Pelebaran Jalur Puncak Dilanjutkan

Selasa, 13 November 2018 - 09:32 WIB
Pelebaran Jalur Puncak...
Pelebaran Jalur Puncak Dilanjutkan
A A A
BOGOR - Pelebaran jalur Puncak mulai dari Gadog (Ciawi) hingga Megamendung-Cisarua untuk mengurai kemacetan dilanjutkan. Proyek ini ditargetkan selesai pada tahun 2019 mendatang.

Kepala Satuan Kerja Metropolitan II Jakarta Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Haryatno Sihombing menyebutkan proyek tersebut mulai dikerjakan pekan ini.

Menurutnya, proyek yang dibiayai Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) senilai Rp73 miliar itu sempat terganjal karena ada beberapa tahapan proses seperti penandatanganan kontrak pemenang tendernya baru dilakukan.

“Semoga tidak ada halangan lagi sehingga pekan ini proyek sudah bisa berjalan,” kata Haryatno, di Balai Kota Bogor, beberapa waktu lalu.

Haryantno menyebutkan pelebaran jalan akan dilakukan di beberapa titik lokasi yang sempat dipadati pedagang kaki lima (PKL) mulai dari Gadog, Ciawi, hingga perbatasan Cianjur.

“Jadi, tidak sepanjang jalur itu dilebarkan, tapi hanya di beberapa spot yang sebelumnya dipakai para PKL atau berdiri bangunan liar dan di titik yang dimungkinkan untuk dilebarkan,” katanya.

Selain pelebaran jalan, pihaknya juga ikut menyediakan lahan untuk rest area di dekat kawasan Agrowisata Gunung Mas, Cisarua, seluas 5 hektare. “Rest area itu rencananya untuk menampung para PKL yang tergusur karena adanya pelebaran jalan tersebut. Untuk pembangunan fisik rest area dananya dari Pemkab Bogor,” tuturnya.

Kepala Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional VI Kementerian PUPR Hari Suko Setiono mengatakan, proyek pelebaran jalur Puncak ini memang meleset dari jadwal semula. Ini karena menunggu tersedianya lahan yang akan dijadikan untuk tempat relokasi para pedagang.

“Memang agak lambat sih, tapi masalahnya di lahan. Kalau pelebaran, kan memanfaatkan lahan yang sempat ditempati pedagang,” ujarnya. Tak hanya itu, ia menjelaskan tahun lalu ada beberapa titik di jalur Puncak juga sempat dilebarkan.

Namun, pelebaran sekitar 1 meter di sisi kiri dan kanan jalan belum mampu mengurai kemacetan di kawasan tersebut. Pihaknya berharap pelebaran ruas jalan untuk yang kedua kalinya serta adanya rest area diharapkan efektif mengurangi kemacetan dan mencegah kecelakaan di kawasan Puncak.

“Kalau di situ sudah diatasi, apalagi adanya jalan Tol Bocimi yang nantinya dilanjutkan sampai Padalarang. Saya yakin kawasan Puncak tidak akan macet lagi,” ungkapnya.

Kementerian PUPR sejak Juli 2018 juga tengah membangun duplikat jembatan Gadog sebagai bagian dari solusi kemacetan dan antisipasi kecelakaan yang kerap terjadi di lokasi tersebut.

Berdasarkan pantauan dan keterangan, pelaksanaan proyek ini progresnya sudah mencapai lebih dari 45% dan ditargetkan awal tahun depan sudah bisa difungsikan.

“Saat ini proses pengecoran backwallyang merupakan dudukan girder sudah dilakukan. Setelah itu baru pengerjaan headwall setelah girdermasuk,” kata Kepala Pelaksana Proyek Metropolitan II Jakarta Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Samsul Anam.

Menurutnya, pengerjaan backwall memakan waktu empat hingga lima hari. Sebab, dibutuhkan teknik khusus dalam pema sa ng an girderpada backwall. Selain itu, butuh kehati-hatian mengingat jalur tersebut menjadi jalur aktif, baik menuju Puncak maupun sebaliknya.

Sementara untuk pemasangan headwall, sambung dia, bisa memakan waktu satu hari penuh. Itu pun jika kondisi jalur Puncak sepi. Jika mobilitas kendaraan volumenya padat, mobilisasi proyek bakal terganggu.

“Tapi, lebih sebentar karena volumenya kecil. Jadi, bisa lebih sebentar. Cuma, sekarang ini kendala cuaca dan mendekati musim liburan. Jadi, kita kerja 24 jam, siangmalam. Pergantian shift juga sudah kita atur,” ungkapnya.

Menurut Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) 3 Metropolitan ll Jakarta, Kementerian PUPR Elsa Putra Frian di, proyek jembatan Gadog menelan biaya sebesar Rp13 miliar dengan target difungsikan awal 2019. “Dalam perencanaan target pengerjaan konstruksi dilaksanakan hingga Desember 2018 sehingga awal tahun depan bisa dipergunakan,” katanya.

Konstruksi jembatan yang membentang di atas Sungai Ciliwung ini sengaja dibangun secara terpisah, tepat di samping jembatan yang sudah ada. “Alhasil, nantinya tepat di kawasan Pasir Angin, Gadog, ada empat lajur dengan (jembatan yang lama),” katanya.

Dengan duplikat jembatan baru tersebut maka jalur Puncak secara keseluruhan memiliki lebar 16 meter. “Jembatan baru untuk kendaraan dari arah Jakarta, sedangkan jembatan lama untuk kendaraan dari arah Puncak. Untuk jembatan baru lebarnya 9 meter. Kita akan bebaskan tanah juga di situ,” katanya.

Sementara itu, Kasatlantas Polres Bogor AKP Hasby Ristama mengatakan, penambahan lajur dengan membuat jembatan baru untuk mengurai kemacetan akibat bottle neckketika volume kendaraan meningkat.

“Yang jelas, kami menyambut positif upaya pemerintah dalam mengatasi kemacetan di jalur Puncak ini,” katanya. Sambutan positif juga diungkapkan sejumlah kalangan warga sekitar jalur Puncak.

Bahkan, beberapa warga dan tokoh politik mengaku mendukung penuh program ini. Sementara PKL yang masih berproses relokasi akibat adanya pelebaran jalan berharap lapak yang sedang dibangun sebagai tempat relokasi mereka cepat selesai.

“Kita mendukung penuh kebijakan pelebaran jalan ini karena banyak manfaatnya. Tapi, perhatikan juga dong PKL yang hingga saat ini masih banyak belum dapat kepastian soal relokasi” ungkap Khoirudin, 49, warga Cibereum, Cisarua, Puncak, Bogor.

Hal senada diungkapkan Slamet Mulyadi, anggota DPRD Kabupaten Bogor yang merupakan warga Puncak, juga mendukung penuh kegiatan pelebaran jalan ini.
“Pokoknya, kami pasti dukung segala kebijakan yang positif dari pemerintah untuk rakyat banyak. Meski jalur puncak 2 juga yang digadanggadang sebagai solusi macet puncak hingga saat ini tak ada kepastian. Kalau sekarang puncak dilebarin dan anggarannya sudah ada, kenapa tidak kita dukung?” paparnya.
(don)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Kementerian PUPR: Jalan...
Kementerian PUPR: Jalan Tol Sumatera Siap Dijadikan Jalur Logistik
Dukung Kelancaran Logistik,...
Dukung Kelancaran Logistik, Ruas Tol Jalintim Optimistis Rampung 2024
Lalu Lintas di Jalan...
Lalu Lintas di Jalan Tol DKI Jakarta, Jawa Barat dan Banten Turun 60%
Kementerian PUPR Pastikan...
Kementerian PUPR Pastikan 7 Ruas Tol Bakal Diresmikan Tahun Ini
Terus Digeber, 24 Ruas...
Terus Digeber, 24 Ruas Tol Ditargetkan Bisa Dilalui Tahun Ini
Bakal Ada 16 Ruas Jalan...
Bakal Ada 16 Ruas Jalan Tol Baru di 2022, Ini Daftarnya
Berita Terkini
Tren Mobilitas Ramah...
Tren Mobilitas Ramah Lingkungan Meningkat, Pembiayaan Kendaraan Listrik MUF Melesat
4 jam yang lalu
Rupiah Amburadul Rp18...
Rupiah Amburadul Rp18 Ribu, Produk Rumah Tangga Unilever Bakal Naik Harga di Kuartal II 2026
4 jam yang lalu
Rupiah Terkapar, Dampaknya...
Rupiah Terkapar, Dampaknya Mulai Terasa ke Sektor Industri Nasional
4 jam yang lalu
PLN EPI, PLN Puslitbang...
PLN EPI, PLN Puslitbang dan ITERA Kolaborasi Kembangkan Tanaman Energi
6 jam yang lalu
Pelindo Sinergi Lokaseva...
Pelindo Sinergi Lokaseva Catat Kinerja Operasional Positif di Awal 2026
6 jam yang lalu
BRI Life Ungkap Peran...
BRI Life Ungkap Peran Mitra Stategis Selama 4 Dekade
6 jam yang lalu
Infografis
Kisah Jalur KRL Jabodetabek,...
Kisah Jalur KRL Jabodetabek, Diawali Rute Tanjung Priok-Jatinegara Pada 1924
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved