Dari PAD ke PDRB

Minggu, 08 September 2019 - 08:37 WIB
“Dari PAD ke PDRB”
Dari PAD ke PDRB
A A A
INI adalah untuk ke sekian kali saya menulis topik pemasaran daerah (marketing places) khususnya menggunakan studi kasus Kabupaten Banyuwangi yang memang sukses melakukan transformasi daerah di bawah leadership Bupati Azwar Anas.

Saya merasa berkewajiban membagikan pelajaranpelajaran berharga dari pengalaman Banyuwangi agar para bupati, wali kota, dan gubernur tahu bagaimana seharusnya suatu daerah dipasarkan ke tiga target pasar utamanya, yaitu tourist, trader, dan investor (TTI).

Salah satu pelajaran menarik dari Banyuwangi adalah “pendekatan terbalik” dari pendekatan pendapatan asli daerah (PAD) menjadi pendekatan produk domestik regional bruto (PDRB). Pendekatan umum yang diambil oleh pemerintah daerah (pemda) dalam memasarkan diri adalah “Pendekatan PAD”.

Dalam pendekatan ini pemda mengumpulkan sebanyak mungkin pendapatan dari pajak dan retribusi, kemudian dana yang diperoleh dikembalikan ke masyarakat untuk membangun infrastruktur, mendirikan sekolah, atau mengembangkan fasilitas kesehatan. Kalau tidak cermat dan bijak, pendekatan ini bisa membawa dampak yang justru kontraproduktif bagi perkembangan perekonomian daerah secara keseluruhan.

Kenapa bisa begitu? Karena ketika pajak dan retribusi dipungut secara berlebihan dan membabi buta demi mendongkrak pendapatan daerah, maka penanam modal enggan berinvestasi di daerah itu, para pengusaha tak bersemangat mengembangkan bisnis, dan para eksportir lari, lebih memilih daerah lain.

Kalau TTI enggak ada yang betah dan banyak hengkang, maka pertumbuhan ekonomi stagnan dan perekonomian daerah semakin menurun. Pemkab Banyuwangi tidak menggunakan “Pendekatan PAD” tapi “Pendekatan PDRB”. Dalam “Pendekatan PDRB” orientasinya adalah pemda menciptakan iklim kondusif agar TTI bisa tumbuh berkembang dan membawa dampak positif kepada perekonomian secara keseluruhan.

Kalau perekonomian berkembang, maka pendapatan per kapita masyarakat meningkat dan ujung-ujungnya kualitas hidup masyarakat juga akan terdongkrak naik. Ingat dampak positif berkembangnya TTI, kalau tourism maju, maka agen perjalanan, hotel, resto, jasa transportasi akan maju.

Produk oleh-oleh, cenderamata, atau warung kuliner yang diusahakan oleh rakyat juga akan laris. Inilah yang disebut multiplier effect. Kalau trade maju, maka komoditas pertanian atau produk-produk industri daerah akan bisa dipasarkan ke luar daerah bahkan ke pasar ekspor. Kalau ini terwujud, maka produsen lokal akan mendapatkan nilai tambah yang lebih tinggi sehingga usaha mereka juga akan makin maju. Kalau investment maju, maka pabrik yang dibangun akan menghasilkan penyerapan tenaga kerja yang besar.

Di samping itu ketika investasinya berkembang, maka pabrik tersebut akan menyumbang pajak yang besar ke daerah. Jadi, di sini pendekatannya di balik bukannya membebani TTI dengan mengutip pajak/retribusi untuk mendongkrak pendapatan daerah.

Namun, mendatangkan TTI melalui pelayanan prima agar berkembang dan ketika sudah berkembang, maka pada gilirannya mereka akan memberikan kontribusi pajak/retribusi yang besar. Perlu diingat bahwa main customers pemda adalah TTI. Karena mereka adalah konsumen utama, maka mereka harus dilayani dan dipuaskan.

Tujuannya adalah agar mereka bisa tumbuh dan berkembang baik. Ketika TTI maju, maka dengan sendirinya pemda dan perekonomian daerah secara keseluruhan akan maju. Ketika perekonomian maju, maka taraf hidup masyarakat juga akan meningkat. Jadi dengan pendekatan ini kemajuan pemda akan seiring dengan kemajuan TTI. Jadi slogannya adalah TTI berkembang, pemda berkembang, dan akhirnya rakyat berkembang.

Dengan kata lain, pendekatannya adalah “give first and then you get”. Pemda memberi dulu, baru setelah itu pemda akan mendapatkan. Bukan sebaliknya. Dan jangan salah, “semakin pemda banyak memberi, maka semakin banyak pula pemda akan mendapatkan”,“the more you give, the more you get”.

Semakin pemda banyak memberi kepada TTI berupa iklim usaha yang kondusif, proses perizinan yang mudah, atau pelayanan yang terbaik; maka semakin banyak pula kami mendapatkan berupa penyerapan tenaga kerja oleh industri, berkembangnya perekonomian rakyat di lingkungan destinasi wisata, tumbuhnya perdagangan lokal ataupun ekspor, dan meningkatnya pendapatan pajak. Kalau hal ini terwujud, otomatis PDRB akan bergerak naik dan rakyat makin makmur.

YUSWOHADY
Managing Partner Inventure www.yuswohady.com @yuswohady
(nfl)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Terancam Tutup, Perusahaan...
Terancam Tutup, Perusahaan Perparkiran Butuh Sederet Relaksasi Pajak
Sosialisasikan COVID-19,...
Sosialisasikan COVID-19, Pengelola Apartemen Manfaatkan Jaringan TV Lokal
Pabrik Mulai Berproduksi,...
Pabrik Mulai Berproduksi, VW Ubah Logo seperti Game PacMan
Jukir CentrePark Kembalikan...
Jukir CentrePark Kembalikan Dompet Temuan Berisi Jutaan Rupiah ke Pemiliknya
Pura Trans dan Hino...
Pura Trans dan Hino Latih Smart Driving untuk Para Sopir
Berkat Kerja Keras Tim,...
Berkat Kerja Keras Tim, CentrePark Raih Penghargaan Wajib Pajak Terbaik
Berita Terkini
Tren Mobilitas Ramah...
Tren Mobilitas Ramah Lingkungan Meningkat, Pembiayaan Kendaraan Listrik MUF Melesat
31 menit yang lalu
Rupiah Amburadul Rp18...
Rupiah Amburadul Rp18 Ribu, Produk Rumah Tangga Unilever Bakal Naik Harga di Kuartal II 2026
39 menit yang lalu
Rupiah Terkapar, Dampaknya...
Rupiah Terkapar, Dampaknya Mulai Terasa ke Sektor Industri Nasional
56 menit yang lalu
PLN EPI, PLN Puslitbang...
PLN EPI, PLN Puslitbang dan ITERA Kolaborasi Kembangkan Tanaman Energi
2 jam yang lalu
Pelindo Sinergi Lokaseva...
Pelindo Sinergi Lokaseva Catat Kinerja Operasional Positif di Awal 2026
2 jam yang lalu
BRI Life Ungkap Peran...
BRI Life Ungkap Peran Mitra Stategis Selama 4 Dekade
2 jam yang lalu
Infografis
10 Figur Publik Penerima...
10 Figur Publik Penerima Beasiswa LPDP, dari Mutiara Baswedan hingga Maudy Ayunda
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved