Pusat tolak tambah kuota BBM untuk daerah

Kamis, 10 Mei 2012 - 10:04 WIB
Pusat tolak tambah kuota...
Pusat tolak tambah kuota BBM untuk daerah
A A A


Sindonews.com - Pemerintah pusat menegaskan tidak akan memenuhi permintaan pemerintah daerah (pemda) terkait jebolnya kuota jumlah bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi di beberapa daerah.

Sebab, alokasi BBM bersubsidi dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara-Perubahan (APBN-P) 2012 yang hanya 40 juta kiloliter (kl) bakal terlampaui.

“Kalau semua pemerintah daerah, dari gubernur, bupati, minta tambah kuota, jumlah 40 juta kl itu bisa lewat. Sekarang ini saja, kuota itu masih kurang,” kata Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jero Wacik di Jakarta kemarin.

Dia menuturkan, sebaiknya pemerintah daerah melakukan pengawasan secara ketat agar bisa mengurangi terjadi penyalahgunaan BBM bersubsidi. Upaya tersebut bisa dilakukan dengan kerja sama dengan kepolisian daerah serta PT Pertamina (Persero). Dia mencontohkan, kerawanan penyalahgunaan BBM bersubsidi di Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan akibat kurangnya pengontrolan di kedua wilayah tersebut.

Guna mengantisipasi penyelewengan, pemerintah bersama Pertamina mempersiapkan aksi pengendalian BBM bersubsidi di Kalimantan.

Salah satunya adalah melarang kendaraan pertambangan atau perkebunan untuk ingin mengisi BBM bersubsidi di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU).

Sebelumnya Satuan Tugas (Satgas) Pengawasan dan Pengendalian BBM Bersubsidi yang diketuai oleh Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) mengungkap penyelewengan selama Januari-April 2012 yang merugikan negara sebesar Rp111,25 miliar.

Marine fuel oil (MFO) merupakan jenis bahan bakar terbanyak yang disalahgunakan dengan volume mencapai 250.109 kiloliter (kl) senilai Rp105 miliar.

Kepala BPH Migas Andy Noorsaman Sommeng mengatakan, angka penyalahgunaan terbesar terjadi pada April 2012. Pada bulan itu BPH Migas mencatat terjadi kelebihan kuota sampai 8%, melebihi Februari dan Maret 2012 yang kelebihan kuotanya mencapai 5–6%.

“Karena itu,kalau tidak ada batasan, dikhawatirkan kuota BBM bersubsidi membengkak sampai 42 juta kl, melebihi batas kuota dalam APBN sebesar 40 juta kl,” ujarnya. (bro)
()
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkini
Arus Kas ETF Bitcoin...
Arus Kas ETF Bitcoin Tembus Rp1,36 Triliun di Pertengahan Juli 2026
8 menit yang lalu
Airlangga Bocorkan Lahan...
Airlangga Bocorkan Lahan BUMN di Bali Jadi Opsi Calon Lokasi PFII
24 menit yang lalu
Soal Pindar, KPPU Didorong...
Soal Pindar, KPPU Didorong Utamakan Tindakan Pencegahan
57 menit yang lalu
Kepala BGN Baru Sebut...
Kepala BGN Baru Sebut MBG Tender Politik Prabowo: Tak Bisa Dibubarkan
1 jam yang lalu
Potensi Tokenisasi Aset...
Potensi Tokenisasi Aset Capai USD2 Triliun di 2030, Keamanan Investor Jadi Kunci
1 jam yang lalu
Airlangga Sangkal PFII...
Airlangga Sangkal PFII Jadi Surga Pencucian Uang: Bukan untuk Dana-dana Gelap
2 jam yang lalu
Infografis
Liga Arab Tolak Usulan...
Liga Arab Tolak Usulan Trump untuk Mengusir Warga Gaza
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved