Pembatasan BBM kurang pro rakyat

Sabtu, 07 Januari 2012 - 11:53 WIB
Pembatasan BBM kurang...
Pembatasan BBM kurang pro rakyat
A A A
Sindonews.com - Kebijakan yang diambil pemerintah untuk membatasi konsumsi BBM bersubsidi diduga sarat kepentingan politik yang tidak memikirkan kesejahteraan rakyat.

Ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Tulus Abadi mengatakan, pembatasan penggunaan BBM bersubsidi adalah keputusan yang dijadikan sebagai alat untuk menjaga stabilitas politik dan tidak memikirkan kesejahteraan.

"Politik yang membuat pertimbangan, bukan keputusan ekonomi yang menyejahterakan. Pembatasan dijadikan alat untuk stabilisasi poltik," ungkap Tulus dalam acara Polemik Sindo Radio, di Warung Daun Cikini, Jakarta, Sabtu (7/1/2012).

Menurutnya, menaikkan harga BBM adalah instrumen yang jauh lebih efektif ketimbang membatasi penggunaan. Karena pemerintah hanya berputar-putar dan terjebak dalam situasi yang sulit. Hal ini, sambungnya, sangat menyulitkan pengguna karena tidak siapnya infrastruktur.

"Ini menyulitkan pengguna. Infrastruktur gas yang tidak tersedia. Sosial impact jauh lebih besar daripada kenaikan harga," tambahnya.

Dia menilai pembatasan penggunaan BBM subsidi akan menimbulkan distorsi sosial yang lebih besar karena sampai saat ini harga BBM bersubsidi di daerah juga jauh lebih mahal dari harga aslinya.

"Sebelum ada pembatasan, kesulitan akses BBM subsidi. Ada disparitas harga. Di Kalimantan banyak BBM diselundupkan. Harganya juga tinggi. Kalau nanti diputuskan pembatasan distorsi sosial akan lebih besar ketimbang pemerintah menaikkan elegan. Tidak ada kebijakan yang tidak menimbulkan reaksi," pungkasnya.

Hal senada juga dikatakan Wakil Direktur Reforminer Institut Komaidi Notonegoro yang menurutnya pembatasan BBM bersubsidi di bulan april tahun 2012 ini masih diragukan berbagai pihak. "Kebijakan ini merupakan pelarian pemerintah yang sebelumnya mengatakan untuk tahun 2012 tidak ada kenaikan BBM, tapi malah beralih ke pembatasan bbm dengan kondisi infrastruktur yang belum memadai," ungkapnya.

Pemerintah menargetkan daerah Jawa-Bali untuk kebijakan ini, namun menurut catatan yang sudah ada di daerah Jabodetabek hanya ada 16 Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas (SPBG) yang aktif dan hanya 8 yang baru bisa beroperasi. "Dari perhitungan saat ini dibutuhkan 2000 SPBG, karena setiap harinya 1 SPBG hanya bisa melayani 500 kendaraan bermotor," tandasnya. (ank)
()
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkini
Tren Mobilitas Ramah...
Tren Mobilitas Ramah Lingkungan Meningkat, Pembiayaan Kendaraan Listrik MUF Melesat
2 jam yang lalu
Rupiah Amburadul Rp18...
Rupiah Amburadul Rp18 Ribu, Produk Rumah Tangga Unilever Bakal Naik Harga di Kuartal II 2026
2 jam yang lalu
Rupiah Terkapar, Dampaknya...
Rupiah Terkapar, Dampaknya Mulai Terasa ke Sektor Industri Nasional
3 jam yang lalu
PLN EPI, PLN Puslitbang...
PLN EPI, PLN Puslitbang dan ITERA Kolaborasi Kembangkan Tanaman Energi
4 jam yang lalu
Pelindo Sinergi Lokaseva...
Pelindo Sinergi Lokaseva Catat Kinerja Operasional Positif di Awal 2026
4 jam yang lalu
BRI Life Ungkap Peran...
BRI Life Ungkap Peran Mitra Stategis Selama 4 Dekade
5 jam yang lalu
Infografis
Rakyat Palestina Siap...
Rakyat Palestina Siap Deklarasi Perang Lawan Trump
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved