IHSG Berakhir Memerah di Level 6.441, Bursa Asia Variatif
Selasa, 05 Maret 2019 - 16:36 WIB
IHSG Berakhir Memerah di Level 6.441, Bursa Asia Variatif
A
A
A
JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan, Selasa (5/3/2019) berakhir memerah untuk melanjutkan tren negatif sejak awal pekan kemarin. Hingga sesi penutupan, IHSG jatuh 47,14 poin atau 0,73% ke level 6.441,28 saat bursa utama Asia bergerak variatif.
Sebelumnya pada sesi siang, IHSG pada perdagangan siang ambruk usai kehilangan -1,11% atau 72,29 poin ke level 6.416,13 setelah tadi pagi dibuka turun 45,590 poin atau 0,703% menjadi 6.442,83 saat bursa Asia lainnya juga tergelincir. Kemarin, bursa saham Tanah Air juga tertekan untuk menyentuh posisi 6.488,42.
Sektor saham dalam negeri kebanyakan bergerak melemah di perdagangan sore dipimpin kejatuhan terdalam sektor consumer sebesar 1,43% disusul properti yang merosot hingga 1.27%. Sedangkan satu-satunya sektor yang mengalami penguatan yakni aneka industri dengan tambahan 1,30%.
Adapun nilai transaksi pada bursa Indonesia sore ini tercatat sebesar Rp9,43 triliun dengan 12,59 miliar saham diperdagangkan dan transaksi bersih asing minus Rp1,16 triliun dengan aksi jual asing sebesar Rp4,48 triliun dan aksi beli asing mencapai Rp3,31 triliun. Tercatat sebesar 150 saham menguat, 300 melemah dan 119 stagnan.
Beberapa saham yang menguat di antaranya PT Indonesia Kendaraan Terminal Tbk. (IPCC) naik Rp185 menjadi Rp1.640, PT Astra International Tbk. (ASII) bertambah Rp150 menjadi Rp7.300 dan PT M Cash Integrasi Tbk. (MCAS) melonjak Rp110 ke posisi Rp3.920.
Sementara, beberapa harga saham yang melemah yakni PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) turun Rp1.000 menjadi Rp14.500, PT Pioneerindo Gourmet International Tbk. (PTSP) melemah Rp300 ke level Rp7.000 serta PT MAP Boga Adiperkasa Tbk. (MAPB) menyusut Rp180 menjadi Rp1,715.
Di sisi lain pasar saham Asia bervariasi pada akhir perdagangan, Selasa ketika China mengumumkan pada pertemuan parlemen tahunannya bahwa mereka telah memangkas target pertumbuhan ekonomi. Saham-saham daratan China terpantau lebih tinggi dengan Komposit Shanghai naik 0,88% menjadi 3.054,25 untuk mengiringi lompatan Komposit Shenzhen mencapai 2,282% ke level 1.635,98.
Raihan positif juga diperlihatkan indeks Hang Seng, Hong Kong lewat peningkatan tipis 0.01% yang setara 2,010 poin di posisi 28.961,60 hingga sesi perdagangan sore. Target pertumbuhan ekonomi China tahun ini, resmi dipangkas menjadi 6,0 hingga 6,5% atau lebih rendah dari pertumbuhan 6,6% pada 2018, untuk berada pada laju paling lambat sejak 1990.
Pada tempat lain di Asia, pasar saham utama lainnya justru berakhir lebih rendah seperti indeks Nikkei Jepang yang tergelincir 0,44% menjadi 21.726,28 karena saham indeks kelas berat misalnya, Softbank Group turun 1,78%. Raihan itu mengiringi penyusutan indeks Topix hingga 0,51% ke level 1.619,23. Sementara penyusutan juga terjadi pada indeks Kospi di Korea Selatan turun 0,52% menjadi 2.179,23 dengan saham produsen chip SK Hynix tergelincir 0,57%.
Bursa patokan Australia, ASX 200 turun 0,29% di posisi 6.199,30 dengan sebagian besar sektor lebih rendah. Pergerakan Down Under terjadi setelah bank sentral negara itu mengumumkan pihaknya mempertahankan suku bunga stabil di 1,50%. Dolar Australia berada pada posisi 0,7076 terhadap USD mengikuti keputusan suku bunga Reserve Bank of Australia setelah menyentuh level tertinggi sebelumnya 0,7096/USD.
Sebelumnya pada sesi siang, IHSG pada perdagangan siang ambruk usai kehilangan -1,11% atau 72,29 poin ke level 6.416,13 setelah tadi pagi dibuka turun 45,590 poin atau 0,703% menjadi 6.442,83 saat bursa Asia lainnya juga tergelincir. Kemarin, bursa saham Tanah Air juga tertekan untuk menyentuh posisi 6.488,42.
Sektor saham dalam negeri kebanyakan bergerak melemah di perdagangan sore dipimpin kejatuhan terdalam sektor consumer sebesar 1,43% disusul properti yang merosot hingga 1.27%. Sedangkan satu-satunya sektor yang mengalami penguatan yakni aneka industri dengan tambahan 1,30%.
Adapun nilai transaksi pada bursa Indonesia sore ini tercatat sebesar Rp9,43 triliun dengan 12,59 miliar saham diperdagangkan dan transaksi bersih asing minus Rp1,16 triliun dengan aksi jual asing sebesar Rp4,48 triliun dan aksi beli asing mencapai Rp3,31 triliun. Tercatat sebesar 150 saham menguat, 300 melemah dan 119 stagnan.
Beberapa saham yang menguat di antaranya PT Indonesia Kendaraan Terminal Tbk. (IPCC) naik Rp185 menjadi Rp1.640, PT Astra International Tbk. (ASII) bertambah Rp150 menjadi Rp7.300 dan PT M Cash Integrasi Tbk. (MCAS) melonjak Rp110 ke posisi Rp3.920.
Sementara, beberapa harga saham yang melemah yakni PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) turun Rp1.000 menjadi Rp14.500, PT Pioneerindo Gourmet International Tbk. (PTSP) melemah Rp300 ke level Rp7.000 serta PT MAP Boga Adiperkasa Tbk. (MAPB) menyusut Rp180 menjadi Rp1,715.
Di sisi lain pasar saham Asia bervariasi pada akhir perdagangan, Selasa ketika China mengumumkan pada pertemuan parlemen tahunannya bahwa mereka telah memangkas target pertumbuhan ekonomi. Saham-saham daratan China terpantau lebih tinggi dengan Komposit Shanghai naik 0,88% menjadi 3.054,25 untuk mengiringi lompatan Komposit Shenzhen mencapai 2,282% ke level 1.635,98.
Raihan positif juga diperlihatkan indeks Hang Seng, Hong Kong lewat peningkatan tipis 0.01% yang setara 2,010 poin di posisi 28.961,60 hingga sesi perdagangan sore. Target pertumbuhan ekonomi China tahun ini, resmi dipangkas menjadi 6,0 hingga 6,5% atau lebih rendah dari pertumbuhan 6,6% pada 2018, untuk berada pada laju paling lambat sejak 1990.
Pada tempat lain di Asia, pasar saham utama lainnya justru berakhir lebih rendah seperti indeks Nikkei Jepang yang tergelincir 0,44% menjadi 21.726,28 karena saham indeks kelas berat misalnya, Softbank Group turun 1,78%. Raihan itu mengiringi penyusutan indeks Topix hingga 0,51% ke level 1.619,23. Sementara penyusutan juga terjadi pada indeks Kospi di Korea Selatan turun 0,52% menjadi 2.179,23 dengan saham produsen chip SK Hynix tergelincir 0,57%.
Bursa patokan Australia, ASX 200 turun 0,29% di posisi 6.199,30 dengan sebagian besar sektor lebih rendah. Pergerakan Down Under terjadi setelah bank sentral negara itu mengumumkan pihaknya mempertahankan suku bunga stabil di 1,50%. Dolar Australia berada pada posisi 0,7076 terhadap USD mengikuti keputusan suku bunga Reserve Bank of Australia setelah menyentuh level tertinggi sebelumnya 0,7096/USD.
(akr)
Lihat Juga :