Kenaikkan tarif listrik pukul industri pengolahan

Jum'at, 09 Maret 2012 - 12:54 WIB
Kenaikkan tarif listrik...
Kenaikkan tarif listrik pukul industri pengolahan
A A A


Sindonews.com - Rencana pemerintah menaikkan tarif tenaga listrik (TTL) -dulunya disebut tarif dasar listrik (TDL)- tahun ini dipastikan memukul industri pengolahan. Biaya produksi akan meningkat signifikan.

“Kalau kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi itu pengaruhnya tidak seberapa, tapi listrik itu besar sekali dampaknya. Itu hantaman bagi industri karena biaya dari listrik cukup besar,” ungkap Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Jateng Frans Kongi, Kamis 8 Maret 2012.

Berdasarkan pengalaman, setiap kali terjadi kenaikan TTL, industri selalu terpukul. Kondisi ini tidak hanya menghambat pertumbuhan, tapi juga bisa mematikan industri. Khususnya yang berskala kecil.

Sekadar informasi, pemerintah pusat sudah mengusulkan kenaikan TTL bagi pelanggan di atas 900 volt ampere (VA) sebesar 10 persen mulai Mei mendatang. Kenaikan itu akan dilakukan secara bertahap setiap tiga bulan sekali. Dengan demikian, Mei nanti naik 3 persen,Juni 3 persen, dan Juli 4 persen.

Bila rencana kenaikan TTL juga disetujui DPR, pengusaha akan kelimpungan karena waktunya berdekatan dengan kenaikan harga BBM yang akan diberlakukan mulai 1 April 2012.

Tahun ini Jateng menargetkan pertumbuhan industri pengolahan 8 persen. Angka itu sedikit meningkat dibandingkan pertumbuhan tahun lalu sebesar 6,9 persen. Jika pemerintah juga menaikkan TTL maka pengusaha melalui Apindo akan meminta insentif. Insentif ini untuk mengurangi beban biaya yang ditanggung industri akibat kenaikan TTL.

“Pemerintah tentu tidak ingin industri dalam negeri tak tumbuh. Nah, kalau TTL dinaikkan, industri harus diberikan insentif,” kata Frans.

Kekhawatiran terpukulnya industri juga disampaikan oleh Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Semarang Agung Wahono. “Bagi kami industri tekstil, kenaikan tarif tenaga listrik itu jadi hal yang memberatkan,” ucapnya.

Kenaikan TTL sangat membebani industri, terutama industri tekstil dan produk tekstil (TPT). Mengingat beban biaya listrik tergolong cukup besar dalam kegiatan produksi usaha tersebut. Pihaknya mengutarakan kebijakan menaikkan TTL akan menghambat perkembangan industri.

“Seharusnya pemerintah tidak memberikan beban yang lebih kepada pengusaha. Utamanya menyangkut tarif listrik karena itu sangat berpengaruh terhadap laju industri,” katanya. (bro)

()
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkini
DJP Gandeng Babinsa...
DJP Gandeng Babinsa dan Bhabinkamtibmas Awasi Pajak: Hanya Pendamping, Tak Perlu Khawatir
20 menit yang lalu
60 Negara Jadi Sasaran...
60 Negara Jadi Sasaran Tarif Baru Trump, Termasuk Sekutu Dekat AS!
1 jam yang lalu
Diplomasi Sawit Perlu...
Diplomasi Sawit Perlu Diperkuat untuk Jaga Daya Saing Ekspor
10 jam yang lalu
Perang AS-Iran Kian...
Perang AS-Iran Kian Sengit, ASEAN Wanti-wanti Krisis Pangan dan Energi
10 jam yang lalu
Garudafood Resmikan...
Garudafood Resmikan Rumah Maggot di Depok, Kelola 100 Ton Sampah Organik Jadi Nilai Ekonomi
10 jam yang lalu
MNC Sekuritas Dukung...
MNC Sekuritas Dukung MNC University dalam Seminar 'Crafting Your Career and Wealth in The Web3 Era'
10 jam yang lalu
Infografis
Klasemen Medali SEA...
Klasemen Medali SEA Games 2025 (Rabu 17 Desember Pukul 07.00 WIB)
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved