Modal terbatas, UKM masih tahan krisis
Selasa, 17 April 2012 - 17:24 WIB
Modal terbatas, UKM masih tahan krisis
A
A
A
Sindonews.com - Usaha Kecil Menengah (UKM) yang dinilai sebagai salah satu kekuatan Indonesia dalam menahan krisis, juga sebagai urat nadi perekonomian bagi negara berkembang dan tonggak kesejahteraan bangsa. Namun dalam perkembangannya UKM masih terkendala masalah modal dan pinjaman dengan suku bunga tinggi.
"Perkembangan UKM masih baik. Namun memang masih ada sejumlah kendala yang dihadapi UKM antara lain, keusangan teknologi, keterbatasan modal, pinjaman dengan suku bunga tinggi hingga kebijakan pemerintah yang ambigu," ucap Vitria Malarangeng, saat ditemui usai sidang doktoral di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FEUI) Depok, Selasa (17/4/2012).
Istri Menteri Pemuda dan Olahraga Andi Malarangeng ini menjalani sidang disertasinya yang berjudul Pengaruh Lingkungan dan Turnaround Strategy Terhadap Inovasi dan Kinerja UKM Kerajinan, dari sample penelitian 2.708 unit UKM sektor kerajinan bordir di Tasikmalaya. Menurut Vitri, UKM masih mampu bertahan saat krisis. Berbeda dengan industri besar yang harus melakukan cuting majoring.
"UKM masih kuat bertahan saat krisis. UKM juga dapat berkembang dengan memaksimalkan celah yang ada, beda dengan industri besar yang cenderung melakukan ekspansi," tukasnya.
Ditegaskan Vitri, UKM dapat menjadi industri besar jika ditekuni. Misalnya saja, kerajinan bordir yang sudah mendunia. Dicontohkan dia, Malaysia dan sejumlah negara lain mengimpor kerajinan bordir dari Tasikmalaya. "Di negara mereka nanti dilakukan labeling. Jadi, jangan salah tafsir," ujar Vitri.
Perkembangan UKM, sambung dia memberikan kontribusi bagi pendapatan daerah dari sektor nonmigas. Sekitar 49 persen pendapatan sektor nonmigas berasal dari sentra UKM. "UKM juga memberikan kontribusi terhadap APBD. Untuk itu pemerintah daerah masing-masing wilayah melakukan studi banding. Misalnya saja Pemda Bali melakukan studi banding ke Tasikmalaya," imbuhnya. (ank)
"Perkembangan UKM masih baik. Namun memang masih ada sejumlah kendala yang dihadapi UKM antara lain, keusangan teknologi, keterbatasan modal, pinjaman dengan suku bunga tinggi hingga kebijakan pemerintah yang ambigu," ucap Vitria Malarangeng, saat ditemui usai sidang doktoral di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FEUI) Depok, Selasa (17/4/2012).
Istri Menteri Pemuda dan Olahraga Andi Malarangeng ini menjalani sidang disertasinya yang berjudul Pengaruh Lingkungan dan Turnaround Strategy Terhadap Inovasi dan Kinerja UKM Kerajinan, dari sample penelitian 2.708 unit UKM sektor kerajinan bordir di Tasikmalaya. Menurut Vitri, UKM masih mampu bertahan saat krisis. Berbeda dengan industri besar yang harus melakukan cuting majoring.
"UKM masih kuat bertahan saat krisis. UKM juga dapat berkembang dengan memaksimalkan celah yang ada, beda dengan industri besar yang cenderung melakukan ekspansi," tukasnya.
Ditegaskan Vitri, UKM dapat menjadi industri besar jika ditekuni. Misalnya saja, kerajinan bordir yang sudah mendunia. Dicontohkan dia, Malaysia dan sejumlah negara lain mengimpor kerajinan bordir dari Tasikmalaya. "Di negara mereka nanti dilakukan labeling. Jadi, jangan salah tafsir," ujar Vitri.
Perkembangan UKM, sambung dia memberikan kontribusi bagi pendapatan daerah dari sektor nonmigas. Sekitar 49 persen pendapatan sektor nonmigas berasal dari sentra UKM. "UKM juga memberikan kontribusi terhadap APBD. Untuk itu pemerintah daerah masing-masing wilayah melakukan studi banding. Misalnya saja Pemda Bali melakukan studi banding ke Tasikmalaya," imbuhnya. (ank)
()