Produksi nikel Sulsel terhenti sementara

Kamis, 14 Juni 2012 - 11:27 WIB
Produksi nikel Sulsel...
Produksi nikel Sulsel terhenti sementara
A A A
Sindonews.com – Beberapa perusahaan yang bergerak di bidang pertambangan nikel di Sulawesi Selatan menghentikan produksinya untuk sementara waktu.

Pemberhentian produksi ini menyusul diberlakukannya Peraturan Menteri (Permen) Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Nomor 7/2012 tentang Pelarangan Ekspor Bahan Tambang, serta kebijakan Bea Keluar (BK) untuk biji nikel sebesar 20 persen. Kondisi tersebut mengakibatkan tiga bulan terakhir ekspor nikel Sulsel yang merupakan komoditi utama mengalami penurunan drastis. Bahkan jika dibandingkan ekspor April 2011 dengan April tahun ini penurunan mencapai 75,19 persen.

Artinya kondisi ini merupakan terburuk atas ekspor nikel Sulsel. Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Makassar Amirullah Abbas mengaku, banyak perusahaan tambang memilih menghentikan sementara waktu produksinya. Mereka berharap masih akan ada perubahan oleh pemerintah soal regulasi yang memberatkan pengusaha tambang itu. “Jika saat ini masih ada yang melakukan ekspor, itu merupakan produksi lama.

Karena hampir semua pengusaha saat ini memilih berhenti berproduksi dulu,”kata Amirullah saat ditemui SINDO di Makassar, kemarin. Walau demikian,Amirullah yang juga Direktur Utama PT Andatu Lestari Abadi Mandiri yang bergerak di bidang pertambangan ini menilai, ada baiknya peraturan tersebut dibuat oleh pemerintah.

Karena dengan begitu,menjadi motivasi perusahaan tambang untuk membuat sektor pengolahan nikel baru. “Dua atau tiga bulan ke depan, bisa dipastikan akan banyak bermunculan industri smelter nikel baru. Sehingga akan menyerap tenaga kerja lagi dan perekonomian bisa semakin baik. Hanya saja, penerapan Permen ESDM tersebut terlalu cepat dan mengagetkan pengusaha tambang,” tuturnya.

Karena terhentinya sementara waktu sebagian besar industri tambang nikel di Sulsel, sektor pembiayaan alat-alat berat keperluan tambang juga ikut terpengaruh.Commercial Business Manager OCBC NISP Metro Makassar David Wang bahkan mengaku dua bulan terakhir terjadi perlambatan permintaan pembiayaan.

“Hal ini bisa dimaklumi, karena di satu sisi pemberlakuan Permen ESDM Nomor 7/ 2012 sangat erat pengaruhnya pada pembiayaan alat-alat penunjang pertambangan. Kami pun merasakan ada perlambatan yang signifikan,” katanya.

Walau mengaku terjadi perlambatan, David masih enggan menyebutkan persentase tersebut. Begitu pula dengan Marketing Manager PT Trakindo Utama Divisi Indonesia Timur Tonny Meiandri. Regulasi baru tersebut memberi pengaruh kepada penjualan alat berat Caterpillar yang merupakan jualan utama Trakindo.

Sementara itu,berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Sulsel,ekpor nikel Sulsel per April tahun ini hanya senilai USD27,80 juta, turun 21,93 persen dari bulan sebelumnya dengan torehan USD36,61 juta. Bahkan dilihat dari pencapaian tiga bulan terakhir,tidak pernah terjadi peningkatan nilai ekspor nikel di Sulsel.
()
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkini
4 Temuan Penting di...
4 Temuan Penting di Tengah Kejatuhan IHSG Hampir 30% dan Rupiah Mendekati Rp18.000/USD
45 menit yang lalu
Danantara Janji Ajak...
Danantara Janji Ajak Diskusi Pengusaha Tentukan Acuan Harga Komoditas yang Dibeli PT DSI
2 jam yang lalu
Rupiah Sentuh Rp17.883...
Rupiah Sentuh Rp17.883 per Dolar AS, Menkeu Purbaya: Belum Hambat Aktivitas Ekonomi
3 jam yang lalu
Harga Avtur Domestik...
Harga Avtur Domestik Turun hingga 10 Persen Mulai 1 Juni 2026, Kabar Baik buat Industri Penerbangan
3 jam yang lalu
Harga BBM Pertamax Turbo...
Harga BBM Pertamax Turbo Naik per 1 Juni 2026, Dexlite dan Dex Turun
4 jam yang lalu
Hasilkan Riset Berkelanjutan,...
Hasilkan Riset Berkelanjutan, Kayla Raih Pendanaan Global Youth Action Fund
14 jam yang lalu
Infografis
Sejumlah Pabrik di China...
Sejumlah Pabrik di China Mulai Stop Produksi Akibat Tarif AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved