Belajar dari krisis, pemerintah kumpulkan obligasi rekap

Jum'at, 29 Juni 2012 - 15:13 WIB
Belajar dari krisis,...
Belajar dari krisis, pemerintah kumpulkan obligasi rekap
A A A


Sindonews.com - Kondisi Perekonomian yang memburuk pada periode 1997, membuat sistem perbankan mengalami peningkatan kredit macet atau Non Performing Loan (NPL) dan permodalan atau Capital Adequacy Ratio (CAR) perbankan menurun. Untuk memperbaiki kondisi tersebut, pemerintah menerbitkan obligasi sebesar Rp422,6 triliun dalam kurun waktu 1999-2001.

Saat itu pembelian devisa besar-besaran memicu pelemahan Rupiah, NPL dan kondisi keuangan perbankan menurun. Kepercayaan nasabah menurun dan tingkat suku bunga domestik meningkat tajam.

Merespon kondisi tersebut, pemerintah menerapkan kebijakan nilai tukar mengambang terkendali dan akhirnya mengambang bebas, penjaminan penuh simpanan masyarakat, bantuan liquiditas Bank Indonesia (BI) serta program penyehatan dan rekapitalisasi perbankan.

Sebagai solusi atas permasalahan tersebut, pemerintah melakukan pengumpulan obligasi rekap dalam satu bank. "Obligasi yang diterbitkan kepada bank rekap diharapkan dapat dilunasi melalui penjualan aset dan kepemilikan perbankan rekap," terang Dirjen Pengelolaan Utang Rahmat Waluyanto dalam persentasinya pada diskusi "Strategi pengelolaan utang negara khususnya terkait obligasi rekap", di Hotel Borobudur, Jakarta, Jumat (29/6/2012).

Lebih lanjut Rahmat menerangkan, pada waktu itu, BI tidak bisa menyuntikkan dana secara langsung ke bank Rekap, sehingga secara akuntansi digunakan skema sebagai berikut pemerintah menerbitkan Obligasi Negara (ON) kepada BI. BI kemudian menyerahkan uang sebesar nilai ON kepada Pemerintah.

"Uang tersebut digunakan pemerintah untuk mengakuisisi dan membeli aset-aset bermasalah di Bank Rekap. Aset tersebut kemudian dikelola oleh Badan Penyehat Perbankan Nasional (BPPN)," terangnya.

Uang yang diperoleh Bank Rekap, lanjutnya lagi, digunakan untuk membeli ON yang dimiliki BI. "Sehingga Permodalan Bank Rekap menjadi sehat," imbuhnya. (bro)
(and)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Membaca Ketahanan Ekonomi...
Membaca Ketahanan Ekonomi RI dalam Dinamika Global Kuartal III 2025
Indonesia Butuh Rp47.587,3...
Indonesia Butuh Rp47.587,3 Triliun untuk Pertumbuhan Ekonomi 8%
Bahaya! Deflasi Hantam...
Bahaya! Deflasi Hantam Ekonomi RI 5 Bulan Beruntun
Prabowo Sering Diejek...
Prabowo Sering Diejek karena Targetkan Pertumbuhan Ekonomi 8%
Pertumbuhan Ekonomi...
Pertumbuhan Ekonomi Sulawesi Selatan Kuartal I Tahun 2024
Dorong Industri Event...
Dorong Industri Event untuk Pertumbuhan Ekonomi Nasional
Berita Terkini
Kenaikan Kurs Dolar...
Kenaikan Kurs Dolar dan Harga Energi Hantam Industri Galangan Kapal Nasional
20 menit yang lalu
Begini Hasil Pertemuan...
Begini Hasil Pertemuan Dasco dan Bos Himbara, Dirut BNI: Fundamental Bagus, Tak Perlu Cemas
39 menit yang lalu
Chatib Basri: Tugas...
Chatib Basri: Tugas Menteri Keuangan Sebetulnya Gampang! Potong, Naikkan, Pinjam
1 jam yang lalu
Dirut Himbara Dikumpulin...
Dirut Himbara Dikumpulin Dasco Bersama Mensesneg, Bahas Apa?
2 jam yang lalu
Free Float 15% Bakal...
Free Float 15% Bakal Kerek Daya Tarik Perusahaan di Mata Investor, Begini Kata BEI
2 jam yang lalu
555 Angkatan Pertama...
555 Angkatan Pertama PNS Otorita IKN Resmi Dilantik, Basuki: Bangun Ibu Kota Nusantara Tak Gampang
3 jam yang lalu
Infografis
5 Fakta Jeffrey Epstein:...
5 Fakta Jeffrey Epstein: dari Guru Tanpa Ijazah hingga Dugaan Agen Mossad
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved