Dolar Perkasa, Rupiah Berakhir Masih Berkutat di Posisi Rp15.200/USD
Selasa, 16 Oktober 2018 - 17:22 WIB
Dolar Perkasa, Rupiah Berakhir Masih Berkutat di Posisi Rp15.200/USD
A
A
A
JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada akhir perdagangan, Selasa (16/10/2018) ditutup membaik, meskipun masih berkutat di kisaran level Rp15.200/USD. Rupiah terlihat sulit keluar dari zona merah, ketika mata uang Negeri Paman Sam -julukan AS- tampil perkasa terhadap mata uang negera-negara berkembang.
Data Yahoo Finance menunjukkan rupiah di sesi perdagangan sore mulai pulih ke level Rp15.195/USD atau menanjak naik dari sebelumnya Rp15.215/USD. Rupiah sepanjang hari ini bergerak pada level Rp15.170 hingga Rp15.233/USD.
Menurut data Bloomberg rupiah balim melawan hingga merangkak lebih tinggi menjadi Rp15.200/USD untuk menjadi sinyal perbaikan dibandingkan awal pekan kemarin Rp15.220/USD. Posisi tersebut menguat dengan pergerakan harian rupiah di kisaran Rp15.192-Rp15.231/USD.
Sementara, data SINDOnews bersumber dari Limas, rupiah sore ini juga terlihat stagnan pada posisi Rp15.220/USD atau tidak beranjak dari sebelumnya. Posisi tersebut masih menunjukkan mata uang Indonesia terus mengalami tekanan.
Berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) BI, rupiah tertahan pada jalur hijau di level Rp15.206/USD. Posisi ini memperlihatkan rupiah sedikit menguat dibandingkan posisi perdagangan sebelumnya Rp15.246/USD.
Sementara itu seperti dilansir Reuters hari ini, dolar sedikit lebih tinggi pada perdagangan Selasa, ketika imbal hasil Treasury AS meningkat untuk mendorong investor membeli greenback setelah penurunan baru-baru ini karena bullish tentang prospek jangka pendek mata uang negara berkembang.
Saat dolar telah berjuang untuk memperpanjang kenaikan terhadap euro dan poundsterling dalam beberapa hari terakhir, dolar juga menguat terhadap mitra pasar negera berkembang dan menyematkan yuan China ke level terendah dua bulan.
"Pandangan dolar terus menjadi kuat terhadap mata uang negara berkembang karena kenaikan suku bunga AS seperti yang diperkirakan dan konflik perdagangan antara AS dan China," kata Piotr Matys, ahli strategi mata uang di Rabobank di London.
Terhadap enam mata uang utama yang menjadi pesaingnya, dolar naik lebih tinggi 0,1% pada level 95,13. Raihan ini setelah jatuh mencapai 1,2% dalam delapan sesi terakhir hingga menyentuh posisi terendah dalam tiga pekan.
Tapi indeks mata uang emerging market muncul dengan masih bertahan di dekat level terendah dalam satu setengah tahun. Hal tersebut menunjukkan perbedaan kinerja dolar terhadap mata uang negara-negara berkembang.
Di sisi lain euro masih berada di kisaran 1,1573 terhadap USD untuk melawan greenback setelah kabinet Italia pada Senin menandatangani anggaran 2019. Sedangkan Yen Jepang melemah sebesar 0,19% pada hari ini ke posisi 111,97 setelah sempat mencapai level tertinggi satu bulan 111,61 pada hari Senin.
Data Yahoo Finance menunjukkan rupiah di sesi perdagangan sore mulai pulih ke level Rp15.195/USD atau menanjak naik dari sebelumnya Rp15.215/USD. Rupiah sepanjang hari ini bergerak pada level Rp15.170 hingga Rp15.233/USD.
Menurut data Bloomberg rupiah balim melawan hingga merangkak lebih tinggi menjadi Rp15.200/USD untuk menjadi sinyal perbaikan dibandingkan awal pekan kemarin Rp15.220/USD. Posisi tersebut menguat dengan pergerakan harian rupiah di kisaran Rp15.192-Rp15.231/USD.
Sementara, data SINDOnews bersumber dari Limas, rupiah sore ini juga terlihat stagnan pada posisi Rp15.220/USD atau tidak beranjak dari sebelumnya. Posisi tersebut masih menunjukkan mata uang Indonesia terus mengalami tekanan.
Berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) BI, rupiah tertahan pada jalur hijau di level Rp15.206/USD. Posisi ini memperlihatkan rupiah sedikit menguat dibandingkan posisi perdagangan sebelumnya Rp15.246/USD.
Sementara itu seperti dilansir Reuters hari ini, dolar sedikit lebih tinggi pada perdagangan Selasa, ketika imbal hasil Treasury AS meningkat untuk mendorong investor membeli greenback setelah penurunan baru-baru ini karena bullish tentang prospek jangka pendek mata uang negara berkembang.
Saat dolar telah berjuang untuk memperpanjang kenaikan terhadap euro dan poundsterling dalam beberapa hari terakhir, dolar juga menguat terhadap mitra pasar negera berkembang dan menyematkan yuan China ke level terendah dua bulan.
"Pandangan dolar terus menjadi kuat terhadap mata uang negara berkembang karena kenaikan suku bunga AS seperti yang diperkirakan dan konflik perdagangan antara AS dan China," kata Piotr Matys, ahli strategi mata uang di Rabobank di London.
Terhadap enam mata uang utama yang menjadi pesaingnya, dolar naik lebih tinggi 0,1% pada level 95,13. Raihan ini setelah jatuh mencapai 1,2% dalam delapan sesi terakhir hingga menyentuh posisi terendah dalam tiga pekan.
Tapi indeks mata uang emerging market muncul dengan masih bertahan di dekat level terendah dalam satu setengah tahun. Hal tersebut menunjukkan perbedaan kinerja dolar terhadap mata uang negara-negara berkembang.
Di sisi lain euro masih berada di kisaran 1,1573 terhadap USD untuk melawan greenback setelah kabinet Italia pada Senin menandatangani anggaran 2019. Sedangkan Yen Jepang melemah sebesar 0,19% pada hari ini ke posisi 111,97 setelah sempat mencapai level tertinggi satu bulan 111,61 pada hari Senin.
(akr)