BI Ungkap Harga Minyak Anjlok Penyebab Rupiah Ambruk
Senin, 09 Maret 2020 - 18:02 WIB
BI Ungkap Harga Minyak Anjlok Penyebab Rupiah Ambruk
A
A
A
JAKARTA - Bank Indonesia (BI) mengungkapkan, penyebab kejatuhan rupiah hingga Rp14.832 per dolar Amerika Serikat (USD) karena anjloknya harga minyak dunia. Kejatuhan itu dipicu oleh aksi Arab Saudi yang memangkas harga jual, hingga tidak hanya membuat pasar mata uang bergejolak tetapi pasar saham juga berjatuhan.
Direktur Eksekutif Departemen Pengelolaan Moneter Bank Indonesia (BI) Nanang Hendarsyah mengatakan pelemahan rupiah ini disebabkan anjlokhnya harga minyak dunia. Sebagai informasi, harga minyak mentah dunia anjlok pada hari Senin (9/3/2020), setelah Arab Saudi mendeklarasikan perang harga dengan siap membanjiri pasar dengan minyak mentah demi merebut kembali pangsa pasar. Arab Saudi mengejutkan pasar dengan meluncurkan perang harga terhadap Rusia.
"Kekhawatiran pasar juga mendorong pelemahan indeks saham AS, Eropa dan Emerging cukup tajam. Sementara itu harga minyak turun tajam setelah Saudi berencana meningkatkan produksi minyaknya sebanyak 10 juta barrel/ hari bulan April mendatang," ujar Nanang kepada SINDOnews di Jakarta, Senin (9/3/2020).
Lebih lanjut Ia menerangkan, hal itu dilakukan Arab Saudi sebagai respons atas penolakan Russia atas usulan OPEC+ untuk melakukan cutting production lebih dalam sebagai upaya stabilisasi harga minyak yang terdampak wabah virus Corona. "Risk OFF global tersebut memicu dana asing keluar dari pasar SBN dan saham, sehingga mendorong yield SBN 10 th seri FR82 naik ke 7.03%," jelasnya.
Sambung dia menambahkan, rilis data sektor tenaga kerja AS hari Jumat lalu tercatat cukup solid (Change in Nonfarm Payroll 273K lebih baik dari ekspektasi 175K dan periode sebelumnya 225K yang direvisi menjadi 273K; Unemployment Rate turun dari 3,6% ke 3,5% lebih baik dari ekspektasi 3,6%).
"Namun kekhawatiran pasar pada dampak virus Corona ditambah dengan gagalnya tercapainya kesepakatan penurunan produksi oleh OPEC+ lebih mendominasi pasar," ungkapnya.
Direktur Eksekutif Departemen Pengelolaan Moneter Bank Indonesia (BI) Nanang Hendarsyah mengatakan pelemahan rupiah ini disebabkan anjlokhnya harga minyak dunia. Sebagai informasi, harga minyak mentah dunia anjlok pada hari Senin (9/3/2020), setelah Arab Saudi mendeklarasikan perang harga dengan siap membanjiri pasar dengan minyak mentah demi merebut kembali pangsa pasar. Arab Saudi mengejutkan pasar dengan meluncurkan perang harga terhadap Rusia.
"Kekhawatiran pasar juga mendorong pelemahan indeks saham AS, Eropa dan Emerging cukup tajam. Sementara itu harga minyak turun tajam setelah Saudi berencana meningkatkan produksi minyaknya sebanyak 10 juta barrel/ hari bulan April mendatang," ujar Nanang kepada SINDOnews di Jakarta, Senin (9/3/2020).
Lebih lanjut Ia menerangkan, hal itu dilakukan Arab Saudi sebagai respons atas penolakan Russia atas usulan OPEC+ untuk melakukan cutting production lebih dalam sebagai upaya stabilisasi harga minyak yang terdampak wabah virus Corona. "Risk OFF global tersebut memicu dana asing keluar dari pasar SBN dan saham, sehingga mendorong yield SBN 10 th seri FR82 naik ke 7.03%," jelasnya.
Sambung dia menambahkan, rilis data sektor tenaga kerja AS hari Jumat lalu tercatat cukup solid (Change in Nonfarm Payroll 273K lebih baik dari ekspektasi 175K dan periode sebelumnya 225K yang direvisi menjadi 273K; Unemployment Rate turun dari 3,6% ke 3,5% lebih baik dari ekspektasi 3,6%).
"Namun kekhawatiran pasar pada dampak virus Corona ditambah dengan gagalnya tercapainya kesepakatan penurunan produksi oleh OPEC+ lebih mendominasi pasar," ungkapnya.
(akr)
Lihat Juga :