PLN harus lebih mandiri

Sabtu, 17 Maret 2012 - 10:26 WIB
PLN harus lebih mandiri
PLN harus lebih mandiri
A A A
Sindonews.com – Pemerintah berharap PT PLN (Persero) segera mengurangi konsumsi bahan bakar minyak (BBM) yang selama ini masih digunakan untuk mengoperasikan sejumlah pembangkit listriknya.

Hal itu terkait dengan keputusan pemerintah dan DPR yang hanya mematok subsidi listrik sebesar Rp24,52 triliun, atau turun dari subsidi yang diajukan pemerintah sebesar Rp49,1 triliun.

“Sekarang PLN harus bisa lebih mandiri agar tarif tenaga listrik (TTL) lebih murah dan negara tidak terus menyubsidi,” ujar Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Widjajono Partowidagdo saat ditemui di ruang kerjanya di Kementerian ESDM, Jakarta, kemarin.

Dia mengatakan, sebagian operasional pembangkit yang digunakan oleh PLN memang masih menggunakan BBM. Karena itu, opsi kenaikan TTL muncul saat harga minyak terus merangkak naik hingga mencapai USD105 per barel. Namun, dengan keterbatasan subsidi yang disediakan, mau tak mau PLN harus melakukan efisiensi penggunaan BBM agar kebutuhan dana operasionalnya bisa diminimalkan.

Kesepakatan penundaan kenaikan TTL antara pemerintah dan DPR tahun ini, lanjut dia, juga harus membuat PLN segera melakukan langkah-langkah percepatan peningkatan penggunaan sumber energi lain seperti batu bara, panas bumi, maupun gas alam untuk menggantikan pembangkit berbahan bakar minyak. Karena itu, imbuh dia,perlu ada segera evaluasi program pembangunan pembangkit listrik tenaga uap 10 ribu megawatt (MW). “Banyak yang harus diperbaiki lagi,”cetusnya.

Salah satunya, kata dia, pada kinerja kontraktor-kontraktor China yang ditetapkan melalui tender terdahulu yang terlalu mementingkan faktor penawaran harga yang murah tanpa mempertimbangkan kualitas serta kemampuan peserta tender. Direktur Utama PLN Nur Pamudji mengatakan,program percepatan pembangkit 10 ribu MW tahap II tidak akan lagi menggunakan kontraktor asal China.

Alasannya, pada tahap II ini sebagian besar yang dibangun adalah pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP).Faktor lainnya,kinerja kontraktor asal China terbukti kurang maksimal. “Program terus molor dari jadwal yang ditentukan,”tegasnya.
()
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkini
Saat Infrastruktur,...
Saat Infrastruktur, Fasilitas, dan Komunitas Tumbuh Bersama dalam Satu Kawasan
5 jam yang lalu
Cara PAMA Ikut Meningkatkan...
Cara PAMA Ikut Meningkatkan Kualitas Kesehatan Masyarakat
5 jam yang lalu
Prabowo: 66,4 Juta Warga...
Prabowo: 66,4 Juta Warga RI Dapat LPG Subsidi, Lebih Banyak dari Penduduk Singapura
6 jam yang lalu
Menanti Peran Besar...
Menanti Peran Besar Pertamina dalam Proyek LNG Kelas Dunia Blok Masela
6 jam yang lalu
Purbaya Segera Temui...
Purbaya Segera Temui Kepala BGN, Bahas Pemotongan Anggaran MBG
6 jam yang lalu
Soal Investor PFII Bebas...
Soal Investor PFII Bebas Pajak hingga 50 Tahun, Purbaya: Masih Belum Tentu
6 jam yang lalu
Infografis
Perbandingan Kekuatan...
Perbandingan Kekuatan Militer Iran vs Israel, Siapa Lebih Unggul?
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved