Merak macet, kerugian Rp1,8 M
Sabtu, 07 Juli 2012 - 11:37 WIB
Merak macet, kerugian Rp1,8 M
A
A
A
Sindonews.com - Organisasi Pengusaha Angkutan Darat (Organda) mengaku merugi hingga Rp1,8 miliar per hari akibat antrean truk angkutan barang di Pelabuhan Merak, Banten. Kemarin, Jumat 6 Juli 2012, kemacetan truk telah mencapai 16 km.
Ketua Umum DPP Organda Eka Sari Lorena mengatakan, akibat antrean tersebut, biaya operasional ikut menggelembung. Butuh waktu tiga hari agar truk-truk tersebut bisa menyeberang ke Pelabuhan Bakauheni, Lampung.
”Ada 2.000 truk tertahan.Jika harus membiayai uang makan sopir dan kernet Rp200.000, maka total biaya makan saja Rp400 juta per hari, belum lagi kehilangan ritase, pemborosan BBM, dan lain-lain,” kata Eka di Jakarta kemarin.
Menurutnya, pengaturan yang dilakukan PT Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan (ASDP) harus lebih transparan, berani melakukan terobosan, dan berpikir kompetitif untuk mengatasi antrean.
”Kita semua berharap masalah klasik ini benar-benar ada solusi konkret walaupun kita tahu tidak bisa langsung selesai. Namun, terlihat ada proses perbaikan yang mengarah pada keberpihakan terhadap industri distribusi barang angkutan darat yang merupakan backbone penting dalam kegiatan ekonomi negara kita,” jelasnya.
Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan (Kemenhub) Suroyo Alimoeso menyatakan, truk-truk yang mengalami antrean di Cikuasa, Cilegon, diarahkan menuju Pelabuhan Indah Kiat. Suroyo berharap besok kemacetan bisa teratasi. ”Pelabuhan Indah Kiat memiliki lahan luas yang bisa digunakan untuk parkir sementara truk,” kata Suroyo.
Menurutnya, truk-truk yang saat ini sudah berada di Pelabuhan Merak mendapat prioritas untuk diseberangkan, sedangkan untuk truktruk yang masih berada di Cikuasa akan diarahkan masuk ke Pelabuhan Indah Kiat. ”Polda Banten meminta mobil-mobil pribadi dibatasi agar antrean truk bisa cepat teratasi,” tambahnya.
Untuk mengantisipasi kemacetan menuju Pelabuhan Merak, menurut Suroyo, jumlah trip tiap kapal harus diperhatikan. Jika 20 kapal menjalankan minimum empat trip, ada 80 trip dalam 24 jam.
Namun dia belum bisa memastikan apakah setiap kapal tersebut memang menjalankan minimal empat trip. Jika ada 24 kapal dengan minimal empat trip, Suroyo yakin kemacetan akan teratasi.
”Diperkirakan hari ini (kemarin) jumlah kapal yang beroperasi mencapai 25 kapal. Jumlah tersebut termasuk dua kapal yang sebelumnya docking serta tambahan satu kapal lain,” lanjutnya.
Dari pantauan di lapangan, antrean truk semakin tidak terkendali. Kemacetan sudah mencapai panjang 16 km dari sebelumnya 15 km. General Manager PT ASDP Indonesia Ferry Cabang Utama Merak Supriyono mengakui antrean terjadi akibat kekurangan kapal. Dari 40 kapal yang ada di Pelabuhan Merak, baru 27 kapal yang bisa beroperasi.
Ketua Umum DPP Organda Eka Sari Lorena mengatakan, akibat antrean tersebut, biaya operasional ikut menggelembung. Butuh waktu tiga hari agar truk-truk tersebut bisa menyeberang ke Pelabuhan Bakauheni, Lampung.
”Ada 2.000 truk tertahan.Jika harus membiayai uang makan sopir dan kernet Rp200.000, maka total biaya makan saja Rp400 juta per hari, belum lagi kehilangan ritase, pemborosan BBM, dan lain-lain,” kata Eka di Jakarta kemarin.
Menurutnya, pengaturan yang dilakukan PT Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan (ASDP) harus lebih transparan, berani melakukan terobosan, dan berpikir kompetitif untuk mengatasi antrean.
”Kita semua berharap masalah klasik ini benar-benar ada solusi konkret walaupun kita tahu tidak bisa langsung selesai. Namun, terlihat ada proses perbaikan yang mengarah pada keberpihakan terhadap industri distribusi barang angkutan darat yang merupakan backbone penting dalam kegiatan ekonomi negara kita,” jelasnya.
Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan (Kemenhub) Suroyo Alimoeso menyatakan, truk-truk yang mengalami antrean di Cikuasa, Cilegon, diarahkan menuju Pelabuhan Indah Kiat. Suroyo berharap besok kemacetan bisa teratasi. ”Pelabuhan Indah Kiat memiliki lahan luas yang bisa digunakan untuk parkir sementara truk,” kata Suroyo.
Menurutnya, truk-truk yang saat ini sudah berada di Pelabuhan Merak mendapat prioritas untuk diseberangkan, sedangkan untuk truktruk yang masih berada di Cikuasa akan diarahkan masuk ke Pelabuhan Indah Kiat. ”Polda Banten meminta mobil-mobil pribadi dibatasi agar antrean truk bisa cepat teratasi,” tambahnya.
Untuk mengantisipasi kemacetan menuju Pelabuhan Merak, menurut Suroyo, jumlah trip tiap kapal harus diperhatikan. Jika 20 kapal menjalankan minimum empat trip, ada 80 trip dalam 24 jam.
Namun dia belum bisa memastikan apakah setiap kapal tersebut memang menjalankan minimal empat trip. Jika ada 24 kapal dengan minimal empat trip, Suroyo yakin kemacetan akan teratasi.
”Diperkirakan hari ini (kemarin) jumlah kapal yang beroperasi mencapai 25 kapal. Jumlah tersebut termasuk dua kapal yang sebelumnya docking serta tambahan satu kapal lain,” lanjutnya.
Dari pantauan di lapangan, antrean truk semakin tidak terkendali. Kemacetan sudah mencapai panjang 16 km dari sebelumnya 15 km. General Manager PT ASDP Indonesia Ferry Cabang Utama Merak Supriyono mengakui antrean terjadi akibat kekurangan kapal. Dari 40 kapal yang ada di Pelabuhan Merak, baru 27 kapal yang bisa beroperasi.
(gpr)
Lihat Juga :