Aset perbankan di Solo capai Rp37 triliun
Jum'at, 03 Februari 2012 - 11:50 WIB
Aset perbankan di Solo capai Rp37 triliun
A
A
A
Sindonews.com – Kinerja perbankan secara umum di wilayah Solo Raya pada Desember 2011 menunjukkan perkembangan yang menggembirakan. Hal tersebut tercermin dari indikator utama total aset, kredit, dan Dana Pihak Ketiga (DPK) yang mengalami peningkatan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya atau year on year(yoy).
Pemimpin Bank Indonesia (BI) Solo Doni P Joewono menjelaskan, total aset perbankan pada Desember 2011 mencapai Rp37,82 triliun. Jumlah itu mengalami pertumbuhan 21,07 persen (yoy). Pertumbuhan total aset perbankan terutama berasal dari meningkatnya DPK atau simpanan masyarakat yang mencapai Rp30,67 triliun atau tumbuh 22,38 persen (yoy).
“Dilihat menurut komponennya, simpanan masyarakat paling banyak adalah dalam bentuk tabungan yang mempunyai pangsa sebesar 52,56 persen dari DPK atau mencapai Rp16,12 triliun,” jelas Doni kemarin.
Lebih lanjut dia memaparkan, setelah tabungan, disusul deposito dengan pangsa sebesar 34,63 persen atau sebesar Rp10,62 triliun. Baru kemudian disusul oleh giro yang memiliki pangsa sebesar 12,81 persen atau sebesar Rp3,93 triliun.
Menurutnya, dengan pertumbuhan DPK yang cukup bagus, perbankan lebih leluasa dalam menyalurkan kreditnya. Outstanding kredit perbankan pada Desember 2011 mencapai Rp30,34 triliun atau tumbuh 23,06 persen (yoy). Pertumbuhan kreditdi Wilayah Solo Raya tersebut sesuai dengan target pertumbuhan kredit nasional pada tahun 2011 sebesar 20-23 persen.
Dari jumlah kredit perbankan tersebut, ujarnya, sebesar 37,84 persen dari total kredit atau sebesar Rp11,48 triliun disalurkan kepada 368.289 debitur Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM). Kalangan UMKM yang sudah feasible namun belum bankablepun semakin mudah mengakses pembiayaan bank melalui fasilitas Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang diprogramkan pemerintah.
“Outstanding KUR pada Desember 2011 mencapai Rp796,34 miliar atau tumbuh 105,67 persen (yoy) yang diberikan kepada 91.331 debitur,” jelasnya.
Doni juga mengatakan, perkembangan DPK dan kredit yang cukup baik menunjukkan perbankan di wilayah Solo Raya sudah menjalankan fungsi intermediasi perbankan dengan baik. Pada Desember 2011, kredit investasi mengalami pertumbuhan paling tinggi sebesar 68,24 persen (yoy) menjadi Rp3,32 triliun.
Setelah investasi, disusul kredit konsumsi yang tumbuh 21,33 persen (yoy) menjadi sebesar Rp8,78 triliun dan kredit modal kerja yang tumbuh 18,09 persen (yoy) menjadi sebesar Rp18,23 triliun. Pertumbuhan kredit investasi tersebut antara lain disebabkan oleh kecenderungan penurunan suku bunga kredit investasi pada 2011 dibandingkan 2010 dan adanya kemudahan dalam melakukan investasi di Kota Solo.
Deputi Pemimpin BI Solo Bidang Ekonomi Moneter Suryono menambahkan, tingginya pertumbuhan kredit investasi diharapkan dapat meningkatkan kapasitas produksi dan mendorong pertumbuhan ekonomi di wilayah Solo Raya. Indikator tingkat intermediasi perbankan adalah Loan to Deposit Ratio (LDR) yang mencapai 98,92 persen.
“Jumlah itu mengindikasikan hampir seluruh simpanan masyarakat pada perbankan di Solo Raya disalurkan dalam bentuk kredit atau pembiayaan,” ujarnya.
Disinggung tentang Non Performing Loan (NPL), menurut Suryono, kualitas kredit tetap terjaga karena NPL gross sebesar 2,77 persen. Dia optimistis untuk Januari 2012 kinerja perbankan akan tetap menujukkan peningkatan dibanding Desember 2011. (bro)
()