Saatnya mengoleksi saham bank

Selasa, 26 Juni 2012 - 07:52 WIB
Saatnya mengoleksi saham...
Saatnya mengoleksi saham bank
A A A
Sindonews.com - Penurunan peringkat utang 15 bank di Amerika diyakini tak akan berdampak kepada bank lokal. Justru kinerjanya kian mencorong saja.

Di antara sekian banyak bidang bisnis, sektor perbankan tampaknya salah satu sektor yang tahan terhadap gempuran krisis Eropa. Itu bisa dilihat dari pergerakan sahamnya yang relatif stabil. Makanya, tak aneh bila saham perbankan banyak direkomendasikan para analis sebagai efek paling menawan di saat ini.

Selain stabil, kinerja sektor perbankan juga seperti tak ada matinya. Lihat saja BRI. Hingga April lalu, bank pemerintah ini berhasil membukukan laba bersih Rp5,5 triliun atau naik 31 persen dibandingkan posisi Maret 2012. Pendapatan terbesar BRI masih disumbang dari bunga yang hingga April lalu tercatat Rp6,95 triliun.

Kalau saja BRI mampu mempertahankan kinerjanya di bulan-bulan berikutnya, maka bukan tak mungkin bank berkode BBRI bakal membukukan laba bersih Rp16,5 triliun. Ini berarti tumbuh 10 persen dibanding tahun 2011 yang mencapai Rp15 triliun. “Untuk jangka panjang – menengah, saham BRI layak untuk dikoleksi. Apalagi kinerja sangat baik,” kata seorang analis dari PT Kresna Securities.

Laba bersih yang diraih Bank Mandiri (BMRI) dan BNI (BBNI) juga sangat mengagumkan. Hingga April lalu, kedua bank pemerintah itu berhasil membukukan laba bersih Rp4,2 triliun dan Rp1,9 triliun. Jika dibandingkan dengan posisi Maret 2012, kedua bank ini mencatat pertumbuhan laba bersih 0,39 persen dan 0,27 persen. “Selain perbankan, tak ada industri yang mampu mencatat pertumbuhan laba bersih di atas 25 persen sebulan. Mumpung harga lagi rendah, kini saatnya untuk mengoleksi saham bank,” kata si analis tadi.

Kisah tentang untung besar juga terjadi di bank swasta. BCA, misalnya. Bank berkode BBCA ini sampai April alu berhasil membukukan laba bersih Rp2,8 triliun atau 33 persen lebih tinggi dari posisi Maret 2012. Sementara Bank Danamon (BBDN), milik Temasek Group, berhasil membukukan perolehan laba bersih Rp664 triliun.

Hebat bukan? Betul, belum lama ini Moody’s telah memangkas rating surat utang 15 bank di Amerika. Namun para analis yakin, sentimen negatif tak akan banyak berpengaruh terhadap kinerja perbankan di dalam negeri. Apalagi tingkat inflasi tahun ini diperkirakan masih akan tetap rendah. Artinya, kemungkinan BI akan mempertahankan suku bunga acuan BI (BI rate) di level 5,75 persen.
()
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkini
Penjelasan BEI soal...
Penjelasan BEI soal MSCI Turunkan Kasta Pasar Modal RI ke Frontier Market
28 menit yang lalu
Bangun Infrastruktur...
Bangun Infrastruktur Unggul, Brantas Abipraya Perkuat Kolaborasi Internal
49 menit yang lalu
Purbaya Tepis Isu Mundur...
Purbaya Tepis Isu Mundur dari Kursi Menkeu di Tengah Kejatuhan Rupiah Rp18.039
1 jam yang lalu
IHSG Berakhir Longsor...
IHSG Berakhir Longsor 1,70% ke Posisi 5.839, Ada 651 Saham Berjatuhan
2 jam yang lalu
Harga Avtur Makin Mahal,...
Harga Avtur Makin Mahal, Maskapai Raksasa AS Mendadak Batalkan 6 Rute Penerbangan!
2 jam yang lalu
BI Respons Rupiah Tembus...
BI Respons Rupiah Tembus Rp18.000, Samakan Nasib dengan Tetangga RI
4 jam yang lalu
Infografis
China Luncurkan AI Baru...
China Luncurkan AI Baru Manus, Pintar Analisis Pasar Saham
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved