasaan tentang struktur ekonomi menurutnya sangat penting karena bisa menjadi dasar dalam menentukan kebijakan. Dengan itu, kata dia, mahasiswa bisa memahami kebijakan ekonomi yang diambil, tak terkecuali kebijakan utang yang akhir-akhir ini banyak menuai kritik.
Luky menjelaskan, utang dilakukan pemerintah untuk dapat menjalankan fungsi penting dan mendesak dengan lebih cepat tanpa penundaan. Utang, tegas dia, dapat meningkatkam pertumbuhan ekonomi karena dalam kondisi perekonomian melamban, stimulus fiskal melalui utang dapat mendorong pertumbuhan.
"Pertumbuhan itu dapat mendorong peningkatan penerimaan pajak di masa mendatang, untuk dapat kembali membayar utang tersebut. Utang juga untuk investasi sebagai pemerataan tanggung jawab antargenerasi dalam penyediaan aset," paparnya.
Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis UGM Yogyakarta Eko Suwardi mengatakan, mahasiswa sebagai kaum muda intelektual harus memiliki pemahaman yang cukup mengenai APBN, terkait dengan pengelolaan maupun sumber anggarannya. Itu penting agar pada saat terjun ke lapangan, baik ketika kelak sebagai pengusaha yang menjadi rekanan pemerintah atau sebagai pelaksana di pemerintahan, mereka dapat memanfaatkan APBN sebaik-baiknya.
"Karena dengan cerdas APBN, pasti akan memanfaatkan APBN dengan sebaik-baiknya, ketika sudah terjun ke lapangan baik di pemerintahan maupun swasta," tandasnya.
(fjo)
Lihat Juga :