RI tunggu notifikasi penanganan wabah sapi gila AS
Kamis, 26 April 2012 - 14:44 WIB
RI tunggu notifikasi penanganan wabah sapi gila AS
A
A
A
Sindonews.com - Penghentian sementara (suspensi) impor daging sapi dari Amerika Serikat (AS) akibat wabah sapi gila belum bisa dipastikan batas waktunya.
"Ini dilakukan sampai ada notifikasi penanganan penyakit (sapi gila) tersebut dari Amerika," kata Kepala Badan Karantina Kementerian Pertanian (Kementan) Banun Harpini sebagaimana dikutip dari Okezone, Kamis (26/4/2012).
Dia mengatakan, selain daging impor yang mayoritas dikonsumsi manusia, pemerintah juga menerapkan notifikasi tersebut pada konsumsi pakan ternak.
"Jika ada daging yang dikapalkan sebelum 24 April tersebut terindikasi wabah sapi gila, maka akan dimusnahkan atau ditolak," tutup Banun.
Sementara itu, Asosiasi Pengusaha Importir Daging Indonesia (Aspindi) menyebut, porsi impor daging asal Amerika Serikat (AS) hanya sebesar 20 persen dari total impor daging Indonesia. Ketua Aspidi Thomas Sembiring menjelaskan, pada tahun 2011 lalu, dari total kuota impor sebesar 100 ribu ton, impor daging Amerika mencapai sekira 20 ribu ton.
"Jadi jumlahnya cuma sekira 20 persen. Kalau nilai impor (daging Amerika) berarti tinggal dikalikan. 20 ribu ton dikali dengan harga Rp55 ribu per kilogram," ungkap Thomas.
Sebelumnya, AS mengkonfirmasikan adanya kasus penyakit sapi gila. Pihak pemerintah AS pun siap untuk mengklarifikasikan hal tersebut. Direktur Kedokteran Hewan Departemen Pertanian AS John Clifford mengatakan Meksiko dan Kanada sebagai pembeli terbesar pertama dan kedua daging sapi asal AS.
John menjelaskan, telah ditemukan penyakit berjenis "atypical" yang menyerang otak pada sapi California. Dirinya yang sudah menjabat sejak 2004 dalam mendalami kasus ini pun menyatakan informasi tersebut penting untuk disebarkan kepada konsumen, baik domestik maupun asing.
"Ini sangat penting untuk kepercayaan dan juga untuk perdagangan antara negara-negara lain," tukas Clifford, seperti dikutip dari Reuters.
Clifford membeberkan, jenis penyakit ini pertama kali ditemukan pada akhir 2003, sehingga berdampak kerugian ekspor daging sapi hingga USD3 miliar. Perdagangan luar negeri pun diakuinya tidak sepenuhnya pulih hingga 2011. Dua kasus selanjutnya terjadi pada akhir 2006.
"Ini dilakukan sampai ada notifikasi penanganan penyakit (sapi gila) tersebut dari Amerika," kata Kepala Badan Karantina Kementerian Pertanian (Kementan) Banun Harpini sebagaimana dikutip dari Okezone, Kamis (26/4/2012).
Dia mengatakan, selain daging impor yang mayoritas dikonsumsi manusia, pemerintah juga menerapkan notifikasi tersebut pada konsumsi pakan ternak.
"Jika ada daging yang dikapalkan sebelum 24 April tersebut terindikasi wabah sapi gila, maka akan dimusnahkan atau ditolak," tutup Banun.
Sementara itu, Asosiasi Pengusaha Importir Daging Indonesia (Aspindi) menyebut, porsi impor daging asal Amerika Serikat (AS) hanya sebesar 20 persen dari total impor daging Indonesia. Ketua Aspidi Thomas Sembiring menjelaskan, pada tahun 2011 lalu, dari total kuota impor sebesar 100 ribu ton, impor daging Amerika mencapai sekira 20 ribu ton.
"Jadi jumlahnya cuma sekira 20 persen. Kalau nilai impor (daging Amerika) berarti tinggal dikalikan. 20 ribu ton dikali dengan harga Rp55 ribu per kilogram," ungkap Thomas.
Sebelumnya, AS mengkonfirmasikan adanya kasus penyakit sapi gila. Pihak pemerintah AS pun siap untuk mengklarifikasikan hal tersebut. Direktur Kedokteran Hewan Departemen Pertanian AS John Clifford mengatakan Meksiko dan Kanada sebagai pembeli terbesar pertama dan kedua daging sapi asal AS.
John menjelaskan, telah ditemukan penyakit berjenis "atypical" yang menyerang otak pada sapi California. Dirinya yang sudah menjabat sejak 2004 dalam mendalami kasus ini pun menyatakan informasi tersebut penting untuk disebarkan kepada konsumen, baik domestik maupun asing.
"Ini sangat penting untuk kepercayaan dan juga untuk perdagangan antara negara-negara lain," tukas Clifford, seperti dikutip dari Reuters.
Clifford membeberkan, jenis penyakit ini pertama kali ditemukan pada akhir 2003, sehingga berdampak kerugian ekspor daging sapi hingga USD3 miliar. Perdagangan luar negeri pun diakuinya tidak sepenuhnya pulih hingga 2011. Dua kasus selanjutnya terjadi pada akhir 2006.
()