BI: AS Terus Perluas Perang Dagang di Negara Berkembang

Jum'at, 19 Juli 2019 - 22:51 WIB
BI: AS Terus Perluas...
BI: AS Terus Perluas Perang Dagang di Negara Berkembang
A A A
MEDAN - Bank Indonesia (BI) memproyeksikan genderang perang dagang yang ditabuh Amerika Serikat, meluas ke beberapa negara berkembang. Deputi Gubernur BI, Dody Budi Waluyo, menilai arena perang dagang yang meluas terlihat dari kembali memanasnya sengketa dagang AS-China usai pertemuan KTT G20 di Osaka Jepang.

Sambung Dody, bahkan saat ini, Presiden AS Donald Trump sedang meninjau kembali neraca perdagangan AS dengan negara lain, seperti India, Meksiko, dan Vietnam.

"Setelah KTT Osaka, ketidakpastian akibat perang dagang masih ada. Ini membuat kondisi perekonomian global melambat. Sekarang ini pasar sudah melihat semakin yakin bahwa perang dagang terus berlanjut,ujar Dody di Medan, Sumatra Utara, Jumat (19/7/2019).

Menurutnya, perang dagang telah menghantui ekonomi global. Diperkirakan perlambatan ekonomi ini meluas tidak hanya di negara maju juga di negara berkembang. Untuk itu, beberapa bank sentral menurunkan suku bunga acuannya.

Dengan suku bunga yang turun bisa menggeliatkan dunia usaha dan dapat mendorong perekonomian.

"Penurunan suku bunga kemarin, harapannya akan membuat biaya untuk borrowing perbankan akan lebih murah. Lending perbankan jadi lebih baik, permintaan tetap dijaga. Karena kalau permintaan lemah, sulit untuk ekspansi," kata Dody.

Tidak hanya melalui penurunan suku bunga, BI juga melakukan antisipasi dengan kebijakan moneter lainnya, yakni berupa penurunan Giro Wajib Minimum (GWM) 50 bps menjadi 6% bagi perbankan konvensional dan 4,5% untuk perbankan syariah. Tujuannya untuk menambah likuiditas di perbankan.

"Cara yang paling dilihat lagi adalah likuiditas, melalui GWM. Di beberapa negara, GWM sudah diturunkan, seperti China, Indonesia. Ini upaya untuk menahan ekonomi tidak terus turun," pungkasnya.
(ven)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
BI Pangkas Suku Bunga...
BI Pangkas Suku Bunga Acuan Jadi 5,25%, Kedua Kalinya di 2025
Gara-gara Perang, Ruang...
Gara-gara Perang, Ruang Penurunan BI Rate Semakin Tipis
Ekonom: BI Berpeluang...
Ekonom: BI Berpeluang Lanjutkan Pemangkasan BI Rate hingga 5,50% Akhir 2024
BI Kembali Pertahankan...
BI Kembali Pertahankan Suku Bunga Acuan Maret 2026 di Level 4,75 Persen
BI Kembali Tahan Suku...
BI Kembali Tahan Suku Bunga Acuan November di Level 4,75%
Membaca Peluang Tipis...
Membaca Peluang Tipis Penurunan Suku Bunga Acuan BI Jelang Tutup Tahun 2025
Berita Terkini
Kebijakan Tambang RI...
Kebijakan Tambang RI Berubah-ubah, Investor China Mulai Alihkan Investasi Nikel ke Afrika
28 menit yang lalu
Saatnya Bayar Tagihan...
Saatnya Bayar Tagihan PBB-P2, Ada Diskon 7,5% hingga 31 Juli 2026
57 menit yang lalu
Barat Remehkan Blokade...
Barat Remehkan Blokade Selat Hormuz, Pasokan Minyak Dunia di Titik Kritis
1 jam yang lalu
MDLA Luncurkan Armada...
MDLA Luncurkan Armada Mobil Listrik, Dorong Transformasi Distribusi Rendah Emisi
4 jam yang lalu
Tren Mobilitas Ramah...
Tren Mobilitas Ramah Lingkungan Meningkat, Pembiayaan Kendaraan Listrik MUF Melesat
10 jam yang lalu
Rupiah Amburadul Rp18...
Rupiah Amburadul Rp18 Ribu, Produk Rumah Tangga Unilever Bakal Naik Harga di Kuartal II 2026
11 jam yang lalu
Infografis
10 Universitas Paling...
10 Universitas Paling Diminati di SNBT 2026, UI Paling Favorit
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved