Arahan Bekerja di Rumah Cegah Corona, Perusahaan Dibayangi Kerugian

Minggu, 15 Maret 2020 - 14:05 WIB
Arahan Bekerja di Rumah...
Arahan Bekerja di Rumah Cegah Corona, Perusahaan Dibayangi Kerugian
A A A
JAKARTA - Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Bidang Hubungan Internasional Shinta Kamdani menerangkan, arahan untuk bekerja di rumah terkait dengan upaya pencegahan penyebaran virus corona (Covid-19) berpotensi mengganggu produktifitas yang akhirnya bisa membuat perusahaan merugi. Kerugian ini pun ditaksir Shinta akan bergantung pada jenis usaha dan berapa banyak porsi pekerjaan yang dapat dipertahankan secara remote.

"Kalau tidak ada produktifitas sudah pasti perusahaan akan rugi. Kerugiannya berapa ya belum tahu karena tergantung jenis usahanya dan seberapa banyak porsi pekerjaan/produktifitas yang bisa dipertahankan dalam kondisi remote," kata Shinta saat dihubungi SINDOnews di Jakarta, Minggu (15/3/2020).

(Baca Juga: Imbas Corona, 6 Perusahaan Ini Instruksikan Karyawan Kerja di Rumah )

Dia menjelaskan, bahwa tidak seluruh perusahaan dapat menjalankan fungsi pekerjaannya tanpa interaksi langsung dan tidak berada di tempat atau kantor. Dengan tidak adanya interaksi, maka produktifitas kerja tidak akan terjadi.

"Banyak kegiatan usaha dan pekerjaan yang masih membutuhkan interaksi langsung antar manusia atau menuntut pekerjaan tersebut dilakukan di tempat tertentu. Tanpa adanya interaksi atau tidak berada di tempat tersebut, pekerjaan atau produktifitas tidak terjadi," sambungnya.

Sambung dia mengungkapkan, kerugian yang dimaksud bukan berarti perusahaan tak akan mendapat keuntungan saja, melainkan perusahaan tak akan mencapai target atau niche namun harus tetap menggelontorkan pengeluaran dengan besaran yang sama. Produktifitas dapat terjadi dengan interaksi langsung dan menciptakan penghasilan bagi perusahaan nantinya juga dinilai akan merosot.

"Kerugian yang dimaksud di sini bukan hanya masalah perusahaan tidak menciptakan keuntungan, tetapi kerugian niche karena perusahaan harus membayar pengeluaran dengan besaran yang sama (fixed cost usaha akan terus jalan) tetapi output produktifitas yang bisa menciptakan penghasilan bagi perusahaan turun secara drastis," tandasnya.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Ribuan Warga Jakarta...
Ribuan Warga Jakarta Positif Corona, 174 Tenaga Medis Terjangkit
Tenaga Medis Berguguran,...
Tenaga Medis Berguguran, Pasien Corona Malah Pulang Kampung
Virus Corona di Italia...
Virus Corona di Italia Terus Menyebar
Anak-anak di Sejumlah...
Anak-anak di Sejumlah Daerah Sumbangkan Tabungan untuk APD Tenaga Medis
Usai Dikarantina di...
Usai Dikarantina di Lanud Soewondo, 60 TKI dari Malaysia Dijemput Pulang
Kemenkes Umumkan Covid-19...
Kemenkes Umumkan Covid-19 Varian Baru Masuk Indonesia
Berita Terkini
Lompatan Besar Transportasi...
Lompatan Besar Transportasi Publik Jakarta: Terbaik Kedua di ASEAN, Posisi ke-27 Dunia
2 jam yang lalu
IHSG Sepekan Ambruk...
IHSG Sepekan Ambruk 8,69%, Market Cap Menyusut Jadi Rp9.807 Triliun
3 jam yang lalu
Masyarakat Diminta Tak...
Masyarakat Diminta Tak Panik Respons Kondisi Ekonomi RI, Ekonom: Jaga Optimisme Berdasar Data
13 jam yang lalu
Program CIMB Niaga Sustainability...
Program CIMB Niaga Sustainability Journalism Fellowship Memilih 20 Jurnalis
13 jam yang lalu
Purbaya Belum Percaya...
Purbaya Belum Percaya Daya Beli Mulai Lesu di Warteg: Nanti Saya Cek Lagi
14 jam yang lalu
LPPOM Dorong Konsep...
LPPOM Dorong Konsep Green Halal untuk Perkuat Industri Berkelanjutan
14 jam yang lalu
Infografis
Pasar di Jakarta Hasilkan...
Pasar di Jakarta Hasilkan 500 Ton Sampah Per Hari
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved