Awal tahun, harga CPO merangkak naik

Jum'at, 06 Januari 2012 - 10:02 WIB
Awal tahun, harga CPO...
Awal tahun, harga CPO merangkak naik
A A A
Sindonews.com - Kementerian Perdagangan (Kemendag) mencatatkan terjadinya kenaikan harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) di awal tahun 2012. Kenaikan ini dipicu oleh penurunan produksi akibat musim hujan di beberapa negara.

Kepala Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) Syahrul R Sempurnajaya mengatakan, adanya musim hujan di beberapa negara produsen kelapa sawit seperti Malaysia dan Indonesia berpengaruh terhadap pergerakan harga CPO dunia. Dia mencontohkan harga CPO di bursa komoditas di Malaysia.

Di bursa komoditi Malaysia, harga CPO untuk penyerahan Januari 2012 mengalami kenaikan sebesar 55 ringgit Malaysia per ton dan ditutup pada level harga 3.175 ringgit Malaysia per ton. "Itu membuat ekspor Malaysia pada Desember 2011 turun 2,6 persen menjadi 1,49 juta ton dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai 1,53 juta ton," kata Syahrul di Jakarta, Kemarin.

Di dalam negeri, menurut Syahrul, berdasarkan keputusan rapat Tim Penetapan Harga Pembelian dan Buah Segar (H-TBS) kelapa sawit di Kalimantan Timur untuk periode Januari 2012 mengalami kenaikan. Ketetapan tim sesuai dengan Surat Keputusan (SK) Gubernur Kaltim Nomor 525/K.402/2010

Untuk tanaman berumur tiga tahun, harga TBS berada pada level Rp978,34 per kg dari harga sebelumnya Rp932,7 per kg. Tanaman berumur lima tahun berada di level harga Rp1.129,8 per kg dari harga sebelumnya Rp1.077,71 per kg. Sedangkan untuk tanaman berumur 10-25 tahun, harga TBS Rp1.330,07 per kg dari harga sebelumnya Rp1.268,13 per kg.

Ketua Bidang Pemasaran Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Susanto memperkirakan, ekspor minyak sawit mentah (CPO) dan turunannya bisa mencapai 17,5-18 juta ton pada tahun ini. Dia menjelaskan ekspor tahun lalu diperkirakan mencapai 16,5 juta. Jumlah itu mengalami kenaikan dari 2010 yang mencapai 15,65 juta ton.

Dia mengatakan, krisis ekonomi yang terjadi di Amerika Serikat (AS) dan Eropa berpotensi menurunkan kinerja ekspor CPO dan produk turunannya ke dua wilayah itu. Ekspor ke Eropa tahun ini diperkirakan akan stagnan tapi tidak akan turun. Gapki berharap ekspor ke sejumlah negara lainnya bisa meningkat pada tahun ini.

Dia mencontohkan, ekspor ke Pakistan diperkirakan bisa mencapai 800 ribu ton, Jumlah itu naik dari realisasi tahun lalu yang sekitar 120 ribu-130 ribu ton."Jika semuanya berjalan lancar, ekspor ke Pakistan akan bisa mencapai satu juta ton," kata Susanto.
()
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkini
Menkeu Purbaya Tegaskan...
Menkeu Purbaya Tegaskan Fiskal Bukan Tumbal Agar Ekonomi RI Tumbuh Cepat
59 menit yang lalu
Bunga Mulai 1,75%! BRI...
Bunga Mulai 1,75%! BRI KPR Hadirkan Solusi Paling Ringan untuk Miliki Rumah Impian
1 jam yang lalu
Danantara Bantah Isu...
Danantara Bantah Isu Pemilik Tabungan Rp3 Miliar Wajib Beli Patriot Bond
1 jam yang lalu
Pertamina Akselerasi...
Pertamina Akselerasi Transisi Energi Melalui Program Dekarbonisasi dan Bisnis Rendah Karbon
1 jam yang lalu
IFG Life Beri Proteksi...
IFG Life Beri Proteksi 10 Ribu Pelari di Ajang Yellow Run 2026
1 jam yang lalu
Klarifikasi Purbaya...
Klarifikasi Purbaya soal Isu Mundur: Sebagian Informasinya Betul, Sebagian Salah
1 jam yang lalu
Infografis
Rentetan Kasus Korupsi...
Rentetan Kasus Korupsi di Jateng: Tiga Bupati Terjaring KPK pada Awal 2026
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved