alexametrics

Puluhan Juta Orang Terancam Kehilangan Pekerjaan Imbas Krisis Corona

loading...
A+ A-
GENEVA - Dampak penyebaran wabah virus corona terhadap sektor ketenagakerjaan secara global bisa jauh melebihi prediksi, dimana diperkirakan 25 juta bisa kehilangan pekerjaan seperti disampaikan oleh pejabat PBB. Hal ini setelah pada 21 Maret 2020 lalu, sebanyak 3,28 juta warga Amerika Serikat (AS) tercatat mengajukan klaim tunjangan pengangguran.

Menurut Kementerian Tenaga Kerja AS, data itu adalah lonjakan klaim pengangguran tertinggi sejak 1967 lalu. Sebelumnya, lonjakan klaim tertinggi hanya mencapai 695.000 klaim yang terjadi pada 2 Oktober 1982 silam.

Lonjakan klaim pengangguran tahun ini mencapai 3.001.000 klaim dari data pekan sebelumnya yang hanya sekitar 282.000 klaim. Sebelum diserang virus corona, jumlah klaim pengangguran di AS rata-rata per minggunya hanya sebanyak 200.000 klaim saja.



Peningkatan pengangguran di AS diyakini menunjukkan skala bencana ekonomi. The International Labour Organization (ILO) sebuah Organisasi Buruh Internasional yang bagian dari PBB telah memperkirakan seminggu yang lalu bahwa, berdasarkan skenario dampak pandemi pada pertumbuhan, angka pengangguran global akan meningkat antara 5.300.000 dan 24.700.000.

Namun Direktur Departemen kebijakan Ketenagakerjaan ILO, Sangheon Lee kepada Reuters di Jenewa mengatakan bahwa skala pengangguran hanya sementara, lay-off dan jumlah klaim pengangguran jauh lebih tinggi daripada yang diprediksi sebelumnya.

"Kami mencoba untuk memasukkan faktor shock besar-besaran ke dalam model proyeksi kami. Besarnya fluktuasi jauh lebih besar dari yang diperkirakan. Kami rasa akan jauh lebih besar, jauh lebih tinggi daripada prediksi 25 juta," ungkapnya.

Sebagai perbandingan, pada krisis keuangan global 2008/2009 tercatat angka pengangguran global meningkat menjadi 22.000.000. Di Amerika Serikat terlihat dimana klaim pengangguran melonjak menyusul banyak perusahaan memilih tutup dalam beberapa pekan terakhir di tengah pandemi corona

Ekonom dalam jajak pendapat oleh Reuters, telah memperkirakan klaim akan naik 1.000.000, meskipun prediksi mencapai setinggi 4.000.000. Ditambahkan data dalam skenario dijabarkan oleh Presiden Federal Reserve Bank of St Louis, James Bullard yang memperingatkan bahwa hingga 46.000.000 orang di negara itu -hampir sepertiga dari pekerja AS- bisa kehilangan pekerjaan mereka dalam jangka pendek.

India Lockdown

Negara di seluruh dunia telah merasakan wabah virus corona tidak hanya menjangkit manusia tetapi juga ekonomi. Dimana Covid-19 telah menginfeksi 470.000 orang serta menewaskan lebih dari 21.000 dan dicemaskan bisa memicu resesi global.

Di India, di mana Perdana Menteri Narendra Modi mengumumkan 21 hari lockdown sebagai upaya untuk membendung penyebaran virus corona. Kelompok industri memperingatkan bisa menghilangkan tenaga kerja bisa hingga puluhan juta orang.

Bendahara Federasi Asosiasi pariwisata & perhotelan India, Garish Oberoi mengatakan kepada Reuters bahwa kelompok perdagangan memperkirakan bahwa sekitar 38.000.000 pekerjaan bisa hilang di sektor pariwisata dan perhotelan saja.

Kelompok yang paling terpukul di India, diperkirakan adalah buruh migran yang mencapai 120 juta. Mereka kehilangan upah, yang membuatnya tidak mampu menyewa tempat tinggal atau memenuhi kebutuhan makan.

Sedangkan Eropa, Perancis membujuk perusahaan untuk tidak memecat karyawan mereka, termasuk melalui skema yang memungkinkan bisnis untuk mengurangi jam kerja sehingga mengurangi beban upah besar karyawan.

Kementerian Tenaga kerja mengatakan hampir 100.000 perusahaan Perancis telah meminta pemerintah untuk mengganti apa yang mereka keluarkan terhadap 1.200.000 pekerja yang mengurangi jam kerja mereka atau bahkan dirumahkan. Dimana sejak wabah melanda, keputusan lockdown membuat aktivitas perusahaan terhenti.
(akr)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak
Top