Ada Opsi Karantina Wilayah, Pemerintah harus Perhatikan soal Kebutuhan Pangan

Senin, 30 Maret 2020 - 22:20 WIB
Ada Opsi Karantina Wilayah,...
Ada Opsi Karantina Wilayah, Pemerintah harus Perhatikan soal Kebutuhan Pangan
A A A
JAKARTA - Opsi karantina wilayah saat sedang dikaji oleh pemerintah untuk menyetop penularan infeksi virus corona atau Covid-19. Namun, ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh pemerintah jika melakukan kebijakan ini, salah satunya terkait kebutuhan pangan.

"Kebutuhan pangan menjadi hal yang pokok bagi masyarakat. Kita harus belajar dari kondisi negara lain yang mengalami lockdown. Jangan sampai terjadi chaos," kata Nunung Nuryantono, Dekan Fakultas Ekonomi dan Manajemen (FEM) IPB University kepada SINDOnews, Senin (30/3/2020).

Untuk itu, lanjut Nunung, pemerintah harus menghitung betul antara lama karantina wilayah dengan pasokan yang ada. "Pemerintah harus menghitung betul suatu daerah itu berapa kebutuhan pangannya, serta dari daerah mana pasokan tersebut. Jangan sampai stok ada tapi lama pendistribusiannya" terangnya.

Selain itu, pemerintah harus sudah memiliki data masyarakat mana saja yang butuh pasokan pangan. Jangan sampai ada kecemburuan sosial dalam hal ini, karena akan menyebabkan kekacauan.

"Bantuan langsung tunai itu nanti akan dibelanjakan oleh masyarakat. Dalam hal ini, teknisnya harus cermat. Jangan dibikin pasar kaget karena itu akan mengundang keramaian dan masyarakat yang ekonominya rentan pasti kalah sama yang kaya," paparnya.

Nunung menambahkan, pemerintah juga harus memprioritaskan pasokan pangan yang sangat dibutuhkan dan mudah diolah oleh masyarakat untuk dimakan sehari-hari. Seperti beras, telur, daging, sayuran dan makanan olahan. "Saya rasa stok pangan sampai saat ini masih cukup hingga Lebaran," pungkasnya.
(ven)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Pandemi Tak Surutkan...
Pandemi Tak Surutkan Langkah Kementan Mengawal Pangan
4 RT di Krukut Micro...
4 RT di Krukut Micro Lockdown Omicron, Lurah Pasok Pangan Warga
Jelang Pelonggaran Lockdown...
Jelang Pelonggaran Lockdown di India, 9.887 Kasus Baru Covid-19 dalam Waktu 24 Jam
Kasus Corona Masih Bertambah,...
Kasus Corona Masih Bertambah, PM Inggris Beri Sinyal Longgarkan Penguncian Mulai Senin
Gara-gara Lockdown,...
Gara-gara Lockdown, Banyak Wanita di Saudi Ketahui Suami Poligami
Chatib Basri Sebut Indonesia...
Chatib Basri Sebut Indonesia Tidak Punya Cukup Uang untuk Bisa Terapkan Lockdown
Berita Terkini
IHSG Tergelincir di...
IHSG Tergelincir di Awal Sesi Sentuh 5.744, Transaksi Pagi Cetak Rp1,1 T
9 menit yang lalu
Kilau Emas Antam Kembali...
Kilau Emas Antam Kembali Meredup, Hari Ini Turun Rp20 Ribu ke Rp2.713.000 per Gram
52 menit yang lalu
Gencatan Senjata Gagal!...
Gencatan Senjata Gagal! Harga Minyak Dunia Terbang Tinggi Hampir 1% saat AS Kembali Gempur Iran
1 jam yang lalu
Tarif Trump 18% Mengancam...
Tarif Trump 18% Mengancam Komoditas Unggulan Nasional, RI Rayu AS Minta Pengecualian
3 jam yang lalu
Pertamax Naik Rp3.950...
Pertamax Naik Rp3.950 Jadi Rp16.250/Liter, Ini Daftar Lengkap Harga BBM di SPBU Pertamina
4 jam yang lalu
Harga BBM Pertamax Cs...
Harga BBM Pertamax Cs Resmi Naik per Rabu 10 Juni 2026, Pertalite dan Solar Subsidi Tetap
4 jam yang lalu
Infografis
Tahun 2023, Tidak Ada...
Tahun 2023, Tidak Ada Lagi Tenaga Honorer di Instansi Pemerintah
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved