Bukan Milenial, Covid-19 Jadi Katalisator Work from Home

Sabtu, 21 Maret 2020 - 08:15 WIB
Bukan Milenial, Covid-19 Jadi Katalisator Work from Home
Bukan Milenial, Covid-19 Jadi Katalisator Work from Home
A A A
Yuswohady
Managing Partner Inventure
www.yuswohady.com

Dalam buku Millennials Kill Everything, saya meramalkan bahwa generasi milenial bakal “membunuh” jam kerja “9 to 5” karena mereka mulai bekerja di rumah ( work from home/WFH ).

Surprisingly, dalam beberapa hari ini, sejak muncul pengumuman korban meninggal akibat virus Covid-19, sekonyong-konyong WFH langsung naik daun di Indonesia.

Tak sekadar omongan di antara netizen di medsos, tapi karyawan baik negeri maupun swasta kini struggling bereksperimen untuk mencoba model bekerja gaya baru, yaitu WFH.

Rupanya “pembunuhan” jam kerja “9 to 5” tak hanya dilakukan oleh milenial, tapi juga oleh Covid-19. Wabah telah menjadi katalisator menuju budaya kerja baru, yaitu bekerja di rumah.

Akankah WFH menjadi kenormalan baru bahkan setelah krisis Covid-19 berakhir?

Belajar dari apa yang terjadi di China, Covid-19 telah memaksa karyawan untuk menerapkan pola kerja baru, yaitu bekerja di rumah.

Seperti di Indonesia, di China WFH merupakan hal yang tidak biasa karena sejak awal mereka tidak mengenal tradisi bekerja di rumah. Namun, sejak 3 Februari lalu saat pemerintah mengumumkan lockdown dan meminta masyarakat tinggal di rumah, semuanya berubah drastis.

Mulai saat itu mereka “dipaksa” untuk bekerja di rumah karena memang tidak ada pilihan lain. (Baca: Imbas Corona, Pemerintah Diminta Tunda Cicilan Bank bagi Pedagang Kecil)

Responsnya bermacam-macam. Ada yang protes karena bosnya terlalu instruksif dan tak percaya pada anak buah. Ada yang tak bisa fokus bekerja di rumah karena “gangguan” anak-anak. Ada yang sama sekali tidak bisa bekerja karena memang baru pertama kali menjalani WFH.
Halaman :
Komentar
Copyright © 2022 SINDOnews.com
berita/ rendering in 0.1598 seconds (11.252#12.26)