Turunkan BOPO, bank BUMN genjot e-channel
Rabu, 28 Desember 2011 - 09:53 WIB
Turunkan BOPO, bank BUMN genjot e-channel
A
A
A
Sindonews.com - Sejumlah bank BUMN berniat untuk menurunkan rasio biaya operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO) mulai tahun depan. Salah satu caranya dengan menggenjot transaksi elektronik (e-channel).
Direktur Keuangan PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) Saut Pardede mengatakan, terdapat dua variabel utama untuk mendorong penurunan BOPO, yaitu menurunkan biaya operasional dan menaikkan pendapatan. Untuk meningkatkan pendapatan,tentu salah satu upaya yang bisa dilakukan adalah dengan meningkatkan e- channel.
Menurut Saut, BTN ingin mendorong rasio BOPO serendah mungkin meskipun tidak dapat dilakukan secara drastis. Saut berharap, hingga akhir tahun BOPO perseroan dapat berada di kisaran 82 persen dan dapat diturunkan menjadi 80 persen di tahun 2012. Upaya yang dilakukan BTN di antaranya dengan menekan biaya operasional sumber daya manusia (SDM) serta fokus pada jaringan teknologi informasi yang ada.
Saut menjelaskan, besarnya rasio BOPO bank-bank di Indonesia memang masih disebabkan tingginya keperluan ekspansi seperti pembukaan cabang, pengadaan ATM, teknologi informasi,dan sebagainya. ”Pengembangan jaringan layanan di seluruh Indonesia itu kan memengaruhi BOPO. Tapi secara tren itu akan turun terus,” ungkapnya usai diskusi ”Fokus Baru Pemeriksaan BPK”di Jakarta, baru-baru ini.
Saut menolak anggapan biaya promosi yang dikeluarkan BTN terlalu besar sehingga berpengaruh terhadap efisiensi. Menurut Saut, alokasi biaya promo BTN hanya berkisar 0,02 persen dari total dana pihak ketiga atau mencapai sekitar Rp120 miliar–Rp130 miliar. ”Kita bukan termasuk bank-bank yang jor-joran ngasih hadiah. Jadi, untuk hadiah itu kecil,” tutur dia.
Sementara,Direktur Utama PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) Gatot M Suwondo mengatakan akan menurunkan BOPO di bawah posisi saat ini yang sebesar 70 persen. Menurut Gatot, salah satu upaya menurunkan BOPO adalah dengan mengurangi biaya pengembangan elektronik dan lebih mengarahkan transaksi nasabah melalui mobile banking.
BNI juga tidak keberatan jika BI mengatur pemberian hadiah. Selama ini BNI menghabiskan sekitar Rp750 miliar setahun untuk biaya promosi dan hadiah. ”Untuk jenis promosi, sepertinya perlu dikaji ulang. Tidak mungkin bank tidak melakukan promosi,” tandasnya. Meski tidak menyebutkan berapa target BOPO ke depan, Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) Sofyan Basir mengaku tidak keberatan apabila BI ingin membatasi pemberian hadiah.
Sofyan menilai, pemberian hadiah sangat sedikit pengaruhnya terhadap BOPO.” Itu hanya 0,0 sekian. Kecil sekali pengaruhnya,” imbuhnya. Menurut Sofyan, selain fokus mengembangkan mikro, tahun depan perseroan akan mengembangkan Teras dan electronic channel di seluruh Indonesia seperti ATM dan EDC (electronic data capture) yang ditargetkan sebanyak 10 ribu–12 ribu unit. ”Yes. Dengan itu, kenaikan fee based kita akan naik antara 20–30 persen,” kata dia.
Sebagai informasi, BI pernah menyatakan rendahnya tingkat efisiensi industri perbankan yang tergambar dari rasio BOPO yang mencapai 86,44 persen pada Oktober 2011 dan menempati urutan tertinggi dibandingkan perbankan di kawasan ASEAN yang berada di kisaran 40–60 persen.
Menurut BI, dengan menekan BOPO,maka tingkat suku bunga dapat ditekan sehingga menurunkan suku bunga dan mendorong bank lebih efisien.
Direktur Keuangan PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) Saut Pardede mengatakan, terdapat dua variabel utama untuk mendorong penurunan BOPO, yaitu menurunkan biaya operasional dan menaikkan pendapatan. Untuk meningkatkan pendapatan,tentu salah satu upaya yang bisa dilakukan adalah dengan meningkatkan e- channel.
Menurut Saut, BTN ingin mendorong rasio BOPO serendah mungkin meskipun tidak dapat dilakukan secara drastis. Saut berharap, hingga akhir tahun BOPO perseroan dapat berada di kisaran 82 persen dan dapat diturunkan menjadi 80 persen di tahun 2012. Upaya yang dilakukan BTN di antaranya dengan menekan biaya operasional sumber daya manusia (SDM) serta fokus pada jaringan teknologi informasi yang ada.
Saut menjelaskan, besarnya rasio BOPO bank-bank di Indonesia memang masih disebabkan tingginya keperluan ekspansi seperti pembukaan cabang, pengadaan ATM, teknologi informasi,dan sebagainya. ”Pengembangan jaringan layanan di seluruh Indonesia itu kan memengaruhi BOPO. Tapi secara tren itu akan turun terus,” ungkapnya usai diskusi ”Fokus Baru Pemeriksaan BPK”di Jakarta, baru-baru ini.
Saut menolak anggapan biaya promosi yang dikeluarkan BTN terlalu besar sehingga berpengaruh terhadap efisiensi. Menurut Saut, alokasi biaya promo BTN hanya berkisar 0,02 persen dari total dana pihak ketiga atau mencapai sekitar Rp120 miliar–Rp130 miliar. ”Kita bukan termasuk bank-bank yang jor-joran ngasih hadiah. Jadi, untuk hadiah itu kecil,” tutur dia.
Sementara,Direktur Utama PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) Gatot M Suwondo mengatakan akan menurunkan BOPO di bawah posisi saat ini yang sebesar 70 persen. Menurut Gatot, salah satu upaya menurunkan BOPO adalah dengan mengurangi biaya pengembangan elektronik dan lebih mengarahkan transaksi nasabah melalui mobile banking.
BNI juga tidak keberatan jika BI mengatur pemberian hadiah. Selama ini BNI menghabiskan sekitar Rp750 miliar setahun untuk biaya promosi dan hadiah. ”Untuk jenis promosi, sepertinya perlu dikaji ulang. Tidak mungkin bank tidak melakukan promosi,” tandasnya. Meski tidak menyebutkan berapa target BOPO ke depan, Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) Sofyan Basir mengaku tidak keberatan apabila BI ingin membatasi pemberian hadiah.
Sofyan menilai, pemberian hadiah sangat sedikit pengaruhnya terhadap BOPO.” Itu hanya 0,0 sekian. Kecil sekali pengaruhnya,” imbuhnya. Menurut Sofyan, selain fokus mengembangkan mikro, tahun depan perseroan akan mengembangkan Teras dan electronic channel di seluruh Indonesia seperti ATM dan EDC (electronic data capture) yang ditargetkan sebanyak 10 ribu–12 ribu unit. ”Yes. Dengan itu, kenaikan fee based kita akan naik antara 20–30 persen,” kata dia.
Sebagai informasi, BI pernah menyatakan rendahnya tingkat efisiensi industri perbankan yang tergambar dari rasio BOPO yang mencapai 86,44 persen pada Oktober 2011 dan menempati urutan tertinggi dibandingkan perbankan di kawasan ASEAN yang berada di kisaran 40–60 persen.
Menurut BI, dengan menekan BOPO,maka tingkat suku bunga dapat ditekan sehingga menurunkan suku bunga dan mendorong bank lebih efisien.
()