Digital Dorong Ekonomi Kreatif

Kamis, 20 Desember 2018 - 14:45 WIB
Digital Dorong Ekonomi Kreatif
Digital Dorong Ekonomi Kreatif
A A A
JAKARTA - Pada 2019 sektor ekonomi kreatif diyakini akan terus tumbuh dengan kontribusi terhadap produk domestik bruto (PDB) diproyeksikan mencapai lebih dari Rp1.200 triliun.

Pendapatan sektor ekonomi kreatif (ekraf) tahun 2016 tercatat Rp922,59 triliun atau naik menjadi 7,44% terhadap total PDB nasional. Berdasarkan outlook ekonomi kreatif 2019 nilai PDB ekraf pada 2017, 2018, dan 2019, diprediksikan masingmasing Rp1.009 triliun, Rp1.105 triliun, dan Rp1.211 triliun.

“Tahun lalu diprediksi hampir mencapai Rp1.000 triliun, tetapi setelah dihitung ternyata di atas ekspektasi. Tahun 2019 diproyeksikan akan lebih dari Rp1.200 triliun,” kata Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) Triawan Munaf.

Dia menjelaskan, subsektor fashion, kriya, dan kuliner menguasai 97% dari total usaha yang mencapai 8,2 juta unit. Subsektor ini menjadi andalan ekspor ekonomi kreatif, nilainya pada 2016 lalu mencapai USD19,98 miliar. Meski masih kecil, subsektor lain, seperti film, musik, dan games (animasi), juga menunjukkan pertumbuhan signifikan.

Deputi Akses Permodalan Bekraf Fadjar Hutomo menjelaskan, pertumbuhan PDB ekraf bergantung dari jumlah unit usaha yang ada dan nilai tambah setiap perusahaan. Jumlah perusahaan di bidang ekraf secara keseluruhan ditargetkan tumbuh 2,5% dari 2015 ke 2019. Nilai tambah untuk setiap perusahaan rata-rata juga naik dari Rp160 juta pada 2015 menjadi Rp 220 juta pada 2019.

Pada 2016 tercatat ada 8,2 juta unit usaha ekraf, sedangkan nilai tambah per perusahaan sekitar Rp112 juta. Fadjar mengatakan, perkembangan ekraf tahun depan mayoritas akan terkait dengan teknologi digital yang mendukung perkembangan ekonomi digital di Indonesia.

Menurutnya teknologi digital bisa menjadi penggerak utama dalam banyak kegiatan ekraf. Dengan teknologi digital, peluang tumbuh dengan eksponensial sangat besar. Menurutnya, kunci sukses startup selain keahlian teknis, yaitu perlu memiliki dampak sosial besar. “Kolaborasi yang dianggap paling potensial terutama dengan perusahaan rintisan teknologi digital,” ujarnya.

Dia mencontohkan peran kolaborasi startup digital terdapat dalam subsektor unggulan, yaitu fashion, kuliner, dan kriya. Namun, dia mengingatkan para pelaku ekraf jangan hanya fokus mengenai subsektor saja, melainkan juga harus memperhatikan konten atau konsepnya.

Fadjar juga menjelaskan, Bekraf akan terus membangun ekosistem ekraf yang solid. Strategi yang dilakukan dengan menjalin hubungan lebih baik dengan seluruh stakeholders. Dia meyakini cara mengendalikan risiko kegagalan, yaitu dengan ekosistem yang lebih baik. Risiko kegagalan sangat berkaitan dengan masuknya arus permodalan. Perkiraan angka kegagalan startup saat ini di Indonesia sekitar 10% dan ini harus terus ditekan.

“Misalnya dalam membangun startup digital kita jalin silaturahmi dengan coworking space dan inkubator meminta sarannya. Pendekatan serupa juga dalam kuliner dan perfilman,” ujarnya.
Halaman :
Komentar
Copyright © 2023 SINDOnews.com
berita/ rendering in 0.1215 seconds (10.55#12.26)