Aktivitas Pabrik China Menyusut Dua Bulan Beruntun
Kamis, 31 Januari 2019 - 15:58 WIB
Aktivitas Pabrik China Menyusut Dua Bulan Beruntun
A
A
A
BEIJING - Aktivitas pabrik di China mengalami penyusutan pada Januari 2019 untuk mencetak perlambatan dalam dua bulan beruntun, berdasarkan Indeks Pembelian Manajer resmi (PMI). Indeks berada pada posisi 49,5 akan tetapi di bawah level 50 memisahkan pertumbuhan dari kontraksi.
Seperti dilansir BBC, data ekonomi China sebelumnya menunjukkan perlemahan terparah dalam 28 tahun pada tahun 2018, dimana perlambatan pertumbuhan diperkirakan masih bakal terus berlanjut. Bahkan sejumlah perusahaan multinasional mengutarakan, pertumbuhan yang lamban di China telah mempengaruhi raihan laba mereka.
Data manufaktur naik sedikit dari level 49,4 yang tercatat pada bulan Desember. Ekonom dari Capital Economics yakni Marcel Thieliant mengatakan PMI melemah lebih jauh pada Januari, "hal ini masih menunjukkan bahwa ekonomi kehilangan momentum pada awal tahun".
Data lain, seperti sentimen konsumen dan angka penjualan ritel, juga menunjukkan melemahnya permintaan dalam ekonomi terbesar kedua di dunia tersebut. Beberapa perusahaan Internasional telah memperingatkan perlambatan China, termasuk Apple.
Raksasa teknologi menyalahkan penurunan 5% dalam pendapatan yang dipengaruhi kondisi China. Terpantau saham raksasa peralatan industri Caterpillar mengalami hantaman keras di awal pekan, setelah perusahaan melaporkan penjualannya tergelincir 4%, sebagian besar karena penjualan yang berjalan lambat di Negeri Tirai Bambu -julukan China-.
Pembuat chip Nvidia juga melaporkan penyusutan penjualan karena pasar China yang lesu. Sedangkan 3M, yang membuat produk dari pita perekat hingga saringan udara, juga mengatakan permintaan pelanggan yang lemah di China memengaruhi kondisi bisnis mereka
China sendiri telah berusaha mereformasi ekonominya untuk lebih mengandalkan konsumsi domestik daripada ekspor dan investasi untuk mendorong pertumbuhan. Perang dagang AS-China juga menciptakan ketidakpastian ekonomi.
Angka-angka terbaru dirilis ketika para pejabat dari kedua belah pihak bertemu di Washington untuk mencoba meredakan ketegangan perdagangan. Jika kedua belah pihak tidak dapat mencapai kesepakatan pada 1 Maret, AS telah mengatakan akan meningkatkan tarif dari 10% menjadi 25% untuk produk asal China senilai sekitar USD200 miliar.
Seperti dilansir BBC, data ekonomi China sebelumnya menunjukkan perlemahan terparah dalam 28 tahun pada tahun 2018, dimana perlambatan pertumbuhan diperkirakan masih bakal terus berlanjut. Bahkan sejumlah perusahaan multinasional mengutarakan, pertumbuhan yang lamban di China telah mempengaruhi raihan laba mereka.
Data manufaktur naik sedikit dari level 49,4 yang tercatat pada bulan Desember. Ekonom dari Capital Economics yakni Marcel Thieliant mengatakan PMI melemah lebih jauh pada Januari, "hal ini masih menunjukkan bahwa ekonomi kehilangan momentum pada awal tahun".
Data lain, seperti sentimen konsumen dan angka penjualan ritel, juga menunjukkan melemahnya permintaan dalam ekonomi terbesar kedua di dunia tersebut. Beberapa perusahaan Internasional telah memperingatkan perlambatan China, termasuk Apple.
Raksasa teknologi menyalahkan penurunan 5% dalam pendapatan yang dipengaruhi kondisi China. Terpantau saham raksasa peralatan industri Caterpillar mengalami hantaman keras di awal pekan, setelah perusahaan melaporkan penjualannya tergelincir 4%, sebagian besar karena penjualan yang berjalan lambat di Negeri Tirai Bambu -julukan China-.
Pembuat chip Nvidia juga melaporkan penyusutan penjualan karena pasar China yang lesu. Sedangkan 3M, yang membuat produk dari pita perekat hingga saringan udara, juga mengatakan permintaan pelanggan yang lemah di China memengaruhi kondisi bisnis mereka
China sendiri telah berusaha mereformasi ekonominya untuk lebih mengandalkan konsumsi domestik daripada ekspor dan investasi untuk mendorong pertumbuhan. Perang dagang AS-China juga menciptakan ketidakpastian ekonomi.
Angka-angka terbaru dirilis ketika para pejabat dari kedua belah pihak bertemu di Washington untuk mencoba meredakan ketegangan perdagangan. Jika kedua belah pihak tidak dapat mencapai kesepakatan pada 1 Maret, AS telah mengatakan akan meningkatkan tarif dari 10% menjadi 25% untuk produk asal China senilai sekitar USD200 miliar.
(akr)
Lihat Juga :