Pemerintah Tingkatkan Penggunaan Sumber Energi Alternatif

Kamis, 20 Desember 2018 - 17:07 WIB
A A A
Target investasi di sektor EBT tahun ini lebih tinggi dibandingkan tahun lalu sebesar USD1,34 miliar. Sementara pada 2016 target investasi EBT sebesar USD1,57 miliar. Kemudian pada 2014 dan 2015 masingmasing USD640 juta serta USD1,03 miliar.

Rinciannya sejak tahun lalu sudah ada 70 kontrak pengembangan EBT yang ditandatangani dengan total kapasitas 1.214,2 megawatt (MW). Dari sejumlah kontrak itu terdapat pembangkit listrik hydro (752 MW), biogas ada lima unit (9,8 MW), biomassa ada lima unit (32,5 MW), solar ada enam unit (45 MW), satu pembangkit panas bumi (86 MW), dan 49 unit minihydro (286,8 MW).

Pada tahun ini ada empat pembangkit EBT yang beroperasi, yaitu Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) Sidrap I, PLTB Sidrap Tahap II, PLTB Jeneponto, dan PLTB Tanah Laut.

Untuk menekan impor BBM, pemerintah akan menerbitkan aturan terkait pengembangan kendaraan listrik nasional. Rencananya aturan itu akan terbit awal tahun depan. Direktur Bisnis Regional PLN Jawa Bagian Barat Haryanto WS mengatakan, perpres kendaraan listrik penting sebagai landasan hukum untuk pengembangan listrik di dalam negeri.

Pasalnya, PLN harus memperhitungkan pasokan hingga pembangunan infrastruktur seperti stasiun penyedia listrik umum (SPLU) ataupun infrastruktur pengisian listrik cepat (fast charging ) secara nasional.

“Kalau dari sisi pasokan kami sangat siap. Infrastruktur PLN juga siap, tinggal fast charging saja. Kalau fast charging bisa dilakukan di mana saja,” kata dia.

Dia mengatakan fast charging bisa dilakukan di rumah dan perkantoran. Bahkan PLN, juga sudah menyediakan SPLU khususnya di DKI Jakarta untuk mengakomodasi para pedagang kaki lima serta usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Untuk mengakomodasi penggunaan kendaraan listrik, kata dia, penyediaan fast charging juga bisa dilakukan bekerja sama dengan PT Pertamina. Nanti PLN bisa bersinergi dengan Pertamina untuk menyediakan fast charging di SPBU. Dia memastikan, jika pengembangan mobil listrik bergulir tentu pertumbuhan kebutuhan listrik PLN bisa meningkat.

PLN juga sedang merancang pembuatan fast charging guna memfasilitasi kebutuhan kendaraan listrik secara nasional. Untuk saat ini pihaknya bersama BMW Indonesia akan mengembangkan fast charging. Dia menjelaskan, SPLU berbeda dengan fast charging. Pembiayaan fast charging lebih mahal ketimbang SPLU.

Terkait SPLU, PLN telah membangun 17.000 unit. Namun, SPLU saat ini dimanfaatkan pedagang kaki lima dan UMKM. Vice President Corporate Communication Pertamina Adiatma Sardjito mengatakan, Pertamina juga melakukan kerja sama dengan BMW Group Indonesia untuk menyiapkan teknologi pengisian energi listrik.
Halaman :
Komentar
Copyright © 2023 SINDOnews.com
berita/ rendering in 0.0731 seconds (10.177#12.26)