Puluhan Juta Orang Terancam Kehilangan Pekerjaan Imbas Krisis Corona

Jum'at, 27 Maret 2020 - 16:26 WIB
Puluhan Juta Orang Terancam...
Puluhan Juta Orang Terancam Kehilangan Pekerjaan Imbas Krisis Corona
A A A
GENEVA - Dampak penyebaran wabah virus corona terhadap sektor ketenagakerjaan secara global bisa jauh melebihi prediksi, dimana diperkirakan 25 juta bisa kehilangan pekerjaan seperti disampaikan oleh pejabat PBB. Hal ini setelah pada 21 Maret 2020 lalu, sebanyak 3,28 juta warga Amerika Serikat (AS) tercatat mengajukan klaim tunjangan pengangguran.

Menurut Kementerian Tenaga Kerja AS, data itu adalah lonjakan klaim pengangguran tertinggi sejak 1967 lalu. Sebelumnya, lonjakan klaim tertinggi hanya mencapai 695.000 klaim yang terjadi pada 2 Oktober 1982 silam.

Lonjakan klaim pengangguran tahun ini mencapai 3.001.000 klaim dari data pekan sebelumnya yang hanya sekitar 282.000 klaim. Sebelum diserang virus corona, jumlah klaim pengangguran di AS rata-rata per minggunya hanya sebanyak 200.000 klaim saja.

Peningkatan pengangguran di AS diyakini menunjukkan skala bencana ekonomi. The International Labour Organization (ILO) sebuah Organisasi Buruh Internasional yang bagian dari PBB telah memperkirakan seminggu yang lalu bahwa, berdasarkan skenario dampak pandemi pada pertumbuhan, angka pengangguran global akan meningkat antara 5.300.000 dan 24.700.000.

Namun Direktur Departemen kebijakan Ketenagakerjaan ILO, Sangheon Lee kepada Reuters di Jenewa mengatakan bahwa skala pengangguran hanya sementara, lay-off dan jumlah klaim pengangguran jauh lebih tinggi daripada yang diprediksi sebelumnya.

"Kami mencoba untuk memasukkan faktor shock besar-besaran ke dalam model proyeksi kami. Besarnya fluktuasi jauh lebih besar dari yang diperkirakan. Kami rasa akan jauh lebih besar, jauh lebih tinggi daripada prediksi 25 juta," ungkapnya.

Sebagai perbandingan, pada krisis keuangan global 2008/2009 tercatat angka pengangguran global meningkat menjadi 22.000.000. Di Amerika Serikat terlihat dimana klaim pengangguran melonjak menyusul banyak perusahaan memilih tutup dalam beberapa pekan terakhir di tengah pandemi corona

Ekonom dalam jajak pendapat oleh Reuters, telah memperkirakan klaim akan naik 1.000.000, meskipun prediksi mencapai setinggi 4.000.000. Ditambahkan data dalam skenario dijabarkan oleh Presiden Federal Reserve Bank of St Louis, James Bullard yang memperingatkan bahwa hingga 46.000.000 orang di negara itu -hampir sepertiga dari pekerja AS- bisa kehilangan pekerjaan mereka dalam jangka pendek.

India Lockdown

Negara di seluruh dunia telah merasakan wabah virus corona tidak hanya menjangkit manusia tetapi juga ekonomi. Dimana Covid-19 telah menginfeksi 470.000 orang serta menewaskan lebih dari 21.000 dan dicemaskan bisa memicu resesi global.

Di India, di mana Perdana Menteri Narendra Modi mengumumkan 21 hari lockdown sebagai upaya untuk membendung penyebaran virus corona. Kelompok industri memperingatkan bisa menghilangkan tenaga kerja bisa hingga puluhan juta orang.

Bendahara Federasi Asosiasi pariwisata & perhotelan India, Garish Oberoi mengatakan kepada Reuters bahwa kelompok perdagangan memperkirakan bahwa sekitar 38.000.000 pekerjaan bisa hilang di sektor pariwisata dan perhotelan saja.

Kelompok yang paling terpukul di India, diperkirakan adalah buruh migran yang mencapai 120 juta. Mereka kehilangan upah, yang membuatnya tidak mampu menyewa tempat tinggal atau memenuhi kebutuhan makan.

Sedangkan Eropa, Perancis membujuk perusahaan untuk tidak memecat karyawan mereka, termasuk melalui skema yang memungkinkan bisnis untuk mengurangi jam kerja sehingga mengurangi beban upah besar karyawan.

Kementerian Tenaga kerja mengatakan hampir 100.000 perusahaan Perancis telah meminta pemerintah untuk mengganti apa yang mereka keluarkan terhadap 1.200.000 pekerja yang mengurangi jam kerja mereka atau bahkan dirumahkan. Dimana sejak wabah melanda, keputusan lockdown membuat aktivitas perusahaan terhenti.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Sempat Dirawat Intensif,...
Sempat Dirawat Intensif, 2 Pasien Positif Covid-19 Meninggal Dunia
Sulit Ekonomi karena...
Sulit Ekonomi karena Corona, Ayah Jual Ponsel Rusak untuk Beli Beras
Ribuan Warga Jakarta...
Ribuan Warga Jakarta Positif Corona, 174 Tenaga Medis Terjangkit
Tenaga Medis Berguguran,...
Tenaga Medis Berguguran, Pasien Corona Malah Pulang Kampung
Virus Corona di Italia...
Virus Corona di Italia Terus Menyebar
Anak-anak di Sejumlah...
Anak-anak di Sejumlah Daerah Sumbangkan Tabungan untuk APD Tenaga Medis
Berita Terkini
Rupiah Melemah, Perajin...
Rupiah Melemah, Perajin Tahu Tempe Gelisah Imbas Lonjakan Harga Kedelai Impor
5 menit yang lalu
Dibangun PTPP, RSUD...
Dibangun PTPP, RSUD Thohir Krui Diresmikan Presiden Prabowo
35 menit yang lalu
IHSG Menguat 2,67% Sore...
IHSG Menguat 2,67% Sore Ini, Ditutup di Level 5.900
43 menit yang lalu
Maritza Consulting Bidik...
Maritza Consulting Bidik Pertumbuhan Penjualan Properti Lewat Strategi Berbasis Data
48 menit yang lalu
Harga BBM dan LPG Subsidi...
Harga BBM dan LPG Subsidi Tak Naik Seperti Pertamax, Bahlil: Itu Perintah Presiden
1 jam yang lalu
Harga Pertamax Naik,...
Harga Pertamax Naik, Komisi XII Ingatkan Dampaknya terhadap Daya Beli
1 jam yang lalu
Infografis
Ratusan Mahasiswa Asing...
Ratusan Mahasiswa Asing Berbakat Terancam Kehilangan Masa Depan di AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved