Tak jadi naik, subsidi BBM nambah Rp5 T/bulan
Senin, 02 April 2012 - 17:59 WIB
Tak jadi naik, subsidi BBM nambah Rp5 T/bulan
A
A
A
Sindonews.com - Menteri Keuangan Agus Martowardojo mengungkapkan, tidak jadinya kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) akan menyebabkan tambahan biaya subsidi energi di setiap bulannya. Menurut hitungannya, setiap bulan subsidi akan bertambah sekitar Rp4 triliun sampai dengan Rp5 triliun.
"Kalau seandainya tertunda (kenaikan harga BBM) akan ada tambahan kira-kira Rp4-5 triliun," ungkap Agus saat ditemui di Gedung Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta, Senin (2/4/2012).
Sebagai risiko tertingginya, menurut Agus, akan terjadi pelebaran defisit. Alasannya yaitu dibutuhkannya anggaran dana untuk menutupi nilai tersebut.
"Oh risiko tertinggi kalau seandainya defisit melebar otomatis defisit harus dibiayai dengan pinjaman lagi, tapi yang saya bicarakan tadi bukan termasuk pinjaman baru. Itu baru realokasi anggaran lain ke subsidi energi," jelasnya.
Maka dari itu, kedepannya disampaikan Agus, pemerintah akan melakukan efisiensi pengeluaran. Program-program yang sudah disusun pemerintah sebelumnya, akan dievaluasi dan dipilih sesuai dengan prioritas, agar pengeluaran anggaran yang dilakukan tepat.
"Kita bisa menunda pengeluaran yang tidak prioritas, kita juga bisa menutup dari belanja tidak prioritas yang ada di K/L dan andalan kompensasi, setelah itu kita punya ruang untuk melakukan APBNP," tuntasnya.
Tak jadi naik, subsidi BBM {nambah} Rp5 T/bulan
Sindonews.com - Menteri Keuangan Agus Martowardojo mengungkapkan, tidak jadinya kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) akan menyebabkan tambahan biaya subsidi energi di setiap bulannya. Menurut hitungannya, setiap bulan subsidi akan bertambah sekitar Rp4 triliun sampai dengan Rp5 triliun.
"Kalau seandainya tertunda (kenaikan harga BBM) akan ada tambahan kira-kira Rp4-5 triliun," ungkap Agus saat ditemui di Gedung Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta, Senin (2/4/2012).
Sebagai risiko tertingginya, menurut Agus, akan terjadi pelebaran defisit. Alasannya yaitu dibutuhkannya anggaran dana untuk menutupi nilai tersebut.
"Oh risiko tertinggi kalau seandainya defisit melebar otomatis defisit harus dibiayai dengan pinjaman lagi, tapi yang saya bicarakan tadi bukan termasuk pinjaman baru. Itu baru realokasi anggaran lain ke subsidi energi," jelasnya.
Maka dari itu, kedepannya disampaikan Agus, pemerintah akan melakukan efisiensi pengeluaran. Program-program yang sudah disusun pemerintah sebelumnya, akan dievaluasi dan dipilih sesuai dengan prioritas, agar pengeluaran anggaran yang dilakukan tepat.
"Kita bisa menunda pengeluaran yang tidak prioritas, kita juga bisa menutup dari belanja tidak prioritas yang ada di K/L dan andalan kompensasi, setelah itu kita punya ruang untuk melakukan APBNP," tuntasnya.
"Kalau seandainya tertunda (kenaikan harga BBM) akan ada tambahan kira-kira Rp4-5 triliun," ungkap Agus saat ditemui di Gedung Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta, Senin (2/4/2012).
Sebagai risiko tertingginya, menurut Agus, akan terjadi pelebaran defisit. Alasannya yaitu dibutuhkannya anggaran dana untuk menutupi nilai tersebut.
"Oh risiko tertinggi kalau seandainya defisit melebar otomatis defisit harus dibiayai dengan pinjaman lagi, tapi yang saya bicarakan tadi bukan termasuk pinjaman baru. Itu baru realokasi anggaran lain ke subsidi energi," jelasnya.
Maka dari itu, kedepannya disampaikan Agus, pemerintah akan melakukan efisiensi pengeluaran. Program-program yang sudah disusun pemerintah sebelumnya, akan dievaluasi dan dipilih sesuai dengan prioritas, agar pengeluaran anggaran yang dilakukan tepat.
"Kita bisa menunda pengeluaran yang tidak prioritas, kita juga bisa menutup dari belanja tidak prioritas yang ada di K/L dan andalan kompensasi, setelah itu kita punya ruang untuk melakukan APBNP," tuntasnya.
Tak jadi naik, subsidi BBM {nambah} Rp5 T/bulan
Sindonews.com - Menteri Keuangan Agus Martowardojo mengungkapkan, tidak jadinya kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) akan menyebabkan tambahan biaya subsidi energi di setiap bulannya. Menurut hitungannya, setiap bulan subsidi akan bertambah sekitar Rp4 triliun sampai dengan Rp5 triliun.
"Kalau seandainya tertunda (kenaikan harga BBM) akan ada tambahan kira-kira Rp4-5 triliun," ungkap Agus saat ditemui di Gedung Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta, Senin (2/4/2012).
Sebagai risiko tertingginya, menurut Agus, akan terjadi pelebaran defisit. Alasannya yaitu dibutuhkannya anggaran dana untuk menutupi nilai tersebut.
"Oh risiko tertinggi kalau seandainya defisit melebar otomatis defisit harus dibiayai dengan pinjaman lagi, tapi yang saya bicarakan tadi bukan termasuk pinjaman baru. Itu baru realokasi anggaran lain ke subsidi energi," jelasnya.
Maka dari itu, kedepannya disampaikan Agus, pemerintah akan melakukan efisiensi pengeluaran. Program-program yang sudah disusun pemerintah sebelumnya, akan dievaluasi dan dipilih sesuai dengan prioritas, agar pengeluaran anggaran yang dilakukan tepat.
"Kita bisa menunda pengeluaran yang tidak prioritas, kita juga bisa menutup dari belanja tidak prioritas yang ada di K/L dan andalan kompensasi, setelah itu kita punya ruang untuk melakukan APBNP," tuntasnya.
()