Likuiditas bank tidak seimbang
Selasa, 03 Juli 2012 - 10:29 WIB
Likuiditas bank tidak seimbang
A
A
A
Sindonews.com – Kondisi likuiditas perbankan di Tanah Air masih tidak seimbang dan didominasi bank-bank besar. Alhasil bank kecil bersaing merebutkan dana nasabah dengan menaikkan suku bunga deposito.
Direktur Micro & Retail Banking PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) Budi G Sadikin mengklaim,saat ini hanya ada dua bank besar yang memberikan suku bunga deposito sesuai dengan counter rate Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) di level 5,75 persen. Selebihnya bahkan ada yang memberikan suku bunga deposito 2–3 persen di atas counter rate. Budi berpendapat Bank Indonesia (BI) sudah berupaya menurunkan suku bunga deposito, sehingga diharapkan dapat menekan biaya dana (cost of fund) bank.
Namun, sejauh ini upaya tersebut belum berhasil. Budi menilai sulitnya menurunkan suku bunga deposito ini bukan karena bank-bank berkartel. Justru bank berani memberikan suku bunga deposito tinggi karena mereka kekurangan dana. “Jadi bagaimana mau kartel. Sekarang yang kejadian bukan kartel,itu omongan orang saja. Justru bank-bank kecil menengah itu kekurangan dana, likuiditas itu nggak balance,”ujar Budi di Jakarta baru-baru ini.
Budi mengaku Mandiri cukup beruntung dalam masalah likuiditas. Dukungan cabang ataupun ATM,serta banyaknya nasabah yang menggunakan rekening Bank Mandiri sebagai rekening transactional, membuat banyak nasabah menempatkan dana baik dalam bentuk tabungan dan giro (dana murah).Budi mengaku bahkan pernah kehilangan dana deposito sebesar Rp250 miliar setiap harinya oleh karena penawaran suku bunga deposito di bank lain lebih menarik.
“Tiap hari Rp250 miliar hilang. Mereka pindah kenapa? Karena dikasihnya lebih.Saya punya dana pensiun Mandiri taruh di bank lain, saya tahu bunganya berapa,”tukasnya. Ekonom Divisi Manajemen Risiko LPS Dody Arifianto membenarkan kondisi likuiditas perbankan yang tidak seimbang ini.
Menurut Dody, bunga simpanan yang ditawarkan bank kecil dengan nominal di bawah Rp10 triliun bisa 1,5 persen lebih tinggi daripada bank besar. Selama bank-bank masih tergantung pada DPK yang saat ini 95 persen dari pembiayaan, lanjut Dody, kondisi ini akan bertahan. “Di sisi lain, pasar simpanan juga oligopolis,” ungkap Dody kepada SINDO.
Menurut Dody, jumlah cabang ataupun ATM serta servis yang mumpuni akan berpengaruh terhadap daya saing. Namun, bank-bank yang sudah mencapai level ini, misalnya BCA, BRI, Mandiri, tidak banyak dan hanya sekitar 20-an bank.“Sisanya masih bersaing secara tradisional,”tuturnya Menurut Dody, struktur bank saat ini mestinya dapat dikonsolidasikan lagi.
Dari sekitar 120 bank, menjadi 50–60 sesuai Arsitektur Perbankan Indonesia (API).Untuk kondisi saat ini, kata dia, modal Rp100 miliar terlalu kecil. Banyak bank perkreditan rakyat yang sudah memenuhi modal tersebut. “Menurut saya, minimal Rp1 triliun.”ujarnya. Dengan demikian, bank kecil bisa berkompetisi dengan bank-bank yang besar dengan lebih baik, tidak hanya bermodalkan suku bunga,tetapi juga servis.
Di samping itu, Dody menilai BI dapat juga mengubah pasar dana bank dengan mendorong penggunaan instrumen capital market oleh bank seperti CD,obligasi,MTN sehingga daya tawar bank terhadap deposan besar akan meningkat.
Kepala Divisi Pengembangan Dana & Jasa BCA Ina Suwandi menambahkan,saat ini komposisi dana murah di perseroan mencapai 80 persen, sementara sisanya sekitar 20 persen merupakan deposito dan komposisi deposito ini relatif stabil. Menurut Ina,strategi menjaga dana murah perseroan tetap sama yaitu selalu memberi kemudahan nasabah dalam bertransaksi.
Direktur Micro & Retail Banking PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) Budi G Sadikin mengklaim,saat ini hanya ada dua bank besar yang memberikan suku bunga deposito sesuai dengan counter rate Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) di level 5,75 persen. Selebihnya bahkan ada yang memberikan suku bunga deposito 2–3 persen di atas counter rate. Budi berpendapat Bank Indonesia (BI) sudah berupaya menurunkan suku bunga deposito, sehingga diharapkan dapat menekan biaya dana (cost of fund) bank.
Namun, sejauh ini upaya tersebut belum berhasil. Budi menilai sulitnya menurunkan suku bunga deposito ini bukan karena bank-bank berkartel. Justru bank berani memberikan suku bunga deposito tinggi karena mereka kekurangan dana. “Jadi bagaimana mau kartel. Sekarang yang kejadian bukan kartel,itu omongan orang saja. Justru bank-bank kecil menengah itu kekurangan dana, likuiditas itu nggak balance,”ujar Budi di Jakarta baru-baru ini.
Budi mengaku Mandiri cukup beruntung dalam masalah likuiditas. Dukungan cabang ataupun ATM,serta banyaknya nasabah yang menggunakan rekening Bank Mandiri sebagai rekening transactional, membuat banyak nasabah menempatkan dana baik dalam bentuk tabungan dan giro (dana murah).Budi mengaku bahkan pernah kehilangan dana deposito sebesar Rp250 miliar setiap harinya oleh karena penawaran suku bunga deposito di bank lain lebih menarik.
“Tiap hari Rp250 miliar hilang. Mereka pindah kenapa? Karena dikasihnya lebih.Saya punya dana pensiun Mandiri taruh di bank lain, saya tahu bunganya berapa,”tukasnya. Ekonom Divisi Manajemen Risiko LPS Dody Arifianto membenarkan kondisi likuiditas perbankan yang tidak seimbang ini.
Menurut Dody, bunga simpanan yang ditawarkan bank kecil dengan nominal di bawah Rp10 triliun bisa 1,5 persen lebih tinggi daripada bank besar. Selama bank-bank masih tergantung pada DPK yang saat ini 95 persen dari pembiayaan, lanjut Dody, kondisi ini akan bertahan. “Di sisi lain, pasar simpanan juga oligopolis,” ungkap Dody kepada SINDO.
Menurut Dody, jumlah cabang ataupun ATM serta servis yang mumpuni akan berpengaruh terhadap daya saing. Namun, bank-bank yang sudah mencapai level ini, misalnya BCA, BRI, Mandiri, tidak banyak dan hanya sekitar 20-an bank.“Sisanya masih bersaing secara tradisional,”tuturnya Menurut Dody, struktur bank saat ini mestinya dapat dikonsolidasikan lagi.
Dari sekitar 120 bank, menjadi 50–60 sesuai Arsitektur Perbankan Indonesia (API).Untuk kondisi saat ini, kata dia, modal Rp100 miliar terlalu kecil. Banyak bank perkreditan rakyat yang sudah memenuhi modal tersebut. “Menurut saya, minimal Rp1 triliun.”ujarnya. Dengan demikian, bank kecil bisa berkompetisi dengan bank-bank yang besar dengan lebih baik, tidak hanya bermodalkan suku bunga,tetapi juga servis.
Di samping itu, Dody menilai BI dapat juga mengubah pasar dana bank dengan mendorong penggunaan instrumen capital market oleh bank seperti CD,obligasi,MTN sehingga daya tawar bank terhadap deposan besar akan meningkat.
Kepala Divisi Pengembangan Dana & Jasa BCA Ina Suwandi menambahkan,saat ini komposisi dana murah di perseroan mencapai 80 persen, sementara sisanya sekitar 20 persen merupakan deposito dan komposisi deposito ini relatif stabil. Menurut Ina,strategi menjaga dana murah perseroan tetap sama yaitu selalu memberi kemudahan nasabah dalam bertransaksi.
(and)
Lihat Juga :