BI yakin ekonomi Solo stabil

Jum'at, 23 Maret 2012 - 12:54 WIB
BI yakin ekonomi Solo...
BI yakin ekonomi Solo stabil
A A A


Sindonews.com - Bank Indonesia (BI) Solo memperkirakan perekonomian di wilayah Solo Raya di semester I/2012 ini tetap stabil. Meski ada rencana kenaikan harga BBM, BI berpendapat hanya berdampak temporary atau sementara.

“Kami memperkirakan perekonomian Solo Raya tumbuh stabil di semester I/2012 dari proyeksi 2011 yang sebesar 4,8–5,3 persen,” kata Pemimpin BI Solo Doni P Joewono saat acara Diseminasi Kajian Ekonomi Regional Wilayah Eks Karesidenan Surakarta Semester II- 2011 dan Prospek Ekonomi Tahun 2012, baru-baru ini.

Rencana pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi dan tarif tenaga listrik (TTL) memang tetap berpengaruh terhadap biaya produksi dan distribusi. Kondisi itu akan menekan pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan di 2012.

Khusus untuk inflasi, wilayah Solo Raya pada semester II/2012 menghadapi risiko meningkat. Tekanan inflasi terutama berasal dari kelompok administered price terkait rencana kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM dan TTL.

Kebijakan tersebut selain menimbulkan dampak langsung terhadap inflasi, juga mempunyai dampak tidak langsung melalui kenaikkan biaya produksi dan distribusi. Ini dikhawatirkan direspons produsen dan pedagang dengan menaikkan harga jual produk.

Doni menuturkan, dalam keadaan normal inflasi diperkirakan 4,72 persen. Jika BBM naik Rp1.500/liter menjadi Rp6.000 dan TTL naik 3 persen per triwulan hingga akhir tahun, diperkirakan menyumbang inflasi secara langsung sebesar 1,24–1,40 persen.

Karena itu, proyeksi inflasi menjadi 4,72–6,12 persen. Lalu, dampak dari BBM dan TTL yang naik terhadap barang lain memberikan sumbangan inflasi 1,46–1,54 persen. Artinya, proyeksi inflasi menjadi 6,12–7,66%.

“Kami memperkirakan dampak tersebut bersifat sementara. Setelah itu muncul keseimbangan harga baru,” papar Doni.

Deputi Pemimpin BI Solo Bidang Ekonomi Moneter Suryono menambahkan, di semester II/2012 perekonomian Solo Raya akan tumbuh melambat dibandingkan semester sebelumnya.

Hal tersebut karena laju investasi dan ekspor keluar negeri diperkirakan melambat. Adanya kenaikan retribusi izin mendirikan bangunan (IMB) dan nilai jual objek pajak (NJOP) membuat investor menunda realisasi investasinya. Selain itu, terdapat kendala pelaksanaan investasi di daerah.

Seperti kurang harmonisnya regulasi antara pusat dan daerah sehingga kebijakan sulit dilaksanakan, terbatasnya lahan untuk kawasan industri, dan infrastruktur yang kurang mendukung seperti jalan rusak dan debit air kurang.

“Lambatnya ekspor disebabkan adanya tantangan perlambatan ekonomi negara maju serta berlarutnya penyelesaian krisis utang di Eropa,” ungkapnya. (bro)
()
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkini
IHSG Makin Parah, Hari...
IHSG Makin Parah, Hari Ini Ditutup Ambles 4,20 Persen ke 5.594
10 menit yang lalu
AHY Jadi Ketua Komite...
AHY Jadi Ketua Komite Kereta Cepat Jakarta-Bandung Geser Luhut, Perpres Baru Diteken Prabowo
20 menit yang lalu
APHI dan New Forests...
APHI dan New Forests Dukung Investasi Pengelolaan Hutan Berkelanjutan
36 menit yang lalu
Rupiah Hari Ini Berakhir...
Rupiah Hari Ini Berakhir Merayap ke Rp18.036 per Dolar AS, Berikut Sebabnya
37 menit yang lalu
5 Hal Yang Wajib Anda...
5 Hal Yang Wajib Anda Ketahui Sebelum Datang ke Tempat Gestun Terdekat
47 menit yang lalu
Defisit APBN Mei 2026...
Defisit APBN Mei 2026 Tembus Rp180,4 Triliun, Purbaya: Sangat Aman
1 jam yang lalu
Infografis
Kaleidoskop 2025: 7...
Kaleidoskop 2025: 7 Peristiwa Ekonomi Paling Heboh di Indonesia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved