Banjir buah impor, bukti perlindungan konsumen rendah

Selasa, 27 Maret 2012 - 11:48 WIB
Banjir buah impor, bukti...
Banjir buah impor, bukti perlindungan konsumen rendah
A A A
Sindonews.com - Membanjirnya buah impor yang tidak sesuai standar yang ada di pasaran membuat pemerintah harus melakukan perlindungan maksimal terhadap konsumen dalam negeri. Apalagi mengingat permintaan buah-buahan secara nasional dalam lima tahun terakhir diperkirakan mengalami pertumbuhan berkisar 12-15 persen per tahun.

Anggota DPR RI Komisi IV Rofi Munawar mengungkapkan kekhawatirannya jika hal ini tidak dicegah maka akan mengakibatkan gangguan kesehatan dan memukul produksi buah petani lokal.

“Perlu pengetatan tata niaga dan standardisasi buah impor agar tidak mudah merambah ke sentra produksi dan konsumen. Disamping itu, pemerintah tidak boleh menyerahkan tata niaga impor pada mekanisme pasar karena memberikan peluang membanjirnya buah impor berkualitas rendah, meskipun berpenampilan menarik,” ucapnya dalam siaran persnya di Jakarta, Selasa (27/3/2012).

Hal senada juga dikatakan Kepala Pusat Karantina Badan Karantina Kementerian Pertanian Arifin Tasrin yang mengungkapkan sekitar 800 ribu ton buah yang dikirim ke Indonesia adalah buah yang tak laku alias kualitasnya buruk di negara asal.

Sementara itu belum lama ini, Menteri Perdagangan Gita Wirjawan menegaskan sudah terjadi 19 pelanggaran mikro organisme dalam produk hortikultura yang masuk ke Indonesia dalam 1,5 tahun terakhir. Kemudian dilanjutkan temuan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Cilegon, Banten, menemukan buah jeruk asal Cina di salah satu pusat perbelanjaan terbukti mengandung formalin. Buah itu masuk lewat jalur resmi dan seludupan.

Legislator dari Fraksi PKS ini menegaskan, pemerintah harus melindungi masyarakat dari serbuan buah impor, mengingat konsumen sangat awam terkait kualitas dan mutunya. "Selama ini konsumen membeli berdasarkan selera bukan nilai gizi, karena pada realitasnya berbagai temuan dan penelitian telah menunjukan bahwa buah impor sangat membahayakan bagi kesehatan,” jelasnya.

Dia juga menambahkan, selama ini buah impor lebih diminati oleh konsumen karena harga yang relatif murah dan tampilan lebih menarik dibandingkan buah lokal. Padahal, manfaat dan nilai gizi buah lokal lebih besar daripada buah impor. Oleh karenanya perlu usaha yang serius dari pemerintah dan pelaku usaha untuk memberikan proteksi yang maksimal kepada konsumen secara kualitas maupun mekanisme pemasaran.

“Importir jangan hanya mengejar keuntungan semata dari buah impor karena adanya disparitas harga, namun juga harus memperhatikan perlindungan terhadap konsumen,” tegas Rofi. (ank)
()
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkini
Perbandingan Harga BBM...
Perbandingan Harga BBM Pertamina, Shell, Vivo dan BP di Awal Juni 2026
37 menit yang lalu
Libur Sekolah 2026,...
Libur Sekolah 2026, Tarif Angkutan Penyeberangan Diskon Sekitar 21,9%
1 jam yang lalu
Hindari Selat Hormuz!...
Hindari Selat Hormuz! India Diam-Diam Gandeng Rusia Buka Jalur Es Ekstrem
2 jam yang lalu
Energi Menjadi Medan...
Energi Menjadi Medan Perang AS-China di Abad Ini
12 jam yang lalu
PLN EPI Targetkan Pengembangan...
PLN EPI Targetkan Pengembangan Bio-CNG Berbasis Limbah Sawit Dukung Transisi Energi
12 jam yang lalu
IHSG dan Rupiah Tertekan,...
IHSG dan Rupiah Tertekan, Pasar Uji Kredibilitas Sistem Keuangan Indonesia
12 jam yang lalu
Infografis
Jadi Buah Terbaik di...
Jadi Buah Terbaik di Asia Tenggara, Ini 7 Manfaat Manggis untuk Kesehatan
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved