Globalisasi Reda, BI Siapkan Tiga Hal Merespon Penguatan Digital

Kamis, 29 Agustus 2019 - 17:33 WIB
Globalisasi Reda, BI...
Globalisasi Reda, BI Siapkan Tiga Hal Merespon Penguatan Digital
A A A
JAKARTA - Para pengambil kebijakan termasuk bank sentral perlu memahami perubahan-perubahan pemikiran ekonomi dalam menghadapi digitalisasi ekonomi ke depan. Untuk itu, diperlukan respons kebijakan secara tepat dalam menghadapi tantangan tersebut.

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengatakan, bank sentral perlu merespons era baru, khususnya sejak krisis keuangan global yang ditandai oleh meredanya globalisasi dan munculnya era digitalisasi.

Menurut dia, ada empat ciri yang menunjukkan meredanya globalisasi menuju meningkatnya digitalisasi. Pertama, banyaknya negara yang mengandalkan internal dalam merespons ketegangan perdagangan internasional.

Ini ditandai dengan terus berlangsungnya ketegangan perdagangan, seperti perang dagang Amerika Serikat (AS) dengan China, perang dagang AS dengan Uni Eropa, dan beberapa negara lain.

"Ini sesuatu yang perlu kita sikapi bahwa ketegangan perdagangan tidak baik bagi dua negara yang terlibat maupun global," ujarnya pada pembukaan 13th International Conference and Call for Papers Bulletin of Monetary Economics and Banking (BMEB) di Badung, Bali, Kamis (29/8/2019).

Kedua, arus modal antar negara dan nilai tukar yang semakin bergejolak. Ketiga, respons kebijakan bank sentral tidak dapat mengandalkan suku bunga.

Mandat bank sentral di beberapa negara tidak hanya menjaga inflasi tapi juga stabilitas sistem keuangan, sehingga kebijakan makroprudensial menjadi penting.

"Terlihat di sejumlah negara maju, suku bunga sudah hampir nol persen tapi kurang mampu menjaga kestabilan harga dan mendorong pertumbuhan. Sehingga di beberapa negara maju melakukan kebijakan kuantitatif uang beredar," papar Perry.

Keempat, semakin maraknya digitalisasi di bidang ekonomi maupun keuangan.

"Munculnya digitalisasi khususnya keuangan, jasa keuangan seperti mobilisasi dana, pembiayaan ekonomi, sistem pembayaran, banyak dilakukan oleh fintech. Hal ini perlu direspon oleh pengambil kebijakan termasuk bank sentral," jelas Perry.

Dalam merespons hal tersebut, ada tiga hal yang menjadi perhatian bank sentral dan pengambil kebijakan. Pertama, para pengambil kebijakan perlu menerapkan bauran kebijakan bank sentral (policy mix).

Kedua, perlunya memperkuat sinergi dan koordinasi antar pemangku kebijakan dengan meningkatkan transparansi dan komunikasi.

Ketiga, perlunya memanfaatkan era digitalisasi untuk menjaga stabilitas dan mendorong pertumbuhan ekonomi.

Perry melanjutkan, salah satu respon kebijakan BI adalah menyusun visi sistem pembayaran Indonesia 2025 untuk mengintegrasikan ekonomi dengan keuangan digital.

"Kami mendorong perbankan untuk mengembangkan digitalisasi dan bagaimana fintech tetap interlink dengan digitalisasi perbankan. Ini agar tidak terjadi shadow banking," tuturnya.

Di samping itu juga mendorong inovasi di sektor riil baik di start-up fintech maupun perbankan. Hal ini perlu diseimbangkan antara inovasi dengan perlindungan konsumen.

Kepala Institut BI Solikin M. Juhro mengatakan, ancaman shadow banking di Indonesia masih belum sebesar negara lain seperti China yang memiliki perkembangan fintech sangat pesat.

Meski begitu, perbankan harus gencar melakukan digitalisasi untuk mengantisipasi hal tersebut.

"Perbankan harus digitalisasi. Mengintegrasikan fintech dengan perbankan supaya tidak ada fintech liar, tetapi dia dioperasikan berdasarkan praktik perbankan yang terdigitalisasi," tuturnya.
(ind)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
BI FAST Beri Dampak...
BI FAST Beri Dampak Positif ke Pertumbuhan Ekonomi Digital
Goks, Nilai Transaksi...
Goks, Nilai Transaksi BI-FAST hingga September 2025 Tembus Rp25.000 Triliun
Calon Deputi Gubernur...
Calon Deputi Gubernur BI Doni Primanto Fokus Dorong Keuangan Digital
Transaksi BI-FAST Tembus...
Transaksi BI-FAST Tembus Rp462 Triliun pada Mei 2023
Pertumbuhan Ekonomi...
Pertumbuhan Ekonomi Digital Indonesia
Uji Kelayakan jadi Deputi...
Uji Kelayakan jadi Deputi Gubernur BI, Ini Jurus Juda Agung Selamatkan Ekonomi RI
Berita Terkini
Energi Menjadi Medan...
Energi Menjadi Medan Perang AS-China di Abad Ini
5 jam yang lalu
PLN EPI Targetkan Pengembangan...
PLN EPI Targetkan Pengembangan Bio-CNG Berbasis Limbah Sawit Dukung Transisi Energi
6 jam yang lalu
IHSG dan Rupiah Tertekan,...
IHSG dan Rupiah Tertekan, Pasar Uji Kredibilitas Sistem Keuangan Indonesia
6 jam yang lalu
Redam Sentimen Sell...
Redam Sentimen 'Sell Indonesia', Ini Saran dari Ekonom
7 jam yang lalu
Soroti Pelemahan Rupiah,...
Soroti Pelemahan Rupiah, BADKO HMI Jatim Dorong Evaluasi Kebijakan Moneter
7 jam yang lalu
Kanda Dukung Afi Trending...
'Kanda Dukung Afi' Trending Global Jelang Pemilihan Ketum Hipmi
8 jam yang lalu
Infografis
Rentetan Kasus Korupsi...
Rentetan Kasus Korupsi di Jateng: Tiga Bupati Terjaring KPK pada Awal 2026
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved