Market perumahan Jabar tumbuh 40%

Rabu, 01 Februari 2012 - 11:11 WIB
Market perumahan Jabar...
Market perumahan Jabar tumbuh 40%
A A A


Sindonews.com – Rencana pemerintah menurunkan suku bunga kredit perumahan rakyat dari 8,5% menjadi 6,5-7% diperkirakan berdampak pada industri properti di Jawa Barat. DPD Real Estate Indonesia (REI) Jawa Barat memprediksi, kebijakan itu akan berdampak pada tumbuhnya market perumahan rakyat sebesar 30- 40% dari penjualan tahun lalu.

Ketua DPD REI Jabar Yana Mulyana mengatakan, keputusan pemerintah menyepakati Perjanjian Kerja Sama Operasional (PKO) Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) untuk perumahan rakyat akan mendongkrak kepemilikan rumah murah bagi masyarakat.

Menurut Yana, penurunan suku bunga kredit perumahan rakyat (KPR) sebesar 1,5% memberikan peluang bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) untuk memiliki rumah sederhana tapak (RST).

“Masyarakat berpenghasilan rendah biasanya sangat tergantung pada suku bunga kredit perumahan. Ini karena, pembiayaan pada sektor ini rata-rata di atas 15 tahun,” jelas Yana Mulyana di Bandung, Selasa 31 Januari 2012.

Menurut dia, penurunan suku bunga kredit perumahan rakyat terjadi karena pemerintah menaikkan tanggungan FLPP menjadi 50% dari sebelumnya hanya 40%. Sementara sisanya, ditanggung oleh perbankan. Namun demikian, masyarakat yang bisa menikmati fasilitas tersebut yaitu masyarakat yang berpenghasilan rendah. Tipe rumah yang bisa dimiliki yaitu di bawah tipe 36 dengan kisaran harga Rp70-80 juta per unit.

Kebijakan tersebut, lanjut dia, akan menggairahkan bisnis properti di Jawa Barat. Sebagai perbandingan, penjualan perumahan rakyat selama 2011 hanya berkisar pada angka 50.000 unit. Masyarakat yang ingin memiliki rumah murah, diperkirakan tidak akan tumbuh signifikan pada tahun ini, bila pemerintah tidak menurunkan suku bunga rumah.

“Kalau suku bunga tidak jadi turun, bisa jadi pasar perumahan rakyat stagnan,” timpal dia.

Yana mengakui, tanpa bantuan pemerintah, rakyat berpenghasilan rendah akan semakin sulit memiliki rumah melalui skema KPR. Suku bunga tinggi menjadi salah satu penyebabnya. Selain itu, harga perumahan diperkirakan naik sampai dengan 10% pada tahun ini. Hal itu akan semakin memberatkan masyarakat. Belum lagi, rencana pemerintah menaikkan tarif dasar listrik (TDL) dan pembatasan BBM bersubsidi, akan memicu naiknya harga perumahan.

“Kenaikan TDL disertai pembatasan BBM bersubsidi akan memicu naiknya harga bahan baku bangunan. Kita selaku pengembang, pasti akan ikut menyesuaikan harga perumahan akibat kenaikan cost produksi,” imbuh dia.

Namun demikian, Yana menjamin kenaikan tersebut tidak signifikan. Walaupun, Yana berharap pemerintah memberi opsi lebih bijak terkait rencana kenaikan TDL dan BBM serentak pada bulan April 2012. (bro)
()
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkini
Tren Mobilitas Ramah...
Tren Mobilitas Ramah Lingkungan Meningkat, Pembiayaan Kendaraan Listrik MUF Melesat
5 jam yang lalu
Rupiah Amburadul Rp18...
Rupiah Amburadul Rp18 Ribu, Produk Rumah Tangga Unilever Bakal Naik Harga di Kuartal II 2026
6 jam yang lalu
Rupiah Terkapar, Dampaknya...
Rupiah Terkapar, Dampaknya Mulai Terasa ke Sektor Industri Nasional
6 jam yang lalu
PLN EPI, PLN Puslitbang...
PLN EPI, PLN Puslitbang dan ITERA Kolaborasi Kembangkan Tanaman Energi
7 jam yang lalu
Pelindo Sinergi Lokaseva...
Pelindo Sinergi Lokaseva Catat Kinerja Operasional Positif di Awal 2026
7 jam yang lalu
BRI Life Ungkap Peran...
BRI Life Ungkap Peran Mitra Stategis Selama 4 Dekade
8 jam yang lalu
Infografis
Kronologi Kasus Perdagangan...
Kronologi Kasus Perdagangan 25 Bayi Asal Jabar ke Singapura
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved