GP Ansor: Pemerintah Harus Segera Antisipasi Pelemahan Rupiah

Kamis, 06 September 2018 - 14:24 WIB
GP Ansor: Pemerintah...
GP Ansor: Pemerintah Harus Segera Antisipasi Pelemahan Rupiah
A A A
JAKARTA - Rupiah semakin terpuruk. Pada penutupan pasar perdagangan Rabu (5/9) lalu, rupiah berada di level Rp 14.930. Bahkan hari ini, Kamis (6/9) kurs jual dolar AS di beberapa bank besar sudah menyentuh angka Rp15.000!.Presiden Joko Widodo mengatakan bahwa melemahnya rupiah lebih disebabkan faktor eksternal, baik karena kenaikan suku bunga di AS, perang dagang AS dan China, termasuk krisis di Turki dan Argentina. Pemerintah, lanjut Jokowi, akan melakukan koordinasi di sektor fiskal, moneter, industri, dan pelaku-pelaku usaha. Pihaknya akan meningkatkan investasi dan ekspor sehingga bisa menyelesaikan defisit transaksi berjalan. Pelemahan rupiah terhadap dolar AS juga menjadi sorotan Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor. GP Ansor bahkan membahasnya secara khusus di dalam rapat pimpinan.Ketua Umum GP Ansor Yaqut Cholil Qoumas mengapresiasi rencana pemerintah yang akan mengambil sejumlah langkah untuk mengatasi pelemahan kurs seperti dikatakan Presiden Jokowi. Menurut Yaqut, meski sebenarnya pelemahan nilai tukar rupiah sudah diprediksi sebelumnya dengan melihat ekspektasi pasar terhadap kenaikan bunga acuan bank sentral AS, Fed Fund Rate (FFR) yang naik beberapa kali sejauh ini, termasuk adanya permasalah perang dagang AS dan Cina, namun pelemahan rupiah terkesan kurang diantisipasi pemerintah."Pemerintah harus memberi perhatian ekstra terhadap terpuruknya rupiah dan segera mengambil langkah-langkah penanganannya secara tepat, mencari solusi yang benar-benar solutif,” tegas Gus Yaqut, sapaan akrabnya, dalam keterangan resminya, Kamis (6/9).GP Ansor, lanjut Gus Yaqut, melihat secara ekonomi internasional ada tiga hal yang harus menjadi landasan pemerintah dalam mencari solusi atas krisis ini. Pertama, industrializing industry, yakni industri yang melahirkan industri lagi seperti membuat mesin, teknologi informasi. Artinya, jangan hanya fokus pada industri yang membuat produk habis pakai saja. Kedua, jelasnya, adalah export promotion. Maksudnya, industri-industri unggulan dan produk-produk unggulan harus menjadi prioritas untuk diekspor. “Bahkan dilakukan promosi besar-besar terhadap produk yang laku dan layak dijual di luar negeri,” imbuh Gus Yaqut.Yang ketiga, lanjut Gus Yaqut, adalah import substitution. “Lakukan mapping mana produk-produk impor yang bisa disubstitusi, mana yang tidak bisa dengan melihat kapasitas industrinya. Dulu, misalnya, menjual pesawat Nurtanio untuk ditukar dengan beras. Terhadap produk seperti ini kalua perlu pemerintah kasih insentif. Tapi jika belum bisa disubstitusi, maka harus mempertimbangkan substitusi impornya dalam konteks global supply chain,” terangnya.Yang juga penting dilakukan, Gus Yaqut mengatakan, pemerintah harus memikirkan skenario terburuknya agar situasi terburuk tidak terjadi. Maksudnya, jangan hanya berpikir sebatas pada pelemahan rupiah saja. Gus Yaqut memberi contoh, Tunisia sebelum krisis pada 2011 dinilai sebagai negara paling kompetitif di Afrika oleh WEF (World Economic Forum). Menurut IMF, Tunisia disebut sebagai contoh paling baik yang perlu ditiru sebagai negara paling aman di Afrika untuk investasi sehingga tidak termasuk negara gagal versi Failed State Index, di mana saat itu Cina dan Indonesia yang statusnya justru dinilai sudah bahaya.''Tapi semua itu ternyata hanya asumsi saja. Tunisia ternyata menjadi negara pertama yang terlibas Arab Spring. Setelah Tunisia kemudian Mesir yang dalam kondisi baik-baik saja. Sebab itu harus waspada terhadap kemungkinan adanya ‘penumpang gelap’. Misalnya gerakan politik yang menawarkan ide khilafah sebagai solusi mengatasi krisis. Kondisi Tunisia ini mirip dengan Indonesia yang belakangan marak dengan kelompok yang menawarkan ide khilafah. Mesir di era Hosni Mubarak ada gerakan Kefaya, mirip dengan gerakan Jokowi Cukup Satu Periode atau #2019GantiPresiden,” tandas Gus Yaqut.Karena itu, lanjut Gus Yaqut, yang harus diselesaikan adalah masalah ekonomi dulu daripada menjaga citra pemerintah saja. ''Saya lihat di media sosial banyak narasi yang kontraproduktif dari nitizen. Misalnya, membandingkan kondisi pelemahan kurs saat ini dengan kondisi pemerintahan sebelumnya. Ini justru tidak menguntungkan pemerintah. Atau imbauan-imbauan, ''Bantu pemerintah demi rupiah, tunda jalan-jalan ke luar negeri, beli produk lokal, tunda beli barang-barang mewah, pakai transportasi publik, dan lain-lain,”ujarnya.Menurut Gus Yaqut, sudah semestinya tugas mengatasi gejolak rupiah itu pemerintah. Rakyat hanya membantu. Jangan jadikan rakyat yang hanya bersifat membantu kemudian menjadi aktor utama dalam penyelesaian pelemahan rupiah.''Ok, rakyat akan melakukan imbauan tersebut, tapi pemerintah juga harus menunjukkan langkah konkret mengatasi masalah ini. Pemerintah juga harus merangkul semua eleman bangsa untuk bersama diajak mencari solusi dari krisis ini,”cetus Gus Yaqut.Gus Yaqut mengatakan, rakyat menunggu langkah konkret pemerintah dalam mencari solusi atas anjloknya rupiah karena dampaknya sangat besar. Yaqut tidak bisa membayangkan jika rupiah sampai melompat ke angka Rp20.000. Saat ini saja dunia usaha dan rakyat sudah berat. Harga-harga pasti akan naik. Harga produk yang berbahan baku impor juga melambung. ''Tempe mahal karena kedelainya diimpor. Beras, garam juga impor,”pungkasnya.
(aww)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Nilai Tukar Rupiah Melemah
Nilai Tukar Rupiah Melemah
Balik Arah, Rupiah Menguat...
Balik Arah, Rupiah Menguat Tipis ke Rp16.251 Sore Ini
Nilai Tukar Rupiah Melemah...
Nilai Tukar Rupiah Melemah ke Level Rp15.036
Rupiah Tertekan Meski...
Rupiah Tertekan Meski Indeks Dolar AS Melemah
Grant Thornton Indonesia...
Grant Thornton Indonesia Jabarkan Tiga Cara Mudah Bantu Pemerintah Perkuat Nilai Tukar Rupiah
Nilai Tukar Rupiah Terhadap...
Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dolar AS Melemah ke Level 16.284
Berita Terkini
LPPOM Dorong Konsep...
LPPOM Dorong Konsep Green Halal untuk Perkuat Industri Berkelanjutan
1 menit yang lalu
Bitget Stocks 2.0 Hadir...
Bitget Stocks 2.0 Hadir Menghubungkan Ekuitas Berbentuk Token dengan Likuiditas Nyata
7 menit yang lalu
LPPOM Paparkan Peluang...
LPPOM Paparkan Peluang Industri Halal Indonesia di Tokyo
12 menit yang lalu
KKP Pertegas Komitmen...
KKP Pertegas Komitmen Perkuat Pengawasan pada Momentum Hari Internasional Anti IUU Fishing
12 menit yang lalu
Perkuat Daya Saing Industri...
Perkuat Daya Saing Industri Wellness dan Beauty Nasional Mendunia, BRI Dukung BWB Expo 2026 di Bali
1 jam yang lalu
Menkeu Purbaya Tegaskan...
Menkeu Purbaya Tegaskan Fiskal Bukan Tumbal Agar Ekonomi RI Tumbuh Cepat
2 jam yang lalu
Infografis
Pemerintah Tetapkan...
Pemerintah Tetapkan 25 Hari Libur dan Cuti Bersama di Tahun 2026
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved