alexametrics

Proyek KCIC Sebabkan Banjir Tol Japek

loading...
A+ A-
JAKARTA - Kementerian Perhubungan (Kemenhub) menyatakan penyebab genangan banjir di jalan tol Jakarta-Cikampek pada Km 24 beberapa waktu lalu adalah saluran air di sekitar tol yang tertutup akibat aktivitas proyek kereta cepat Jakarta-Bandung.

Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kemenhub Budi Setiyadi memastikan pemerintah telah mengatasi banjir di tol Jakarta-Cikampek (Japek) beberapa waktu lalu.

Menurut Dirjen Budi, kementeriannya telah berkoordinasi dengan kepolisian, termasuk Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) bersama operator Jasa Marga. Dia menjelaskan bahwa terdapat saluran air sekitar tol yang tersumbat karena aktivitas pembangunan proyek Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) Jakarta-Bandung.



”Ada penutupan untuk jalan kerja. Makanya yang tadinya gorong-gorong, tadinya ada tiga saluran air disitu, itu terhambat karena dibantaran paritnya ditutup pakai beton,” kata Budi di Jakarta kemarin.Dia juga menegaskan bahwa banjir yang terjadi di tol Jakarta-Cikampek tersebut baru kali ini terjadi. Tol Jakarta-Cikampek tidak pernah digenangi air cukup lama. ”Tadinya saluran air bagus, kemudian tutup untuk alat berat, itu dampaknya,” ujarnya.

Budi pun menyebut sejumlah lokasi terdampak banjir yang paling parah, di antaranya Km 19 dan Km 24. Saat ini saluran air tertutup yang menjadi biang kerok banjir tersebut sudah dibuka kembali.

Pemudik Beralih ke Kendaraan Pribadi
Disisi lain Kemenhub, mencatat jumlah penumpang angkutan umum sebanyak 17 juta orang selama masa angkutan Natal 2019 dan Tahun Baru 2020 (Nataru). Jumlah tersebut menurun 2% dibandingkan realisasi pada periode yang sama tahun sebelumnya.

”Data penumpang angkutan umum pada Nataru 2020 dari 19 Desember 2019-5 Januari 2020 adalah 17,059 juta penumpang. Jumlah tersebut mengalami penurunan 2%,” ungkap Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenhub Hengki Angkasawan di Jakarta kemarin.

Penumpang umum angkutan jalan Nataru 2020 mengalami penurunan 20% menjadi2,5 juta penumpang. Pada periode yang sama tahun lalu, jumlah penumpang moda angkutan jalan mencapai 3,3 juta penumpang. Selanjutnya, volume penumpang angkutan udara Nataru 2020 sebanyak 5,1 juta penumpang. Angka tersebut mengalami penurunan 6,5% dari periode yang sama tahun lalu yang berjumlah 5,4 juta penumpang.

Adapun volume penumpang angkutan penyeberangan mengalami kenaikan pada angkutan Nataru 2020 sebesar 18%, yakni dari 2,1 juta menjadi 2,5juta penumpang. Jumlah penumpang angkutan laut Nataru2020 naik 13,5% menjadi 1,1 juta penumpang. Lalu, jumlah penumpang angkutan kereta api (KA) Nataru kali ini 5,7 juta penumpang atau naik 4,4%.

Di sisi lain, ungkap Hengki,berdasarkan data PT Jasa Marga (Persero) Tbk, jumlah kendaraan di jalan tol pada masa angkutan Nataru 2020 mencapai 5,5 juta atau naik 17,7% dibandingkan periode yang sama tahun lalu, 4,7 juta kendaraan.

Dia menambahkan, tol layang Jakarta-Cikampek juga sudah dibuka selama masa angkutan Nataru 2020. Pada 21 Desember 2019 banyak kendaraan yang melalui ruas tol tersebut. Namun, akibat hal tersebut terjadi kemacetan pada pertemuan antara lalu lintas jalan tol layang dan jalan tol Jakarta-Cikampek yang sudah ada sebelumnya di Km 48.

Di tempat yang sama, Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kemenhub Budi Setiyadi menjelaskan, jumlah penumpang angkutan jalan, khususnya bus, pada masa Nataru2020 menurun. Hal itu diperkirakan karena banyak yang menggunakan kendaraan pribadi. Kenaikan jumlah kendaraan pribadi juga berdampak pada meningkatnya penggunaan moda angkutan penyeberangan antarpulau. Budi menuturkan, bertambahnya antusiasme masyarakat menggunakan kendaraan pribadi salah satunya disebabkan semakin tersambungnya jalan tol di wilayah Jawa maupun Sumatera.

Direktur Prasarana Transportasi Jalan Kemenhub Mohamad Risal Wasal mengungkapkan, jumlah kendaraan meningkat pada Nataru 2020 bukan hanya berasal dari kendaraan pribadi, tapi juga kendaraan sewa.

Sementara itu, Sekretaris Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kemenhub Nur Isnin Istiartono mengungkapkan bahwa semakin tersambungnya jalan tol berpengaruh terhadap volume penumpang pesawat Nataru 2020 yangmengalami penurunan.

”Tapi sebelumnya prediksi kami itu jumlah penumpang angkutan udara Nataru 2020 turun hingga 8,4%. Namun, Alhamdulillah, karena kepercayaan publik, hanya turun 6,5%,” katanya.Berdasarkan data Polri, selama 19 Desember 2019-5 Januari 2020 angka kecelakaan lalulintas meningkat 3,3% dibandingkan periode yang samatahun lalu. Adapun angka korban meninggal dunia meningkat 16,1%. Budi melanjutkan, salah satu catatan kecelakaan yang terjadi pada masa angkutan Nataru 2020 adalah kecelakaan bus di Pagar Alam, Sumatera Selatan,yang menewaskan 35 korban jiwa pada 24 Desember 2019.

”Pak Menteri Perhubungan sudah menginstruksikan kepada kami untuk melakukan perbaikan full effort agar kejadian serupa tak terjadi lagi. Di situ akan dikaji lebih dalam untuk kondisi infrastrukturnya dan memastikan keselamatan bus,” papar Budi Setiyadi. (Ichsan Amin)
(nfl)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak
Top