BBM ke Kalbar terhambat hingga Agustus
Minggu, 08 Juli 2012 - 12:30 WIB
BBM ke Kalbar terhambat hingga Agustus
A
A
A
Sindonews.com - PT Pertamina (Persero) mengakui adanya hambatan kelancaran distribusi Bahan Bakar Minyak (BBM) di Kalimantan Barat hingga Agustus kedepan. Hambatan tersebut disebabkan kondisi musim kemarau yang terjadi dari Mei lalu dan dan minimnya infrastruktur untuk salurkan BBM sampai ke tangan masyarakat.
Direktur Pemasaran dan Niaga Pertamina Hanung Budya menjelaskan, dari Mei hingga Agustus kedepan, aliran Sungai Kapuas di Kabupaten Sintang ketinggiannya menyusut drastis. Pada kondisi normal, ketinggian air sungai tersebut bisa mencapai 8-11 meter, namun ketika musim kemarau tiba ketinggian air surut hingga menjadi 40 centimeter saja sehingga tidak bisa dilalui SPOB (Self Propelled Oil Barge).
"Kondisi seperti ini dulu kejadiannya hanya 3 atau 4 tahun sekali. Tapi, 3 tahun terakhir surutnya air terjadi setiap tahun di musim kemarau," ujar Hanung, dalam keterangan tertulisnya kepada Sindonews, Minggu (8/7/2012).
Mengatasi hal itu, Hanung menuturkan Pertamina merogoh biaya sekitar Rp2-3 miliar per bulan untuk mempercepat penyaluran distribusi BBM.
Kemudian, Hanung melanjutkan, akan ada pengalihan distribusi BBM dengan memompa BBM dari kapal SPOB ke truk tangki di daerah Sanggau yang berjarak 97 km dari Sintang dan membawa pasokan BBM melalui jalan darat. Selain proses distribusi memakan waktu yang lebih lama, infrastruktur jalan yang dilalui juga sangat buruk.
"Terminal BBM Pontianak ke Terminal Sintang berjarak 514 km dan jalur paling mudah dan efisien adalah melalui Sungai Kapuas. Dengan pola ini biaya tambahan yang harus dikeluarkan Pertamina jika debit air (Sungai Kapuas) berkurang adalah sekitar Rp2-3 miliar per bulan," pungkasnya. (mai)
Direktur Pemasaran dan Niaga Pertamina Hanung Budya menjelaskan, dari Mei hingga Agustus kedepan, aliran Sungai Kapuas di Kabupaten Sintang ketinggiannya menyusut drastis. Pada kondisi normal, ketinggian air sungai tersebut bisa mencapai 8-11 meter, namun ketika musim kemarau tiba ketinggian air surut hingga menjadi 40 centimeter saja sehingga tidak bisa dilalui SPOB (Self Propelled Oil Barge).
"Kondisi seperti ini dulu kejadiannya hanya 3 atau 4 tahun sekali. Tapi, 3 tahun terakhir surutnya air terjadi setiap tahun di musim kemarau," ujar Hanung, dalam keterangan tertulisnya kepada Sindonews, Minggu (8/7/2012).
Mengatasi hal itu, Hanung menuturkan Pertamina merogoh biaya sekitar Rp2-3 miliar per bulan untuk mempercepat penyaluran distribusi BBM.
Kemudian, Hanung melanjutkan, akan ada pengalihan distribusi BBM dengan memompa BBM dari kapal SPOB ke truk tangki di daerah Sanggau yang berjarak 97 km dari Sintang dan membawa pasokan BBM melalui jalan darat. Selain proses distribusi memakan waktu yang lebih lama, infrastruktur jalan yang dilalui juga sangat buruk.
"Terminal BBM Pontianak ke Terminal Sintang berjarak 514 km dan jalur paling mudah dan efisien adalah melalui Sungai Kapuas. Dengan pola ini biaya tambahan yang harus dikeluarkan Pertamina jika debit air (Sungai Kapuas) berkurang adalah sekitar Rp2-3 miliar per bulan," pungkasnya. (mai)
(and)
Lihat Juga :