Mengatasnamakan Petani-Peternak, Malah Merugikan Banyak Petani-Peternak

Sabtu, 16 Maret 2019 - 18:12 WIB
Mengatasnamakan Petani-Peternak,...
Mengatasnamakan Petani-Peternak, Malah Merugikan Banyak Petani-Peternak
A A A
JAKARTA - Andi, peternak ayam mandiri di Kecamatan Cikalong, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat merasa bingung dengan banyaknya orang mengatasnamakan petani akhir-akhir ini, padahal sikap dan statmentnya tidak mewakili pikiran dan harapan petani. Di musim politik ini sejumlah orang mengaku sebagai perwakilan peternak dan petani, dan menggelar berbagai aksi yang justru merugikan kaum tani dan menguntungkan pihak lain.

"Saya dan kawan-kawan sebagai petani dan peternak asli tidak tahu ada aksi aksi itu, Lagi pula di Cianjur saya bisa memastikan tidak ada yang diwakili dalam aksi aksi petani, karena tidak tahu apa yang mereka persoalkan," kata Andi di Cianjur, Jumat (15/3/2019).

Menurut Andi, terkait usaha dirinya sebagai peternak, distribusi dan produksi jagung di Kabupaten Cianjur, sejauh ini termasuk yang paling aman dan stabil. Karena itu, kebutuhan yang ada bisa mencukupi stok pakan untuk beberapa bulan ke depan.

"Jagung sebegitu banyak masih dibilang belum berdaulat juga oleh orang yang mewakili petani itu. Sesekali cek ke lapangan dan turun langsung ke kandang kami. Supaya jelas ada tidaknya suplai jagung dan pakan ayam yang dipersoalkan," katanya.

Menurut Andi, kelompok tani dan kelompok peternak yang jumlahnya ratusan ribu yang akan berteriak dulu bila ada kesulitan penjualan jagung atau kesulitan mendapatkan pakan.

Beberapa minggu terakhir ini, banyak sekali kelompok mengatasnamakan petani dan peternak mencari dukungan dari pemangku hajat, sampai melibatkan kalangan akademisi dan pengamat yang berbicara ke publik bahwa peternak petani mengalami kesulitan berusaha dalam beberapa tahun ini. Diklaim Iklim usaha tidak kondusif, akibat banyaknya kebijakan yang tidak pro peternak kecil.

Sebagai pelaku peternak ayam mandiri, Andi menjelaskan untuk harga Jagung di Cianjur termasuk stabil, karena berada di kisaran Rp 4.200 perkilo bulan ini. Harga tersebut, kata Andi, jauh lebih murah ketimbang harga jagung pada tahun-tahun sebelumnya.

"Apalagi sekarang lagi musim panen raya, pasti harga jagung makin turun. Apalagi yang saya tahu sekarang Bulog terjun langsung menyerap jagung petani kita, sehingga makin tambah lancar aja sektor peternakan. Yang jelas harga jagung aman karena menggunakan produksi dalam negeri," katanya. "Saat ini petani jagung sangat puas dan peternak senang", tambahnya.

Muatan politis jelang pemilu

Sementara itu, Ketua Umum Kelompok Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Winarno Tohir, mengatakan berbagai demo ataupun suara mengaku-ngaku atau mengatasnamakan peternak dan petani menjepang pemilu ini malah semakin mempertegas adanya muatan politik di tengah suasana perhelatan pilpres dan piileg tahun ini.

"Statment statment mereka itu sangat tendensius. Menurut saya, kalau di cari celanya dan kelemahan pemerintah, bisa saja di tahun politik ini dicari-cari yang kurang-kurang terus. Masalahnya kalau mau bicara pertanian itu sangat luas sekali. Nah, saat ini yang perlu diihat adalah nawaitunya apa. Kalau nawaitunya selalu ingin menjatohkan atau menyalahkan itu kan lain lagi," katanya.

Winarno menjelaskan, sektor pertanian biasanya dikenal dengan sektor yang paling luas. Di sana, kata dia, ada yang disebut dengan pengamat, dosen dan pelaku-pelaku lain yang bergelut di bidang pertanian.

"Tapi sebagian pengamat dan dosen sering tidak merasakan apa yang dirasakan langsung peternak dan petani. Justru kalau menurut saya petani yang merasakan apa yang terjadi sesungguhnya. Beberapa Dosen dan pengamat yang lantang bicara itu sifatnya sebaikya hanya kasih masukan langsung ke pemerintah saja, jangan teriak teriak diluar", katanya.

Dikatakan Winarno, sebaiknya semua pihak mampu meredam diri, tanpa membuat gaduh dan menimbulkan tafsiran lain di masyarakat bawah. Kalaupun mau berbicara, kata dia, bicaralah dengan menggunakan data.

"Menurut saya di tahun politik ini harus bisa menunjukan data yang valid. Pemerintah termasuk Kementan kan pasti lengkap sekali informasinya. Bahkan terakhir ini kita sering ekspor. Jadi sebaiknya pihak yang mengkritik juga memakai data resmi," katanya.

Jika mengacu pada data, impor jagung pakan pada 2014 mencapai senilai US$ 3,5 kita dolar. Atau setara dengan 10 miliar. Namun kemudian Pemerintah membatasi impor jagung secara mendadak.

Selanjutnya pada 2017 dan 2018 Indonesia membalikkan keadaan dengan mengekspor 380 ribu ton jagung.
(akn)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Strategi Penilaian Kinerja...
Strategi Penilaian Kinerja Kementerian Pertanian
Kementan Dorong Generasi...
Kementan Dorong Generasi Milenial Terjun di Bidang Pertanian
Pengembangan Food Estate...
Pengembangan Food Estate Demi Jadikan Provinsi Kalteng Lumbung Pangan
Petani Parigi Moutong...
Petani Parigi Moutong Dimotivasi untuk Budidaya Jagung di Lahan Perkebunan Kelapa
Kabupaten Poso Dukung...
Kabupaten Poso Dukung Percepatan Tanam Melalui Sekolah Lapang
Jadikan Sektor Pertanian...
Jadikan Sektor Pertanian Sebagai Penyelamat Krisis
Berita Terkini
Bahlil Ungkap Penyebab...
Bahlil Ungkap Penyebab Pemadaman Listrik di Sejumlah Daerah, Janji Pulih Cepat
8 jam yang lalu
Indodax Diapresiasi...
Indodax Diapresiasi Atas Edukasi dan Pengembangan Pasar Aset Kripto
8 jam yang lalu
Harga Pertamax Naik...
Harga Pertamax Naik Rp16.250, Bahlil: Sudah Diperhitungkan Secara Bijak
8 jam yang lalu
Lewat Program Pondasi,...
Lewat Program Pondasi, Brahma Binabakti Renovasi Rumah Tak Layak di Muaro Jambi
8 jam yang lalu
Harga Pertamax Naik...
Harga Pertamax Naik Jadi Rp16.250, Bos Pertamina: Telah Mempertimbangkan Daya Beli Masyarakat
9 jam yang lalu
Janji Manis Ledakan...
Janji Manis Ledakan Ekonomi Piala Dunia 2026, Awas! Tensi Geopolitik Bisa Bikin Zonk
9 jam yang lalu
Infografis
10 Perguruan Tinggi...
10 Perguruan Tinggi Paling Banyak Sumbang PNS, Kampus Negeri Mendominasi
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved