Pendapatan asuransi jiwa Rp33,1 T
Selasa, 10 Juli 2012 - 11:08 WIB
Pendapatan asuransi jiwa Rp33,1 T
A
A
A
Sindonews.com - Asosiasi Industri Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) mencatat total pendapatan industri asuransi jiwa nasional pada kuartal I/2012 mencapai Rp33,1 triliun. Jumlah tersebut naik 37 persen dibandingkan kuartal I/2011 Rp24,1 triliun.
Ketua Umum AAJI Hendrisman Rahim mengatakan, pendapatan tersebut terkumpul dari 44 perusahaan asuransi jiwa anggota AAJI. Dari total pendapatan kuartal I/2012, porsi pendapatan premi masih menjadi yang terbesar yakni Rp24,3 triliun, tumbuh 14,8 persen dari posisi periode yang sama tahun lalu Rp21,1 triliun.
“Sisanya disumbang oleh hasil investasi kuartal 1/2012 sebesar Rp8,3 triliun, klaim reasuransi Rp337,1 miliar, dan pendapatan lain-lain sebesar Rp151,1 miliar,” ujar Hendrisman pada konferensi pers Kinerja Asuransi Jiwa Nasional Kuartal I/2012 di Jakarta, Senin 9 Juli 2012.
Dia menyampaikan, pendapatan premi produksi baru (new business premium) pada kuartal I/2012 mencapai Rp16,6 triliun, meningkat 12,1 persen jika dibandingkan dengan kuartal I/2011 yang Rp14,8 triliun.
Dari angka tersebut, premi tradisional tetap mempertahankan pertumbuhannya dengan menyumbang premi baru sebesar Rp8,8 triliun, meningkat hingga 58 persen jika dibanding dengan kuartal I/2011 sebesar Rp5,5 triliun.
Sementara, unitlink di new bussines mencatat penurunan hingga 15,2 persen, dari posisi Rp9,2 triliun di kuartal I/2011 menjadi Rp7,8 triliun di periode yang sama tahun ini. “Hal ini disebabkan oleh penurunan penjualan produk unitlink premi tunggal, sementara produk unitlinkpremi reguler masih mengalami pertumbuhan,” katanya.
Menariknya, lanjut dia, sepanjang kuartal I/2012 total klaim yang dibayarkan asuransi jiwa nasional tercatat Rp14,5 triliun atau meningkat 27,2 persen dibandingkan periode yang sama 2011 yang sebesar Rp11.4 triliun.
”Jadi, industri asuransi tidak hanya rajin meraup premi dari nasabah, tetapi juga memenuhi kewajibannya jika ada klaim yang diajukan. Bahkan, berdasarkan data kuartal I/2012, total klaim yang dibayarkan melebihi separuh dari raihan premi di periode yang sama. Klaim yang dibayar sebesar Rp14.5 triliun atau sekitar 59,8 persen dari pendapatan premi yang mencapai Rp24,3 triliun,” paparnya.
Mengenai adanya penurunan penjualan unitlink, Ketua Bidang Operasional dan Administrasi AAJI Eddy KA Berutu mengatakan, industri asuransi selalu menyesuaikan diri dengan kebutuhan pasar. Biasanya ada perubahan tren di setiap periode (kuartal). Saat ini terlihat ada orientasi kembali ke proteksi murni, sehingga terlihat dari adanya peningkatan yang signifikan di new businessuntuk premi tradisional.
Menurut Eddy, dalam perkembangan awal pasar modal, ada penabung yang beralih ke pasar modal, mengingat ada begitu banyak perusahaan yang melalukan IPO (initial public offering).
Di sini industri asuransi pun mulai menawarkan unitlink, yang notabene sebagai produk asuransi yang juga ada investasinya.
“Ini menjadi tren yang baik karena banyak aset yang dimiliki perusahaan asuransi memberikan kontribusi tersendiri bagi perkembangan pasar modal dan perekonomian secara umum. Tetapi, di sisi lain juga ada kesadaran masyarakat untuk berasuransi,apalagi ada produk yang ditawarkan disertakan investasi yang menjanjikan returntinggi,” kata Eddy.
Sementara, Direktur Eksekutif AAJI Benny Waworuntu menambahkan, dari sisi keagenan, AAJi tetap menargetkan di 2014 nanti telah terdata 500.000 agen berlisensi. Saat ini agen berlisensi sudah mencapai 290.000 agen. Target pertumbuhan agen hingga 2014 ini menegaskan bahwa industri asuransi jiwa tetap mengandalkan agen sebagai jalur distribusi utama.
Ketua Umum AAJI Hendrisman Rahim mengatakan, pendapatan tersebut terkumpul dari 44 perusahaan asuransi jiwa anggota AAJI. Dari total pendapatan kuartal I/2012, porsi pendapatan premi masih menjadi yang terbesar yakni Rp24,3 triliun, tumbuh 14,8 persen dari posisi periode yang sama tahun lalu Rp21,1 triliun.
“Sisanya disumbang oleh hasil investasi kuartal 1/2012 sebesar Rp8,3 triliun, klaim reasuransi Rp337,1 miliar, dan pendapatan lain-lain sebesar Rp151,1 miliar,” ujar Hendrisman pada konferensi pers Kinerja Asuransi Jiwa Nasional Kuartal I/2012 di Jakarta, Senin 9 Juli 2012.
Dia menyampaikan, pendapatan premi produksi baru (new business premium) pada kuartal I/2012 mencapai Rp16,6 triliun, meningkat 12,1 persen jika dibandingkan dengan kuartal I/2011 yang Rp14,8 triliun.
Dari angka tersebut, premi tradisional tetap mempertahankan pertumbuhannya dengan menyumbang premi baru sebesar Rp8,8 triliun, meningkat hingga 58 persen jika dibanding dengan kuartal I/2011 sebesar Rp5,5 triliun.
Sementara, unitlink di new bussines mencatat penurunan hingga 15,2 persen, dari posisi Rp9,2 triliun di kuartal I/2011 menjadi Rp7,8 triliun di periode yang sama tahun ini. “Hal ini disebabkan oleh penurunan penjualan produk unitlink premi tunggal, sementara produk unitlinkpremi reguler masih mengalami pertumbuhan,” katanya.
Menariknya, lanjut dia, sepanjang kuartal I/2012 total klaim yang dibayarkan asuransi jiwa nasional tercatat Rp14,5 triliun atau meningkat 27,2 persen dibandingkan periode yang sama 2011 yang sebesar Rp11.4 triliun.
”Jadi, industri asuransi tidak hanya rajin meraup premi dari nasabah, tetapi juga memenuhi kewajibannya jika ada klaim yang diajukan. Bahkan, berdasarkan data kuartal I/2012, total klaim yang dibayarkan melebihi separuh dari raihan premi di periode yang sama. Klaim yang dibayar sebesar Rp14.5 triliun atau sekitar 59,8 persen dari pendapatan premi yang mencapai Rp24,3 triliun,” paparnya.
Mengenai adanya penurunan penjualan unitlink, Ketua Bidang Operasional dan Administrasi AAJI Eddy KA Berutu mengatakan, industri asuransi selalu menyesuaikan diri dengan kebutuhan pasar. Biasanya ada perubahan tren di setiap periode (kuartal). Saat ini terlihat ada orientasi kembali ke proteksi murni, sehingga terlihat dari adanya peningkatan yang signifikan di new businessuntuk premi tradisional.
Menurut Eddy, dalam perkembangan awal pasar modal, ada penabung yang beralih ke pasar modal, mengingat ada begitu banyak perusahaan yang melalukan IPO (initial public offering).
Di sini industri asuransi pun mulai menawarkan unitlink, yang notabene sebagai produk asuransi yang juga ada investasinya.
“Ini menjadi tren yang baik karena banyak aset yang dimiliki perusahaan asuransi memberikan kontribusi tersendiri bagi perkembangan pasar modal dan perekonomian secara umum. Tetapi, di sisi lain juga ada kesadaran masyarakat untuk berasuransi,apalagi ada produk yang ditawarkan disertakan investasi yang menjanjikan returntinggi,” kata Eddy.
Sementara, Direktur Eksekutif AAJI Benny Waworuntu menambahkan, dari sisi keagenan, AAJi tetap menargetkan di 2014 nanti telah terdata 500.000 agen berlisensi. Saat ini agen berlisensi sudah mencapai 290.000 agen. Target pertumbuhan agen hingga 2014 ini menegaskan bahwa industri asuransi jiwa tetap mengandalkan agen sebagai jalur distribusi utama.
(gpr)
Lihat Juga :