Asumsi makro berpotensi meleset
Jum'at, 06 Juli 2012 - 10:19 WIB
Asumsi makro berpotensi meleset
A
A
A
Sindonews.com – Sejumlah asumsi makro berpotensi meleset dari perkiraan yang ditetapkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBN-P) 2012.
Dari enam asumsi makro yang ditetapkan dalam APBN-P 2012 yakni pertumbuhan ekonomi,inflasi,suku bunga Surat Perbendaharaan Negara (SPN) 3 bulan, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS), harga minyak, serta lifting minyak, hanya inflasi yang realisasinya diprediksi lebih bagus dari perkiraan awal. Bila pada APBN-P 2012 inflasi ditetapkan sebesar 6,8 persen, realisasi inflasi hingga akhir tahun diperkirakan hanya 4,8 persen.
Inflasi yang jauh lebih rendah ini tidak bisa dilepaskan dari kebijakan pemerintah yang menangguhkan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). “Inflasi pada semester II diperkirakan mencapai 3,79 persen atau lebih rendah dari semester I yang mencapai 5,54 persen. Inflasi sampai akhir tahun adalah 4,5 persen plus minus satu dengan kisaran berada di 4,8 persen,” tutur Menteri Keuangan Agus Martowardojo, di Kompleks Parlemen Senayan,Jakarta kemarin.
Agus Marto memperkirakan, pertumbuhan berada di level 6,3–6,5 persen atau masih dalam level yang diperkirakan APBNP yakni 6,5 persen. Mantan Dirut Bank Mandiri tersebut meyakini, pertumbuhan di semester II mencapai 6,5 persen atau sedikit lebih baik daripada semester I yang hanya 6,4 persen. Agus mengingatkan, kondisi perekonomian dunia yang belum juga membaik masih menekan pertumbuhan ekonomi di semester II.
Namun,tren masih cukup tingginya pertumbuhan ekonomi diperkirakan tetap berlanjut. Secara umum, pada kuartal II tahun 2012,sebagian besar sektor diperkirakan meningkat sehingga mendorong pertumbuhan ke tingkat yang lebih tinggi. “Kita lihat outlook akan ada di kisaran 6,3–6,5 persen dan hal itu sudah memperhitungkan kondisi ekonomi dunia yang telah lalu 4,4 persen, sekarang jadi 3,5 persen. Kita juga melihat bahwa ada dampak ke Indonesia melalui jalur perdagangan dan keuangan, itu bisa berdampak ke Indonesia,” imbuhnya.
Asumsi makro yang hampir pasti meleset adalah lifting minyak. Sampai pada Mei 2012, realisasi lifting hanya mencapai 877.300 barel per hari atau sedikit lebih rendah bila dibandingkan dengan realisasi semester I/2011 sebesar 879 ribu barel per hari. Sementara, pada semester II/2012 diprediksi hanya 923 ribu barel per hari.Hingga akhir tahun lifting minyak diperkirakan berada pada level 900 ribu barel/ hari.
Pencapaian ini jauh di bawah target yang ditetapkan dalam APBN-P 2012 sebesar 930 ribu per barel. Beberapa faktor yang menyebabkan rendahnya realisasi lifting antara lain permasalahan teknis yang terkait dengan adanya peningkatan kadar air,usia sumur-sumur migas yang sudah tua, dan beberapa produksi awal dari beberapa kontraktor yang mengalami kemunduran.
Masalah cuaca dan kurangnya ketersediaan kapal pengangkut juga turut mengganggu proses pencapaian target lifting minyak. “Untuk ICP (Indonesia crude price/harga minyak mentah Indonesia), pada tahun ini diperkirakan pada kisaran USD110 per barel atau di atas asumsi APBN-P 2012 USD105 per barel,”tambah Agus. Asumsi lain yang diprediksi meleset adalah suku bunga Surat Perbendaharaan Negara (SPN) 3 bulan (%).
Pemerintah memperkirakan bahwa suku bunga SPN 3 bulan hingga akhir tahun berada pada level 3,9 persen atau jauh di bawah prediksi awal 5,6%. Seperti Semester I, suku bunga SPN 3 bulan pada Semester II masih akan mengalami tekanan terutama karena melambatnya aliran modal yang masuk ke dalam negeri.
Untuk nilai tukar rupiah, pemerintah memprediksi bahwa rata-rata nilai tukar rupiah sampai akhir tahun akan berada pada besaran Rp9.250 per dolar AS.Nilai tukar rupiah ini sedikit masih berada dalam kisaran yang diperkirakan Bank Indonesia (BI) yaitu Rp9.100–9.300 per dolar AS. Gubernur BI Darmin Nasution meyakini bahwa tekanan pada rupiah pada semester II akan mereda seiring dengan langkah perbaikan di negara-negara Eropa.
“Kami memperkirakan, tekanan pada nilai tukar akan sedikit mereda pada paruh II tahun 2012 karena sebetulnya sudah terlihat gambaran perbaikan di Eropa walaupun masih perlu waktu,”ujarnya.
Dari enam asumsi makro yang ditetapkan dalam APBN-P 2012 yakni pertumbuhan ekonomi,inflasi,suku bunga Surat Perbendaharaan Negara (SPN) 3 bulan, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS), harga minyak, serta lifting minyak, hanya inflasi yang realisasinya diprediksi lebih bagus dari perkiraan awal. Bila pada APBN-P 2012 inflasi ditetapkan sebesar 6,8 persen, realisasi inflasi hingga akhir tahun diperkirakan hanya 4,8 persen.
Inflasi yang jauh lebih rendah ini tidak bisa dilepaskan dari kebijakan pemerintah yang menangguhkan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). “Inflasi pada semester II diperkirakan mencapai 3,79 persen atau lebih rendah dari semester I yang mencapai 5,54 persen. Inflasi sampai akhir tahun adalah 4,5 persen plus minus satu dengan kisaran berada di 4,8 persen,” tutur Menteri Keuangan Agus Martowardojo, di Kompleks Parlemen Senayan,Jakarta kemarin.
Agus Marto memperkirakan, pertumbuhan berada di level 6,3–6,5 persen atau masih dalam level yang diperkirakan APBNP yakni 6,5 persen. Mantan Dirut Bank Mandiri tersebut meyakini, pertumbuhan di semester II mencapai 6,5 persen atau sedikit lebih baik daripada semester I yang hanya 6,4 persen. Agus mengingatkan, kondisi perekonomian dunia yang belum juga membaik masih menekan pertumbuhan ekonomi di semester II.
Namun,tren masih cukup tingginya pertumbuhan ekonomi diperkirakan tetap berlanjut. Secara umum, pada kuartal II tahun 2012,sebagian besar sektor diperkirakan meningkat sehingga mendorong pertumbuhan ke tingkat yang lebih tinggi. “Kita lihat outlook akan ada di kisaran 6,3–6,5 persen dan hal itu sudah memperhitungkan kondisi ekonomi dunia yang telah lalu 4,4 persen, sekarang jadi 3,5 persen. Kita juga melihat bahwa ada dampak ke Indonesia melalui jalur perdagangan dan keuangan, itu bisa berdampak ke Indonesia,” imbuhnya.
Asumsi makro yang hampir pasti meleset adalah lifting minyak. Sampai pada Mei 2012, realisasi lifting hanya mencapai 877.300 barel per hari atau sedikit lebih rendah bila dibandingkan dengan realisasi semester I/2011 sebesar 879 ribu barel per hari. Sementara, pada semester II/2012 diprediksi hanya 923 ribu barel per hari.Hingga akhir tahun lifting minyak diperkirakan berada pada level 900 ribu barel/ hari.
Pencapaian ini jauh di bawah target yang ditetapkan dalam APBN-P 2012 sebesar 930 ribu per barel. Beberapa faktor yang menyebabkan rendahnya realisasi lifting antara lain permasalahan teknis yang terkait dengan adanya peningkatan kadar air,usia sumur-sumur migas yang sudah tua, dan beberapa produksi awal dari beberapa kontraktor yang mengalami kemunduran.
Masalah cuaca dan kurangnya ketersediaan kapal pengangkut juga turut mengganggu proses pencapaian target lifting minyak. “Untuk ICP (Indonesia crude price/harga minyak mentah Indonesia), pada tahun ini diperkirakan pada kisaran USD110 per barel atau di atas asumsi APBN-P 2012 USD105 per barel,”tambah Agus. Asumsi lain yang diprediksi meleset adalah suku bunga Surat Perbendaharaan Negara (SPN) 3 bulan (%).
Pemerintah memperkirakan bahwa suku bunga SPN 3 bulan hingga akhir tahun berada pada level 3,9 persen atau jauh di bawah prediksi awal 5,6%. Seperti Semester I, suku bunga SPN 3 bulan pada Semester II masih akan mengalami tekanan terutama karena melambatnya aliran modal yang masuk ke dalam negeri.
Untuk nilai tukar rupiah, pemerintah memprediksi bahwa rata-rata nilai tukar rupiah sampai akhir tahun akan berada pada besaran Rp9.250 per dolar AS.Nilai tukar rupiah ini sedikit masih berada dalam kisaran yang diperkirakan Bank Indonesia (BI) yaitu Rp9.100–9.300 per dolar AS. Gubernur BI Darmin Nasution meyakini bahwa tekanan pada rupiah pada semester II akan mereda seiring dengan langkah perbaikan di negara-negara Eropa.
“Kami memperkirakan, tekanan pada nilai tukar akan sedikit mereda pada paruh II tahun 2012 karena sebetulnya sudah terlihat gambaran perbaikan di Eropa walaupun masih perlu waktu,”ujarnya.
(and)
Lihat Juga :