Bank asing cuma targetkan kredit 20%
Selasa, 17 Januari 2012 - 09:48 WIB
Bank asing cuma targetkan kredit 20%
A
A
A
Sindonews.com - Bank Indonesia (BI) mencatat bahwa dalam rencana bisnis bank (RBB) di 2012, bank asing hanya menargetkan pertumbuhan kredit yang relatif rendah di angka 20 persen. Hal ini dikarenakan fokus pembiayaan mereka yang lebih ke korporasi.
"Bank asing lebih menitikberatkan penyaluran kreditnya ke kredit korporasi. Berbeda dengan bank lokal yang lebih siap membiayai sektor UKM," ujar pengamat ekonomi dari Danareksa Institute Purbaya Yudhi Sadewa ketika di Jakarta, Selasa (17/1/2012).
Menurut Purbaya, jaringan kantor cabang, infrastruktur dan IT yang lebih besar lebih membuat bank lokal siap untuk menyalurkan kredit ke masyarakat, khususnya di UKM. Keadaan ini berbeda dengan bank asing, sehingga ekspansi kreditnya cenderung terbatas.
"Cost of capital mereka memang lebih kuat, tetapi bukannya bank asing tidak lebih efisien, likuiditas mereka lebih banyak dalam valas sehingga kalau perbankan mengalami pengetatan likuiditas, mereka yang kena dulu," lanjut dia.
Analisa Purbaya, jika keadaan Uni Eropa makin buruk sehingga berdampak pada kekeringan likuiditas di bank, maka kekeringan rupiah akan terjadi pada bank asing dahulu ketimbang bank lokal. Hal ini jugalah yang membuat bank asing cenderung menahan diri dalam laju pertumbuhan kredit. "Meminjam rupiah dari pasar uang juga dirasa akan lebih mahal," tandasnya.
Sebelumnya, BI menyatakan bahwa secara umum bank hanya menargetkan pertumbuhan kredit di tahun ini secara konservatif di angka 23,66 persen. Bank Sentral sendiri masih berkeyakinan bahwa dengan dukungan GDP, Inflasi dan kurs saat ini, kredit masih bisa tumbuh di level 27 persen.
Beberapa hal yang juga menjadi perhatian BI adalah perkara bank asing yang hanya berani memasang target pertumbuhan kredit sebesar 20 persen. Karena inilah BI berencana melakukan adjustment tentang rencana bank ini satu persatu. (ank)
"Bank asing lebih menitikberatkan penyaluran kreditnya ke kredit korporasi. Berbeda dengan bank lokal yang lebih siap membiayai sektor UKM," ujar pengamat ekonomi dari Danareksa Institute Purbaya Yudhi Sadewa ketika di Jakarta, Selasa (17/1/2012).
Menurut Purbaya, jaringan kantor cabang, infrastruktur dan IT yang lebih besar lebih membuat bank lokal siap untuk menyalurkan kredit ke masyarakat, khususnya di UKM. Keadaan ini berbeda dengan bank asing, sehingga ekspansi kreditnya cenderung terbatas.
"Cost of capital mereka memang lebih kuat, tetapi bukannya bank asing tidak lebih efisien, likuiditas mereka lebih banyak dalam valas sehingga kalau perbankan mengalami pengetatan likuiditas, mereka yang kena dulu," lanjut dia.
Analisa Purbaya, jika keadaan Uni Eropa makin buruk sehingga berdampak pada kekeringan likuiditas di bank, maka kekeringan rupiah akan terjadi pada bank asing dahulu ketimbang bank lokal. Hal ini jugalah yang membuat bank asing cenderung menahan diri dalam laju pertumbuhan kredit. "Meminjam rupiah dari pasar uang juga dirasa akan lebih mahal," tandasnya.
Sebelumnya, BI menyatakan bahwa secara umum bank hanya menargetkan pertumbuhan kredit di tahun ini secara konservatif di angka 23,66 persen. Bank Sentral sendiri masih berkeyakinan bahwa dengan dukungan GDP, Inflasi dan kurs saat ini, kredit masih bisa tumbuh di level 27 persen.
Beberapa hal yang juga menjadi perhatian BI adalah perkara bank asing yang hanya berani memasang target pertumbuhan kredit sebesar 20 persen. Karena inilah BI berencana melakukan adjustment tentang rencana bank ini satu persatu. (ank)
()