Fokus di bisnis utama, FREN jual 705 menara
Selasa, 27 Desember 2011 - 08:47 WIB
Fokus di bisnis utama, FREN jual 705 menara
A
A
A
Sindonews.com – PT Smartfren Telecom Tbk (FREN) dan anak usahanya PT Smart Telecom, telah menjual 705 menara telekomunikasi kepada PT Inti Bangun Sejahtera (IBS) senilai sekitar Rp400 miliar.
FREN memilih IBS karena bukan pihak yang terafiliasi dengan perseroan dan fokus dalam bisnis menara telekomunikasi. Direktur FREN Antony Susilo mengatakan, pihaknya sengaja menjual menara telekomunikasi yang dimiliki karena ingin fokus pada pengembangan usaha. “Perusahaan telekomunikasi lain juga melakukan strategi yang sama. Karena, memang ingin fokus pada bisnis utama,” ujarnya saat dihubungi kemarin.
Menurut dia, dengan dijualnya 705 menara, perseroan praktis hanya tinggal menyisakan beberapa menara utama. Menara tersebut belum dijual karena memiliki peranan vital dalam memberikan pelayanan perseroan. Biasanya menara utama terletak di dekat kantor pusat atau cabang FREN. Dia menuturkan, dana hasil penjualan menara akan dipergunakan membiayai aktivitas operasional, seperti meningkatkan kualitas pelayanan.
Dengan demikian, di masa mendatang perseroan bisa terus meningkatkan kinerjanya. Apalagi, perseroan akan mengajukan usulan kepada pemegang saham untuk meningkatkan modal dasarnya menjadi Rp27,7 triliun. Antony mengatakan, belanja modal pada 2012 sekira USD175 juta yang berasal dari fasilitas pinjaman dari China Development Bank.
Sebenarnya nilai pinjaman mencapai USD350 juta. Namun, 50 persen atau USD175 juta di antaranya telah dipergunakan untuk belanja modal 2011. Per Juni 2011, total utang perseroan ini Rp9,79 triliun, di mana Rp5,19 triliun di antaranya pinjaman baru di 2011. Sementara, ekuitas perseroan ini Rp3,01 triliun.
Dengan tambahan utang, debt to equity ratio (DER) FREN di semester satu 2011 mencapai 3,25 kali. DER ini jauh di atas DER industri telekomunikasi yang 1,38 kali. Analis Indosurya Securities Reza Priyambada mengatakan, kinerja FREN bisa dibilang yang terburuk dibandingkan perusahaan sejenis.
Tidak heran kalau harga sahamnya relatif rendah, yakni Rp50 per lembar. Padahal, sebenarnya industri telekomunikasi cukup banyak diminati investor.
FREN memilih IBS karena bukan pihak yang terafiliasi dengan perseroan dan fokus dalam bisnis menara telekomunikasi. Direktur FREN Antony Susilo mengatakan, pihaknya sengaja menjual menara telekomunikasi yang dimiliki karena ingin fokus pada pengembangan usaha. “Perusahaan telekomunikasi lain juga melakukan strategi yang sama. Karena, memang ingin fokus pada bisnis utama,” ujarnya saat dihubungi kemarin.
Menurut dia, dengan dijualnya 705 menara, perseroan praktis hanya tinggal menyisakan beberapa menara utama. Menara tersebut belum dijual karena memiliki peranan vital dalam memberikan pelayanan perseroan. Biasanya menara utama terletak di dekat kantor pusat atau cabang FREN. Dia menuturkan, dana hasil penjualan menara akan dipergunakan membiayai aktivitas operasional, seperti meningkatkan kualitas pelayanan.
Dengan demikian, di masa mendatang perseroan bisa terus meningkatkan kinerjanya. Apalagi, perseroan akan mengajukan usulan kepada pemegang saham untuk meningkatkan modal dasarnya menjadi Rp27,7 triliun. Antony mengatakan, belanja modal pada 2012 sekira USD175 juta yang berasal dari fasilitas pinjaman dari China Development Bank.
Sebenarnya nilai pinjaman mencapai USD350 juta. Namun, 50 persen atau USD175 juta di antaranya telah dipergunakan untuk belanja modal 2011. Per Juni 2011, total utang perseroan ini Rp9,79 triliun, di mana Rp5,19 triliun di antaranya pinjaman baru di 2011. Sementara, ekuitas perseroan ini Rp3,01 triliun.
Dengan tambahan utang, debt to equity ratio (DER) FREN di semester satu 2011 mencapai 3,25 kali. DER ini jauh di atas DER industri telekomunikasi yang 1,38 kali. Analis Indosurya Securities Reza Priyambada mengatakan, kinerja FREN bisa dibilang yang terburuk dibandingkan perusahaan sejenis.
Tidak heran kalau harga sahamnya relatif rendah, yakni Rp50 per lembar. Padahal, sebenarnya industri telekomunikasi cukup banyak diminati investor.
()