Kebijakan BBM, Pemerintah tunggu petunjuk teknis

Selasa, 14 Februari 2012 - 19:13 WIB
Kebijakan BBM, Pemerintah...
Kebijakan BBM, Pemerintah tunggu petunjuk teknis
A A A
Sindonews.com - PT Pertamina (Persero) mengaku masih menunggu keputusan resmi dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) terkait aturan pengaturan pembatasan Bahan Bakar Minyak (BBM) Bersubsidi.

"Loh perpresnya itu boleh naik boleh konversi tetapi kapannya belum ada," ujar Direktur Pemasaran dan Niaga Djaelani Sutomo yang ditemui dalam acara Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi VII DPR RI di Gedung DPR RI, Senayan Jakarta Selasa (14/2/2012).

Dirinya mengatakan pihaknya saat ini menunggu keputusan resmi dari Kementerian ESDM terkait petunjuk teknis pelaksanaan, apakah itu pembatasan BBM bersubsidi ataupun menaikkan harga BBM bersubsidi. "Kita nunggu resmi petunjuk teknisnya," singkatnya.

Sementara itu, Vice President Corporate Communication Pertamina Mochamad Harun mengatakan Pertamina siap melaksanakan apapun yang akan diputuskan oleh Menteri ESDM. Menurutnya, opsi-opsi pengendalian BBM bersubsidi sedang dibahas antara Pemerintah dan Komisi VII.

"Terkait insentif pemerintah untuk pengusaha SPBU proses pergantian (switching) dari premium menjadi pertamax hanya membutuhkan waktu sebentar. Insentif untuk investasi baru bisa sambil jalan," pungkasnya.

Sebagai informasi, kebijakan pemerintah untuk menjalankan kebijakan pembatasan konsumsi Bahan Bakar Minyak (BBM) secara bertahap sekaligus dengan konversi ke Bahan Bakar Gas (BBG) serta kemungkinan kenaikan harga BBM bersubsidi untuk meningkatkan efisiensi penggunaan anggaran negara.

Kombinasi dua kebijakan tersebut tertuang dalam Peraturan Presiden No 15/2012 tentang Harga Jual Eceran dan Konsumen Pengguna Jenis Bahan Bakar Minyak Tertentu, yang terbit dan efektif berlaku pada 7 Februari lalu. Jenis BBM tertentu yang dimaksud adalah minyak tanah, bensin RON 88, dan solar.

"Harga jual per liter dari ketiga jenis BBM bersubsidi tersebut tetap atau belum berubah, yakni minyak tanah Rp2.500, bensin RON 88 Rp4.500, dan solar Rp4.500. Harga eceran tersebut sudah memperhitungkan pajak pertambahan nilai (PPN) 10 persen dan pajak bahan bakar kendaraan bermotor (PBBKB) lima persen," tulis Perpres tersebut.
()
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkini
Arus Kas ETF Bitcoin...
Arus Kas ETF Bitcoin Tembus Rp1,36 Triliun di Pertengahan Juli 2026
8 menit yang lalu
Airlangga Bocorkan Lahan...
Airlangga Bocorkan Lahan BUMN di Bali Jadi Opsi Calon Lokasi PFII
24 menit yang lalu
Soal Pindar, KPPU Didorong...
Soal Pindar, KPPU Didorong Utamakan Tindakan Pencegahan
57 menit yang lalu
Kepala BGN Baru Sebut...
Kepala BGN Baru Sebut MBG Tender Politik Prabowo: Tak Bisa Dibubarkan
1 jam yang lalu
Potensi Tokenisasi Aset...
Potensi Tokenisasi Aset Capai USD2 Triliun di 2030, Keamanan Investor Jadi Kunci
1 jam yang lalu
Airlangga Sangkal PFII...
Airlangga Sangkal PFII Jadi Surga Pencucian Uang: Bukan untuk Dana-dana Gelap
2 jam yang lalu
Infografis
7 Dosa Kebijakan Nicolas...
7 Dosa Kebijakan Nicolas Maduro: Akar Kehancuran Ekonomi dan Sosial Venezuela
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved