Telur dan Daging Ayam Penyumbang Terbesar Inflasi Juli 2018

Rabu, 01 Agustus 2018 - 16:05 WIB
Telur dan Daging Ayam...
Telur dan Daging Ayam Penyumbang Terbesar Inflasi Juli 2018
A A A
JAKARTA - Inflasi Juli 2018 terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh naiknya sebagian besar indeks kelompok pengeluaran. Tercatat kelompok bahan makanan yang mengalami inflasi sebesar 0,86% dimana kelompok ini pada Juli 2018 memberikan sumbangan inflasi sebesar 0,18%.

"Ada dua komoditas utama yang menyumbang inflasi paling besar, yaitu telur ayam ras dan daging ayam ras yang bulan Juli memang terjadi kenaikan harga," jelas Kepala BPS Suhariyanto di Jakarta, Rabu (1/8/2018).

Dia memaparkan, kenaikan telur ayam ras selama sebulan terakhir memberikan andil inflasi sebesar 0,08%. Kenaikan teluar ayam ras ini terjadi di 72 kota IHK dan di beberapa kota seperti Banjarmasin bahkan mencapai 21%. "Komoditas kedua yang memberikan andil besar pada inflasi adalah daging ayam ras di mana andil inflasi sebesar 0,07%. Setelah itu disusul beberapa komoditas bumbu-bumbuan dan sayur," paparnya.

Komoditas bahan makanan lain yang menyumbang inflasi Juli 2018 adalah cabai rawit sebesar 0,03%, kacang panjang sebesar 0,02%, bayam, jengkol, kangkung, tomat sayur, jeruk, dan tomat buah masing-masing sebesar 0,01% persen. Sementara komoditas yang dominan memberikan andil deflasi, yaitu bawang merah sebesar 0,05%, cabai merah sebesar 0,02%, daging sapi dan ikan segar masing-masing sebesar 0,01%.

(Baca Juga: Inflasi Juli 2018 Capai 0,28% dengan Tertinggi di Sorong )

Suhariyanto menuturkan, kelompok selanjutnya yang menyumbang inflasi terbesar kedua adalah kelompok pendidikan, rekreasi, dan olahraga. Kelompok ini mengalami inflasi sebesar 0,83% dan memberikan sumbangan inflasi sebesar 0,07%.

"Ini disebabkan karena Juli ini tahun ajaran baru. Komoditas yang dominan memberikan andil inflasi, yaitu uang sekolah SD dan uang sekolah SMA masing-masing sebesar 0,02%, dan uang sekolah SMP sebesar 0,01%. Nanti biasanya untuk universitas ter-cover sesudahnya," tuturnya.

Kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau mengalami inflasi sebesar 0,45% dan memberikan sumbangan inflasi sebesar 0,09%. Komoditas yang dominan memberikan andil inflasi, yaitu ketupat/lontong sayur, mie, nasi dengan lauk, rokok kretek, dan rokok kretek fiter masing-masing sebesar 0,01%.

Kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar mengalami inflasi sebesar 0,16% dan memberikan sumbangan inflasi sebesar 0,04%. Komoditas yang dominan memberikan andil inflasi, yaitu tarif sewa rumah dan upah pembantu rumah tangga masing-masing sebesar 0,01%.

Sedangkan kelompok sandang mengalami inflasi sebesar 0,29% dan memberikan sumbangan inflasi sebesar 0,02%. Sementara kelompok kesehatan mengalami inflasi sebesar 0,27% dan memberikan andil inflasi sebesar 0,01%.

Suhariyanto menambahkan, untuk kelompok transportasi, komunikasi, dan jasa keuangan mengalami deflasi sebesar 0,65% dan memberikan andil deflasi sebesar 0,13%. Komoditas yang dominan memberikan andil deflasii, yaitu tarif angkutan udara sebesar 0,14%, tarif angkutan antar kota sebesar 0,09%, dan tarif kereta api sebesar 0,01%. Sementara komoditas yang dominan memberikan andil inflasi, yaitu bensin sebesar 0,06% dan tarif pulsa ponsel sebesar 0,04%.

"Permintaan transportasi yang tinggi pada bulan Lebaran sekarang kembali normal sehingga penurunan angkutan udara ini menyebabkan deflasi. Masih ada dua komoditas yang mengalami kenaikan, yaitu harga bensi dan tarif pulsa ponsel terutama mengenai paket internet," jelasnya.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
BPS Catat Inflasi November...
BPS Catat Inflasi November Sebesar 0,38 persen
Usai Deflasi Beruntun,...
Usai Deflasi Beruntun, Bulan Oktober 2020 Kembali Inflasi 0,07%
Inflasi September 2025...
Inflasi September 2025 Capai 0,21%, Berikut Komoditas Pendorongnya
BPS Catat Inflasi 0,28...
BPS Catat Inflasi 0,28 Persen pada November 2020
BPS: Deflasi Juni Cetak...
BPS: Deflasi Juni Cetak Rekor Tertinggi Perdana di 2021
Deflasi Kembali Terjadi...
Deflasi Kembali Terjadi di Agustus 2020, BPS Catat Sebesar 0,05%
Berita Terkini
Masyarakat Diminta Tak...
Masyarakat Diminta Tak Panik Respons Kondisi Ekonomi RI, Ekonom: Jaga Optimisme Berdasar Data
2 jam yang lalu
Program CIMB Niaga Sustainability...
Program CIMB Niaga Sustainability Journalism Fellowship Memilih 20 Jurnalis
3 jam yang lalu
Purbaya Belum Percaya...
Purbaya Belum Percaya Daya Beli Mulai Lesu di Warteg: Nanti Saya Cek Lagi
3 jam yang lalu
LPPOM Dorong Konsep...
LPPOM Dorong Konsep Green Halal untuk Perkuat Industri Berkelanjutan
3 jam yang lalu
Bitget Stocks 2.0 Hadir...
Bitget Stocks 2.0 Hadir Menghubungkan Ekuitas Berbentuk Token dengan Likuiditas Nyata
4 jam yang lalu
LPPOM Paparkan Peluang...
LPPOM Paparkan Peluang Industri Halal Indonesia di Tokyo
4 jam yang lalu
Infografis
Trionda, Bola Robotik...
Trionda, Bola Robotik Piala Dunia 2026 yang Punya Baterai dan Sensor VAR
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved