Kuartal I, dana kelolaan Trimegah tembus Rp4 T
Selasa, 17 April 2012 - 12:13 WIB
Kuartal I, dana kelolaan Trimegah tembus Rp4 T
A
A
A
Sindonews.com - PT Trimegah Asset Management (TRAM) berhasil mencatatkan pertumbuhan dana kelolaan hingga 10 persen dibandingkan posisi tahun lalu atau mencapai Rp4 triliun hingga kuartal I ini. Jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu kenaikan dana kelolaan ini mencapai 37 persen.
Selain didukung oleh bertambahnya jumlah nasabah, peningkatan aset ini juga dipengaruhi oleh melesatnya kinerja produk-produk TRAM.
“Sampai kuartal I 2012, mayoritas produk reksadana kami mampu menghasilkan return diatas indeks saham maupun deposito. Faktor ini cukup berperan dalam mendorong pertumbuhan dana kelolaan TRAM,” jelas Direktur Utama PT Trimegah Asset Management (TRAM) Denny R. Thaher, dalam keterangan tertulisnya, Selasa (17/4/2012).
Denny mencontohkan, selama kuartal I–2011, produk TRAM Equity Focus dan TRIM Syariah Saham berhasil mencatat return masing-masing sekitar 14,23 persen dan 13,01 persen. Sementara Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam periode tersebut hanya naik sekitar 7,83 persen. Produk lain seperti TRIM Kapital Plus dan TRAM Consumption Plus juga menghasilkan return lebih tinggi dibandingkan IHSG.
Meningkatnya kinerja produk-produk TRAM tersebut, lanjut Denny, merupakan hasil dari strategi pengelolaan dana dari tim investasi yang cukup solid. Dengan mengandalkan sumber daya manusia (SDM) terbaik di bidang pasar modal, TRAM senantiasa berusaha memberikan manfaat maksimal kepada para nasabah dengan risiko yang terukur. “Kami tidak hanya mengejar return tinggi, tapi juga memastikan bahwa risiko investasinya tetap bisa dikelola dan dipertanggungjawabkan kepada nasabah,” jelas Denny.
Sejumlah produk TRAM berhasil menggaet lebih banyak nasabah diantaranya produk TRAM Infrastructure Plus yang baru dirilis 28 Maret 2012 lalu, dalam dua pekan berhasil menjaring dana nasabah hingga lebih dari Rp100 miliar. Denny optimis reksadana yang berbasis pada saham-saham di sektor infrastruktur ini bakal menjadi primadona nasabah.
Menurut Denny, sektor infrastruktur sebagai kunci utama pendorong pertumbuhan ekonomi akan menjadi fokus pembangunan pemerintah. Komitmen pemerintah itu sudah terlihat dengan terbitnya Keppres Pembangunan Pelabuhan Petikemas Kalibaru. “Pembangunan Kalibaru akan mendorong proyek kontruksi dan mengalirnya kredit dari perbankan. Efek domino seperti ini tentunya akan dapat dimanfaatkan oleh para emiten di bursa untuk meningkatkan kinerja,” ujarnya.
Sampai akhir tahun 2012, TRAM menargetkan dana kelolaan senilai Rp5,5 triliun, meningkat dibandingkan tahun 2011 sebesar Rp3,6 Triliun. Denny menambahkan, tahun ini pertumbuhan laba (earning growth) emiten di bursa bisa mencapai sekitar 17 persen. Sementara IHSG berpotensi menguat hingga 15,25 persen ke level 4.400.
Untuk mewujudkan target di tahun ini, selain mengandalkan produk lama dan akan merilis produk baru TRAM juga berusaha memaksimalkan jaringan pemasaran. Sampai saat ini TRAM memiliki kantor cabang sebanyak 17 kantor cabang di 13 kota. Selain itu, TRAM juga menjalin kerjasama dengan sejumlah bank untuk memasarkan produk-produk perusahaan.
Denny juga bersyukur saat ini makin banyak nasabah TRAM yang melakukan installment secara periodik melalui bank. Sebab hal tersebut menjadi indikasi bahwa kesadaran masyarakat untuk berinvestasi terus bertambah. “Untuk berinvestasi tidak harus dengan uang yang banyak. Kunci berinvestasi di reksadana adalah disiplin, memiliki horizon jangka panjang dan tidak greedy,” katanya.
Selain didukung oleh bertambahnya jumlah nasabah, peningkatan aset ini juga dipengaruhi oleh melesatnya kinerja produk-produk TRAM.
“Sampai kuartal I 2012, mayoritas produk reksadana kami mampu menghasilkan return diatas indeks saham maupun deposito. Faktor ini cukup berperan dalam mendorong pertumbuhan dana kelolaan TRAM,” jelas Direktur Utama PT Trimegah Asset Management (TRAM) Denny R. Thaher, dalam keterangan tertulisnya, Selasa (17/4/2012).
Denny mencontohkan, selama kuartal I–2011, produk TRAM Equity Focus dan TRIM Syariah Saham berhasil mencatat return masing-masing sekitar 14,23 persen dan 13,01 persen. Sementara Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam periode tersebut hanya naik sekitar 7,83 persen. Produk lain seperti TRIM Kapital Plus dan TRAM Consumption Plus juga menghasilkan return lebih tinggi dibandingkan IHSG.
Meningkatnya kinerja produk-produk TRAM tersebut, lanjut Denny, merupakan hasil dari strategi pengelolaan dana dari tim investasi yang cukup solid. Dengan mengandalkan sumber daya manusia (SDM) terbaik di bidang pasar modal, TRAM senantiasa berusaha memberikan manfaat maksimal kepada para nasabah dengan risiko yang terukur. “Kami tidak hanya mengejar return tinggi, tapi juga memastikan bahwa risiko investasinya tetap bisa dikelola dan dipertanggungjawabkan kepada nasabah,” jelas Denny.
Sejumlah produk TRAM berhasil menggaet lebih banyak nasabah diantaranya produk TRAM Infrastructure Plus yang baru dirilis 28 Maret 2012 lalu, dalam dua pekan berhasil menjaring dana nasabah hingga lebih dari Rp100 miliar. Denny optimis reksadana yang berbasis pada saham-saham di sektor infrastruktur ini bakal menjadi primadona nasabah.
Menurut Denny, sektor infrastruktur sebagai kunci utama pendorong pertumbuhan ekonomi akan menjadi fokus pembangunan pemerintah. Komitmen pemerintah itu sudah terlihat dengan terbitnya Keppres Pembangunan Pelabuhan Petikemas Kalibaru. “Pembangunan Kalibaru akan mendorong proyek kontruksi dan mengalirnya kredit dari perbankan. Efek domino seperti ini tentunya akan dapat dimanfaatkan oleh para emiten di bursa untuk meningkatkan kinerja,” ujarnya.
Sampai akhir tahun 2012, TRAM menargetkan dana kelolaan senilai Rp5,5 triliun, meningkat dibandingkan tahun 2011 sebesar Rp3,6 Triliun. Denny menambahkan, tahun ini pertumbuhan laba (earning growth) emiten di bursa bisa mencapai sekitar 17 persen. Sementara IHSG berpotensi menguat hingga 15,25 persen ke level 4.400.
Untuk mewujudkan target di tahun ini, selain mengandalkan produk lama dan akan merilis produk baru TRAM juga berusaha memaksimalkan jaringan pemasaran. Sampai saat ini TRAM memiliki kantor cabang sebanyak 17 kantor cabang di 13 kota. Selain itu, TRAM juga menjalin kerjasama dengan sejumlah bank untuk memasarkan produk-produk perusahaan.
Denny juga bersyukur saat ini makin banyak nasabah TRAM yang melakukan installment secara periodik melalui bank. Sebab hal tersebut menjadi indikasi bahwa kesadaran masyarakat untuk berinvestasi terus bertambah. “Untuk berinvestasi tidak harus dengan uang yang banyak. Kunci berinvestasi di reksadana adalah disiplin, memiliki horizon jangka panjang dan tidak greedy,” katanya.
()